Cerpen Yus R Ismail
Si Pengkor
ANAK berambut carang dan pirang itu makan paha ayam lahap sekali. Pipinya yang hitam berdaki kembang kempis.
Setiap menjelang Ramadan mereka pulang kampung. Mobil-mobil mahal parkir di pinggir jalan. Lahan kerja tahunan yang basah bagi para pemuda yang kerjanya serabutan. Mereka menjaga mobil-mobil itu semalaman. Atau mencuci mobil yang baru datang dan kotor. Menjelang Lebaran mobil-mobil itu akan bertambah banyak.
Masjid agung termasuk besar untuk ukuran masjid kecamatan. Tapi begitu salat Tarawih pertama, penuh sampai ke halaman. Mobil berjajar memenuhi pinggir jalan yang dekat dengan masjid. Mukena-mukena indah yang kabarnya hanya dijual online di internet, sarung dan kopiah baru, menjadi penghias yang salat Tarawih. Selesai salat, orang-orang yang saling mengenal dan hanya bertemu setahun sekali saling melepas kangen. Mereka saling bertanya kerja di mana, usahanya apa, anaknya berapa.
Siangnya suasana Ramadan juga terasa. Sejak bakda zuhur dari pengeras suara masjid terdengar orang ceramah. Lalu anak-anak belajar ngaji. Pesantren kilat istilahnya. Dan sore menjelang berbuka tadarus tidak berhenti dari Winamp. Makanya kota saya dikenal dengan sebutan Kota Saleh.
Di kota saya hanya sedikit rumah makan yang buka siang hari. Itu pun hanya menyediakan bagi yang sedang dalam perjalanan. Rumah makan itu seperti tutup. Tapi bila Anda sedang dalam perjalanan dan tidak kuat berpuasa, bertanyalah kepada tukang parkir, Anda akan ditunjuki rumah makan mana saja yang buka siang hari. Itu semua saking menghormati bulan Ramadan.
Bisa dimengerti kalau kota saya merasa terganggu dengan si Pengkor yang makan di sembarang tempat.
**
BESOKNYA si Pengkor minum jus buah di trotoar depan masjid. Orang-orang yang melihatnya bukan hanya melengos dan menggerutu, tapi sudah mulai benci. "Inilah akibatnya bila anak tidak dididik sopan santun, makan minum di depan umum saat orang lain khusyuk menunaikan ibadah puasa," tulis sebuah status di Facebook dengan gambar si Pengkor sedang nyengir, tangan kanannya memegang paha ayam dan tangan kirinya memegang jus mangga.
Besoknya masih juga si Pengkor makan-makan di trotoar depan masjid. Orang-orang mulai bertanya, siapa yang memberi makanan si Pengkor? Tapi pertanyaan itu tidak berlanjut karena suatu sore ketahuan si Pengkor muntah-muntah, lalu pingsan di pinggir jalan.
Orang yang mengenalnya membawa si Pengkor ke gubuk Nini Jumsih. Gubuk tua yang hampir roboh itu berdiri di pinggir pembuangan sampah. Nini Jumsih sendiri kerjanya mengumpulkan barang bekas yang sekiranya masih bisa dijual.
Nini Jumsih adalah satu-satunya kerabat si Pengkor yang diketahui orang. Sewaktu bayi si Pengkor ditemukan Nini Jumsih di dalam sebuah kardus di pinggir pembuangan sampah. Sepertinya yang membuangnya menganggap bayi itu sudah mati. Nyatanya bayi itu menangis meski lemah.
Tidak ada yang tahu ketika akhirnya si Pengksor meninggal. Hanya delapan orang yang ikut memelihara jenazahnya, memandikan, dan menguburkannya. Setiap saya berkeliling kota, saya melihat rembulan itu berwajah sendu dan trotoar masjid kehilangan sahabatnya.
Tentu saja saya bersedih. Meski seorang bapak yang ikut menguburkan si Pengkor menghibur saya. "Zaman dulu ada juga anak seperti si Pengkor. Cacat sejak lahir, terlunta-lunta, sakit mental, bodoh, berwajah buruk." Bapak itu mengusap-usap punggung saya. "Ketika dia meninggal tidak ada orang yang merasa bersedih. Tidak ada orang yang merasa kehilangan. Tapi Rasulullah meneteskan air mata. Rasulullah berkabung beberapa hari."
Saya menangis. Tapi orang-orang tidak melihat saya menangis. Orang-orang hanya melengos dan menggerutu saat saya memakan paha ayam menirukan si Pengkor. Ya, karena saya adalah si Kengkong, adik si Pengkor yang sewaktu bayi ditemukan Nini Jumsih di semak-semak.
***