Teras
Ipse Dixit
SEORANG anak umumnya mempunyai daya ingat yang kuat terhadap janji orangtuanya.
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
SEORANG anak umumnya mempunyai daya ingat yang kuat terhadap janji orangtuanya. Hal itu sering kali saya alami dan besar kemungkinan dialami juga oleh orang tua yang lain.
Misalnya, ketika anak meminta sesuatu, lalu kita menjanjikan akan memenuhinya besok, atau lusa, atau seminggu lagi, atau sebulan lagi, begitu tiba pada hari yang dijanjikan ia akan menagihnya.
Padahal, sering juga orang tua, termasuk saya, ketika menjawab permintaan anak dengan sebuah jawaban menjanjikan, hanya sekadar menghibur.
Tapi respons kejiwaan sang anak tentu saja bersilangan dengan orang tua yang sekadar basa-basi, menghibur si anak dengan maksud supaya diam, tidak rewel, dengan alasan pada saat itu orang tua tidak bisa memenuhi permintaan anak.
Anak memang masih dalam wilayah bermain. Tapi ia sungguh-sungguh. Begitu tiba pada hari yang dijanjikan, si anak akan menagihnya.
Barulah orang tua dalam posisi terperangkap, antara harus memenuhi janjinya atau mengabaikannya. Apabila mengabaikan, si anak mungkin akan menangis.
Tapi kalaupun anak itu menyerah, dalam arti tidak menangis, ia akan mencatat dalam ingatannya bahwa orang tuanya tidak bisa membuktikan janjinya.
Dampak kejiwaannya bisa bermacam-macam.
Bagi anak yang terlalu kuat meniru orang tuanya, dalam perkembangan kepribadiannya, kelak selama menjalani kehidupan sosialnya, tak tertutup kemungkinan ia mencontoh orang tuanya: banyak janji tapi tak mampu memenuhinya.
Dan itu dianggapnya hal yang biasa saja. Tak ada yang salah. Jelas ini dampak paling berhabahaya.
Sebagai orang dewasa, barangkali maksud kita hanyalah basa-basi. Toh terhadap anak kecil, lagi pula anak sendiri.
Tidak ada sesuatu, apalagi dampak yang perlu dikhawatirkan. Tapi di situlah rupanya kita harus belajar untuk tidak mengumbar basa-basi.
Sebuah omongan ringan sebagai selingan dari kepenatan, joke, humor, itu bagian dari kehidupan manusia yang tak bisa terelakkan.
Tapi sebuah janji, meskipun kepada anak kecil, menuntut komitmen.
Dalam janji kita meletakkan diri sebagai manusia yang mempunyai otoritas, mempunyai kesanggupan untuk memenuhi, dan di situlah terujinya manusia sebagai makhluk yang mempunyai karakter dan akal sehat sehingga disebut sebagai makhluk berperadaban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cecep-burdansyah_20150629_000700.jpg)