Cerpen Beni Setia

Gerimis Buram

RAISA memakai taksi. Aku tak mengerti ketika mobil itu berhenti di tepi jalan, ketika perlahan pintunya terbuka...

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi cerpen Gerimis Buram 

**

TERKADANG aku bubar kerja dengan kepastian Raisa berada di X, menunggui buat kencan, dan (pada saat itu) kami akan bercerita sangat banyak tentang segala hal. Dan seperti sekarang ini, meskipun gerimis—sedang hujan sejak petang: Raisa tetap memaksa diri menemuiku, dengan menyewa taksi serta berpayung sepuluh langkah di sebelum masuk kafé. Berjalan santai. Tersenyum dan mengecup pipiku—"Kamu sudah pesan apaan?" katanya. Aku menunjuk cokelat panas dan sisa dari sandwitch lamusir—aku ingin makan besar tapi tidak ingin ketemu nasi, dan sekarang ini menunggu steak tiba. Raisa menggeleng. Memperingatkan dan sekaligus melarang. Aku diam saja.

Aku tersenyum—hanya tersenyum, meski untuk diri sendiri. Bilang, pesanan itu tidak akan dimakan, dan mungkin khusus disediakan untuk Raisa. Raisa tertawa. Aku tahu Raisa tidak pernah menyentuhnya, bahkan tak juga minum, dan karenanya aku yang nanti akan menghabiskannya. Lantas kekenyangan, dan pulang dengan setengah sesak dan mengantuk. "Hati-hati," kata Raisa—dengan berkali-kali meneleponku, setengah mengecek, sehingga tidak hilang kesadaran di jalan meski tergesa kebelet ke kamar kecil. "Kenapa kita tak menikah saja, Raisa?" kataku—berkali. Raisa tertawa.

"Kamu itu amat menarik, amat memikat, dan tak mungkin dilepaskan," katanya, "tapi aku tidak mungkin menikah denganmu." Aku terpejam—telepon berdering di dalam ingatan, dan terkadang ia menyentuhkan tangannya sambil bilang, agar aku ini berhati-hati karena sedang menyopir, dan belum sampai di rumah. "Mandi air hangat dan segeralah tidur. Istirahat," katanya. Aku menghidupkan radio mobil, dan membiarkan sembarang stasion radio tampil menyeruak, sembarang penyiar berbicara tentang apa saja, serta sembarangan penyanyi menyanyikan lagu apa saja. Aku tahu: aku hanya sendiri, sangat kesepian, dan membutuhkan teman. Karena itu Raisa menemuiku—dan menenemaniku—sambil berkali-kali menyuruh aku agar menjemput Rina, membawa Tosan—anak kami—dan berdamai agar rumah tangga kami utuh lagi.

Tapi untuk apa? Apa untungnya?

**

GERIMIS masih turun. Kaca-kaca kafé memburam, dan ketika beberapa titik embun mencair dan meleleh membuat garis yang memecah keburaman itu, aku hanya melihat pekarangan parkir yang basah dan terus dibasahi oleh si untaian gerimis dari langit muram. Aku minta kopi—dan bon. Menghabiskannya, dan akhirnya beranjak ke luar. Lari ke arah mobil—menolak dikawal dan dipayungi. Menyalakan mobil, dan—ini awalnya—kembali berharap Rina menelepon. Tapi Rina tak menelepon—bahkan untuk sekadar mengabarkan ihwal Tosan—karenanya aku teringat Raisa, berpaling kepada Raisa, serta Raisa pun tiba-tiba menemaniku pulang—atau hanya menelepon ke dalam ingatan dan bergaung dalam ingatan. Senantiasa.

Dan bila nanti Raisa pun pergi, aku akan hidup dengan siapa? Aku tersisak.

***

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved