Cerpen Aris Kurniawan

Karmapala

Sekarang aku meminta kepada Tuhan untuk dikembalikan menjadi seekor monyet demi kebahagiaan seorang gadis kecil berhati lembut.

Editor: Hermawan Aksan
Net
Aris Kurniawan 

Mereka menatap Si Mongki dan Punang berganti-ganti. "Tentu saja akan kami bawa ke mana pun kami pergi mengamen," sahut kepala rombongan. "Kamu mau menanggap atraksi monyet kami? Satu jam 10 ribu. Tunjukkan di mana rumah orang tuamu," kata kepala rombongan.

"Tidak. Berikan Si Mongki padaku. Kasihan dia," ujar Punang.

"Gadis kecil, apa maksudmu? Dia monyet kami. Siapa pun tak akan kami biarkan mengambil dia," sergah kepala rombongan seraya berlalu. Punang terus mengejarnya dengan air mata berlelehan. Namun langkah-langkah kaki mungilnya yang tak mampu bergerak lebih cepat dari rombongan pengamen membuatnya jauh tertinggal di belakang sebelum akhirnya jatuh kelelahan di trotoar.

Ketika tersadar, Punang sudah berada di kamarnya. Dilihatnya wajah Ayah yang diliputi cemas membelai kepalanya.

"Mereka membawa Si Mongki, ayah...." serunya.

"Istirahatlah, Nak. Nanti ayah kejar rombongan pengamen itu," ujar ayahnya, hatinya begitu pilu melihat gadis kecilnya.

"Bawa Si Mongki pulang, Ayah. Kasihan dia. Mereka jahat."

Namun berminggu-minggu setelah kejadian itu, Ayah tak pernah berhasil menemukan rombongan pengamen itu. Meski tak yakin dengan apa yang dilihat Punang, lelaki paruh terakhir 30-an itu sudah berusaha menyusuri jalanan kota kecilnya yang makin panas karena makin jarang pepohonan menggunakan sepeda motornya, memasuki gang demi gang dan setiap perempatan lampu merah, tapi mereka tak pernah dijumpai. Pernah ia menemukan rombongan pengamen yang sedang menggelar atraksi topeng monyet di pojok pasar, tapi jelas itu bukan Si Mongki yang bermain atraksi.

Punang yang selalu menunggu Ayah di depan rumahnya akan melihat lelaki itu pulang dengan tangan hampa dan wajah terlihat kusut lelah. Sesungguhnya Punang kasihan melihat Ayah berusaha keras mencari Si Mongki, tapi ia lebih iba lagi terhadap nasib monyet yang sangat disayanginya itu dijadikan alat untuk mengamen. Pasti lelah sekali bermain atraksi di jalanan di bawah terik matahari. Punang tak tahu kenapa harus bersedih memikirkan nasib Si Mongki. Punang hanya tahu ia sangat benci rombongan pengamen itu memperlakukan Si Mongki. Seharusnya ia dirawat baik-baik di rumah atau dilepas di hutan untuk bermain bersama kawan-kawannya.

Dari sudut jalan ini aku dapat melihat Punang duduk di depan pintu rumahnya dengan wajah putus asa memikirkan nasib Si Mongki. Aku dapat merasakan kesedihan yang melanda hatinya. Sejujurnya aku tak kuasa menahan rasa haru melihat gadis kecil itu bersedih. Kelembutan hatinya memancar dari wajahnya yang membuat siapa pun yang melihatnya akan mensyukuri karunia Tuhan. Betapa ingin aku menghampirinya dan mengatakan kepadanya bahwa akulah Si Mongki. Namun aku khawatir tak akan mampu menceritakannya dengan baik dan dapat dimengerti oleh pikiran sederhananya bagaimana semua ini terjadi padaku. Terutama reaksi ayahnya apabila Punang menceritakan ulang ceritaku kepada lelaki itu.

Demi melihat kegembiraan hadir kembali mewarnai mata gadis kecil itu aku akan meminta kepada Tuhan untuk kembali menjalani karma menjadi Si Mongki. Aku tahu Tuhan akan mengabulkan permintaanku.

***

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved