Cerpen Aris Kurniawan

Karmapala

Sekarang aku meminta kepada Tuhan untuk dikembalikan menjadi seekor monyet demi kebahagiaan seorang gadis kecil berhati lembut.

Editor: Hermawan Aksan
Net
Aris Kurniawan 

SETELAH lepas dari karma buruk yang telah kujalani ratusan tahun. Sekarang aku meminta kepada Tuhan untuk dikembalikan menjadi seekor monyet demi kebahagiaan seorang gadis kecil berhati lembut.

Sulit bagi Punang melupakan sosok mungil nan lucu itu: anak monyet dengan bulu-bulunya yang lembut kelabu dan gerak-geriknya yang lincah dan tampak selalu ingin bergerak menari. Terutama mata cerlangnya yang mengerjap-ngerjap jenaka seakan memahami saat Punang bicara. Mongki, begitulah nama yang diberikan Punang untuk monyet pintar lagi jenaka itu.

Hari itu adalah hari libur kenaikan sekolah. Ayah mengajak Punang berwisata ke Pelangon, daerah kaki bukit di wilayah barat Cirebon. Punang memekik riang mendengar Ayah menyebutkan tempat wisata yang dihuni kawanan monyet yang konon jumlahnya selalu tetap, tak pernah bertambah ataupun berkurang sejak ratusan tahun silam. Dari sanalah Si Mongki berasal.

Si Mongki terlihat paling lucu di antara kawan-kawannya. Ia bergelantungan dan meloncat ke sana-kemari mengejar orang-orang yang mengangsurkan pisang. Meskipun lincah, Mongki selalu kalah saat berebut pisang yang dilempar orang-orang ke tengah kawan-kawannya yang bertubuh lebih besar. Ia selalu mendapat bagian pisang paling kecil. Tapi itu tidak membuatnya bersedih. Mongki akan memisahkan diri, lalu bergelantungan sendiri di sulur-sulur pohonan. Punanglah justru yang merasa iba. Ia lalu mendekati Si Mongki dan menjulurkan pisang ke arahnya. Si Mongki menerimanya dengan sopan disertai kerlingan mata seakan mengucapkan terima kasih.

"Lihat matanya, Ayah," ujar Punang menarik tangan ayahnya dan menunjuk-nunjuk Si Mongki. Ayah mengiyakan sambil tersenyum. "Bolehkah kita membawa dia ke rumah?" Ayahnya agak terkejut mendengar pertanyaan Punang.

"Tentu saja tidak boleh, Nak. Petugas taman wisata tak akan mengizinkan," kata Ayah memberikan pengertian kepada Punang. Ia anak yang baik dan memahami nasihat Ayah. Punang tak suka merengek dan menyusahkan. Namun, siapa sangka, Si Mongkilah yang ikut terbawa ke rumah. Tiba-tiba ia muncul dari dalam tas gendong Punang sesampai mereka di rumah. Punang memekik kegirangan, sementara Ayah terlihat heran dan khawatir ada yang tidak beres dengan Si Mongki. Ayah, yang selalu menganggap cerita-cerita tentang asal-usul monyet Pelangon berasal dari prajurit yang kena kutuk Pangeran Panjunan karena berkhianat sebagai mitos, kini jadi mulai meragukan anggapannya.

Tiga bulan Si Mongki tinggal bersama mereka. Menemani Punang yang kesepian sejak ditinggal Ibu pergi bekerja menjadi TKW di luar negeri. Punang begitu sedih ketika suatu hari Ayah memutuskan untuk mengembalikan Si Mongki ke habitatnya semula di Pelangon. Kata Ayah, Si Mongki harus dikembalikan ke habitatnya supaya lebih berbahagia. Di luar alasan tersebut sesungguhnya Ayah khawatir kedekatan hubungan Punang dengan Si Mongki menimbulkan hal-hal tak inginkan.

"Tak usah bersedih, Punang. Kita bisa berkunjung kapan saja ke Pelangon untuk menjenguk Si Mongki kalau kamu kangen," hibur Ayah.

Setiap libur sekolah, Ayah memang memenuhi janjinya membawa Punang ke Pelangon. Namun, mereka tak pernah melihat Si Mongki. Dari pagi hingga menjelang petang Punang dan Ayah menyusuri setiap sudut Pelangon, tapi Si Mongki seperti bersembunyi.

"Jangan-jangan ada orang yang membawa Si Mongki pulang," ujar Punang dengan putus asa. Ayah menahan perasaan getir mendengar dugaan anaknya yang matanya tampak berkaca-kaca. Ayah diserbu rasa bersalah yang begitu besar. Dari ratusan monyet yang ditemuinya di taman wisata itu memang tak ada yang selucu Si Mongki.

Sesungguhnya Punang hampir saja bisa melupakan Si Mongki oleh kehadiran kelinci yang dibeli Ayah dari pasar hewan. Bulunya yang lembut putih laksana kapas randu serta matanya yang bening dan daun telinganya yang panjang dan selalu bergerak-gerak perlahan mampu menggantikan posisi Si Mongki di hati Punang. Namun itu tak lama. Rasa sedih kehilangan Si Mongki bangkit lagi gara-gara suatu hari sepulang sekolah Punang melihat rombongan pengamen yang menggunakan monyet untuk atraksi lewat di sekolahnya. Dan monyet yang mereka ikat lehernya tak lain Si Mongki.

Punang yakin betul itu Si Mongki. Dikejarnya rombongan pengamen itu untuk melihat lebih jelas Si Mongki. Monyet lucu itu kini tampak lusuh dan lelah. Bulu-bulunya terlihat kusam oleh debu jalanan. Matanya tampak berbinar gembira ketika bertatapan dengan Punang. Tapi kemudian kembali murung. Si Mongki duduk di dalam kotak kayu yang diberi roda. Di dalam kota kayu itu berisi payung kecil, tas kecil, kacamata, sisir, cermin, boneka, dan sejumlah benda lain. Itulah benda yang melengkapi atraksi Si Mongki. Si Mongki sendiri mengenakan rompi yang membuatnya tampak makin lucu, tapi Punang tahu rompi itu membuat Si Mongki merasa gerah dan tak nyaman.

"Mongki..." seru Punang, terus mengejarnya dengan diganduli rasa gembira sekaligus iba bertubi-tubi melihat keadaan Si Mongki yang terlihat begitu menderita. Rombongan pengamen itu berhenti sejenak mendengar seruan Punang. Mereka menatap Punang heran.

"Apa yang kaulakukan, gadis kecil?" tanya kepala rombongan.

"Mongki... mau kalian mau bawa ke mana monyet itu?" Punang menunjuk Si Mongki.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved