Sorot

Salim Kancil

NAMA Salim Kancil menyeruak.

Penulis: Giri | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TRIBUN JABAR
Sugiri UA, Wartawan Tribun. 

Sangat mungkin secuil kisah Salim juga dialami orang-orang yang care dengan masalah serupa. Benturan-benturan dua sisi berbeda selalu menghadirkan ketakutan-ketakutan bagi yang benar. Biasanya, kekuatan yang salah lebih besar dan tak peduli dengan efek tindakan.

Di sinilah aparat pemerintah harus unjuk diri. Pembiaran hanya akan memberi ruang gerak paling luas untuk mereka yang sewenang-wenang.

Apalagi, dalam kasus Salim, ada dugaan kelalaian Kepolisian Resor Lumajang, dalam melindungi aktivis penolak penambangan liar.

Entah kebetulan atau tidak, Ike Nurila, anak Salim, menyebut ayahnya dibantai di bawah lambang negara, Garuda, yang diapit foto Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, di Balai Desa Selok Awar-Awar.

"Ayah saya disiksa di bawahnya Pancasila, yang ada di balai desa itu," ujar Ike.

Salim yang dikenal lincah, tak kenal takut, dan bergaya ceplas-ceplos sehingga ada Kancil di belakangnya adalah manifestasi pejuang yang sebenarnya.

Nyawa sudah menjadi taruhannya. Dia sempat menunjukkan kesaktian di bawah Garuda, lambang negara, yang di sana ada lima sila yang disebut Pancasila.

Semoga Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober mampu memberikan kekuatan untuk orang-orang yang terus berjuang membela kebenaran.

Bukan mereka yang ingin menghancurkan Indonesia dengan berbagai cara. Selamat jalan, Salim Kancil.(*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (2/10/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.


Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved