Cerpen Beni Setia

Gerimis Buram

RAISA memakai taksi. Aku tak mengerti ketika mobil itu berhenti di tepi jalan, ketika perlahan pintunya terbuka...

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi cerpen Gerimis Buram 

RAISA memakai taksi. Aku tak mengerti ketika mobil itu berhenti di tepi jalan, ketika perlahan pintunya terbuka—mungkin argonya dibayar dahulu—saat sebilah payung tertutup menusuk kekosongan, lantas terbuka: mengaling siapa yang akan ke luar setelah kaki terjulur mau jejak. Ketika payung ditegakkan buat mengayomi diri dari gerimis, dan ketika pintu ditutup itu baru mengerti: itu Raisa. Apakah sedemikian rindunya ia kepadaku sehingga melawan hujan yang turun sejak sore tadi?

Ia tetap langsing, dengan kaki jenjangnya dibungkus legging merah, dengan rok pendek hitam dan blouse putih longgar—yang tertutup oleh jaket merah tak dikancing. Hanya memakai sepatu berhak datar. Santai, tak peduli ketika melangkah ke teras, ke pintu kafé dan mendorongnya, agar bisa bebas masuk—setelah menguncupkan payung serta menyandarkannya di dinding. Tetap santai—tidak peduli—seperti biasanya. Dan aku menarik napas panjang. Ya lega ya terbebani—karena aku tak bisa lari dari Raisa. Aku tak mungkin membebaskan diri dari Raisa lagi. Pasti. Dan kini, haruskah aku ini mendatanginya, atau sekadar melambaikan tangan agar Raisa mendekat?

**

TIDAK banyak tamu di ruangan—hanya denting instrumentalia piano yang kuat, meski suaranya dipasang samar. Itu Diana Kroll, yang mengingatkan kami kepada kencan sebelum ini. Tapi bukan yang terakhir yang tidak di kafé ini, tapi juga bukan si salah satu dari pertemuan- pertemuan sebelumnya, meski pada awal-awal kencan kami pernah berjanji bertemu di kafé ini. Di dalam ketenangan dan personalitas yang makin kuat saat dihiasi dengan aura instrumentalia piano. Khidmat dan senyap menikmati croissant serta milkshake dengan bius alunan lembut Diana Kroll. Kapankah itu?

"Kita tak terburu-buru, kan?" katanya—memotong croissant, menyuapkan cuilan kecil itu sambil menyimak cerita yang disampaikan, sabar menikmati momentum—tak tergesa. Apa yang diceritakan saat itu? Aku tak ingat. Dan ketika mengingat semua itu Raisa telah buka buku menu dan memesan pisang bakar keju dengan segelas cokelat panas—setelah kembali duduk di kursi di mana dulu kami berkencan. Jauh di pojokan, teraling tiang karena takut tiba-tiba ada kenalan masuk, dan meniupkan cerita tentang kencan kami—sehingga Rina tahu dan aku terdorong dalam perceraian konkret.

Tapi bukankah aku sendiri yang membuka diri buat digoda dan tidak pernah ada sekalipun menggoda Raisa—selain sekuat tenaga mengingatnya lagi? Tapi siapakah yang tahu akan jati diri Raisa? Dan bukankah Raisa hanya ada dalam pikiranku saja?

**

LIMA belas tahun lalu kami satu SMA—bahkan satu kelompok belajar dan tidak hanya satu kelas di kelas 3—Jurusan Sosial. Ia sangat pandai Akuntansi dan karenanya selalu menjadi anggota inti kalau kami menyelesaikan tugas serta PR Akuntansi—dan karena itu kami menebaknya akan jadi akuntan nan jempolan, baik lulus dari STAN maupun hanya Fakultas Ekonomi di sembarang PT. Tapi, sebulan seusai ujian, ayahnya diketahui korupsi. Ditangkap dan dimasukkan ke rumah tahanan. Rumahnya disita kejaksaan dan ia menghilang entah pergi ke mana—sampai kini ijazah SMA-nya tak diambil, seakan-akan tak punya nyali buat sekadar mengambil yang telah jadi haknya. Apakah menjadi anak koruptor yang ketahuan itu memang memalukan?

Sementara kami ikut pesta perpisahan, berhamburan ke sembarang PT, dan lulus serta memulai mencicil karier—dengan beberapa kali melakukan reuni. Saling bertanya ini-itu tentang Raisa dan tetap tidak menemukan kabar tentang Raisa. Sudah manjadi apa tanpa ijazah SMA? Apakah bisa mengatasi keterpurukan ekonomi dan menjulang sebagai jagoan Akuntansi meski tidak melalui jenjang PT? Atau tidak menjadi apa-apa, serta melulu jadi buruh dengan ijazah SMP? Atau ibu rumah tangga dari suami buruh yang hidup dengan gaji berdasarkan ijazah SMK? Ataukah telah tenggelam di sawah, di pedalaman yang tak terbayangkan, menjerang usia muda serta keriangan kemudaan sehingga segera mengkerut dan terlihat tersepah? Piut.

"Kamu memikirkannya?" kata beberapa teman dalam kesempatan yang berbeda.

Aku termangu. Kenapa aku memikirkannya? Apakah aku telah jatuh cinta kepadanya tapi tak pernah menyadarinya dan mengungkapkannya? Aku garuk-garuk kepala. Ada apa sesungguhnya? Kenapa ada simpati berlebih yang begitu murni dan amat spontan terpancar dalam reuni resmi atau pertemuan antarkelompok belajar ketika libur kuliah serta kerja? Aku memikirkan itu, sampai aku menikah—paling akhir dibanding teman satu kelompok—sampai aku punya anak, dan sampai hubungan dengan istriku mulai kacau saat situasi kerja tersengal dan membutuhkan penyegaran dengan laku efisiensi PHK—bahkan meski krisis kerja itu usai hubungan dengan istri tetap tegang.

