Sorot
Maling Teriak Maling
KARUT marut kasus catut nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) semakin hari semakin kusut.
Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Dedy Herdiana
MENDENGAR ungkapan 'maling' pada judul di atas terus terang membuat penulis geli sendiri.
Tidak sampai terkekeh. Tertawa dalam hati karena bercampur kesedihan yang mendalam.
Betapa tidak, karut marut kasus catut nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) semakin hari semakin kusut.
Bukannya berbuntut panjang lagi, karena sebagai masyarakat awam selama ini berbagai hal yang mengemuka di Republik Indonesia tercinta ini tidak pernah ada ujungnya.
Pro-kontra. Bak sebuah episode sinetron stripping yang biar ramai dan panas terus, jadi skenarionya dipanjang-panjangin. Bermain cantik.
Semua pihak semestinya mendukung pengungkapan kasus yang menjerat Ketua DPR, Setya Novanto yang akrab dipanggil Setnov ini.
Sebaliknya, yang terjadi saat ini adalah kegaduhan politik akibat aksi saling tuding.
Setnov diduga memeras PT Freeport Indonesia (FI), dengan mencatut nama Jokowi.
Kasus ini dilaporkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said (SuS) ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).
Terlepas dari apakah SuS dan jajaran pemerintah lain punya dosa terkait FI, yang jelas Setnov sudah mengakui pertemuan dengan bos FI, seperti yang dilaporkan.
Harus didalami apakah betul Setnov memeras dan mencatut seperti yang dituduhkan.
Bila menelisik lebih jauh, maling yang sebenarnya siapa, publik sebenarnya sudah mengetahuinya.
Minimal, bau-baunya sudah tercium. Sinetron apalagi yang tengah dipertontonkan kali ini.
Padahal, jelas-jelas masyarakat demikian cerdas untuk mencerna sesuatu yang kusut sekalipun.
Begini. Kita ketahui rekaman itu sudah lama dimiliki Sus dan baru dilaporkan setelah Jokowi kembali dari AS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/tribun-jabardicky-fadiar-djuhud_20151201_081804.jpg)