Dan kenapa aku ingat Raisa, dan selalu memikirkan Raisa?

**

AKU berpindah dari satu tempat ke tempat lain, di setiap petang, untuk sekadar menenangkan diri dan mendapat kantuk—istriku minta pisah, kembali ke rumah orang tuanya, bersama anakku. Aku makan malam, atau sekadar penganan, menghabiskan waktu dengan cokelat atau susu hangat, kemudian bir, dan di setelah jalanan lengang aku pulang dalam kelengangan. Masuk rumah, memarkir mobil, serta mengenyak: tidur. Untuk bangun pagi dan pergi kerja—Sabtu dan Minggu mencuci semua pakaian yang kotor dan ditumpuk, lalu membersihkan rumah, serta pada ujungnya menyetrika. Menyibukkan diri dan terhibur dalam kelelahan sibuk. Kenapa aku, dulu, tak menikah dengan Raisa, meski ia tak memiliki ijazah SMA karena malu mengambilnya?

Pikiran itu menghantui ketika bangun pagi, menyiapkan sarapan dan kopi seusai mandi, berdandan—mengisi sisa waktu dengan mencuci piring—serta berangkat kerja dalam kesendirian setelah memastikan semuanya telah terkunci. Suntuk bekerja—amat senang kalau ditugaskan ke luar kota, meski pulang dengan setumpuk bahan laporan sehingga semuanya harus di-laundry. Dan menghabiskan sisa petang dengan makan malam, jajan, dan suntuk melamun—bersendiri. Bengong dengan penganan. Menatap ke luar kafé dan restoran, mengharapkan Raisa muncul dan menemuiku. Tapi macam apa Raisa sekarang ini? Aku tidak tahu. Dan aku membayangkan Raisa seperti saat ia di SMA, meski kini semakin dewasa dan memikat dalam kematangannya. Tapi ada di mana Raisa? Menjadi apa sekarang?

**

TERKADANG aku bubar kerja dengan kepastian Raisa berada di X, menunggui buat kencan, dan (pada saat itu) kami akan bercerita sangat banyak tentang segala hal. Dan seperti sekarang ini, meskipun gerimis—sedang hujan sejak petang: Raisa tetap memaksa diri menemuiku, dengan menyewa taksi serta berpayung sepuluh langkah di sebelum masuk kafé. Berjalan santai. Tersenyum dan mengecup pipiku—"Kamu sudah pesan apaan?" katanya. Aku menunjuk cokelat panas dan sisa dari sandwitch lamusir—aku ingin makan besar tapi tidak ingin ketemu nasi, dan sekarang ini menunggu steak tiba. Raisa menggeleng. Memperingatkan dan sekaligus melarang. Aku diam saja.

Aku tersenyum—hanya tersenyum, meski untuk diri sendiri. Bilang, pesanan itu tidak akan dimakan, dan mungkin khusus disediakan untuk Raisa. Raisa tertawa. Aku tahu Raisa tidak pernah menyentuhnya, bahkan tak juga minum, dan karenanya aku yang nanti akan menghabiskannya. Lantas kekenyangan, dan pulang dengan setengah sesak dan mengantuk. "Hati-hati," kata Raisa—dengan berkali-kali meneleponku, setengah mengecek, sehingga tidak hilang kesadaran di jalan meski tergesa kebelet ke kamar kecil. "Kenapa kita tak menikah saja, Raisa?" kataku—berkali. Raisa tertawa.

"Kamu itu amat menarik, amat memikat, dan tak mungkin dilepaskan," katanya, "tapi aku tidak mungkin menikah denganmu." Aku terpejam—telepon berdering di dalam ingatan, dan terkadang ia menyentuhkan tangannya sambil bilang, agar aku ini berhati-hati karena sedang menyopir, dan belum sampai di rumah. "Mandi air hangat dan segeralah tidur. Istirahat," katanya. Aku menghidupkan radio mobil, dan membiarkan sembarang stasion radio tampil menyeruak, sembarang penyiar berbicara tentang apa saja, serta sembarangan penyanyi menyanyikan lagu apa saja. Aku tahu: aku hanya sendiri, sangat kesepian, dan membutuhkan teman. Karena itu Raisa menemuiku—dan menenemaniku—sambil berkali-kali menyuruh aku agar menjemput Rina, membawa Tosan—anak kami—dan berdamai agar rumah tangga kami utuh lagi.

Tapi untuk apa? Apa untungnya?

**

GERIMIS masih turun. Kaca-kaca kafé memburam, dan ketika beberapa titik embun mencair dan meleleh membuat garis yang memecah keburaman itu, aku hanya melihat pekarangan parkir yang basah dan terus dibasahi oleh si untaian gerimis dari langit muram. Aku minta kopi—dan bon. Menghabiskannya, dan akhirnya beranjak ke luar. Lari ke arah mobil—menolak dikawal dan dipayungi. Menyalakan mobil, dan—ini awalnya—kembali berharap Rina menelepon. Tapi Rina tak menelepon—bahkan untuk sekadar mengabarkan ihwal Tosan—karenanya aku teringat Raisa, berpaling kepada Raisa, serta Raisa pun tiba-tiba menemaniku pulang—atau hanya menelepon ke dalam ingatan dan bergaung dalam ingatan. Senantiasa.

Dan bila nanti Raisa pun pergi, aku akan hidup dengan siapa? Aku tersisak.

***

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved