Cerpen Yus R Ismail
Si Pengkor
ANAK berambut carang dan pirang itu makan paha ayam lahap sekali. Pipinya yang hitam berdaki kembang kempis.
ANAK berambut carang dan pirang itu makan paha ayam lahap sekali. Pipinya yang hitam berdaki kembang kempis. Giginya yang kotor dan rusak tidak berhenti mengunyah. Sesekali disedotnya air dari gelas plastik.
Orang-orang memandangnya sekilas, lalu melengos. Ada juga yang mencibir. "Dasar, anak tidak tahu sopan santun," gumamnya entah kepada siapa.
Ya, karena saat ini adalah bulan Ramadan. Anak berambut carang dan pirang itu duduk di trotoar depan halaman masjid. Tempat yang strategis karena orang yang ada di sekitar situ akan melihatnya. Anak itu lalu berjalan. Kakinya yang sebelah pengkor, karenanya berjalannya tidak benar. Seperti yang mau jatuh tapi tidak jadi. Tangan kirinya membawa boks dus entah berisi makanan apa. Tangan kanannya masih sibuk menyuapi mulutnya dengan roti pisang.
Ya, anak itu adalah si Pengkor. Usianya sebenarnya sudah sepuluh tahun. Tapi karena keterbelakangan mental, dia tidak bisa berkomunikasi dengan baik. "Dasar bodoh," begitu biasanya orang-orang bergumam bila gagal berkomunikasi dengan si Pengkor. Si Pengkor nyengir menanggapi gerutuan apa pun. Komunikasi yang paling lancar dengan si Pengkor adalah dengan memberinya makanan. Dia akan cepat mengambilnya, memakannya, dan nyengir memperlihatkan giginya yang kotor.
Tapi siapa pun yang memberinya makanan biasanya cepat menarik tangannya. Tentu saja mereka tidak mau bersentuhan tangan dengan si Pengkor. Karena tangan si Pengkor kotor. Dia tidak mengenal mencuci tangan, apalagi memakai sabun. Padahal tangannya sudah mengais-ngais tempat sampah, mengelap ingus, bahkan cebok yang tidak bersih.
"Kalau Ade tidak makan, ih... takut seperti si Pengkor!" kata seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya di taman kota.
"Kalau Ayang tidak belajar, ih... takut bodoh seperti si Pengkor!" kata seorang bapak saat menuntun anaknya belajar.
"Kalau Nanda tidak mandi, ih... takut badan bau dan wajahnya buruk seperti si Pengkor!" kata seorang nenek saat membujuk cucunya mandi.
Tentu saja tidak ada orang tua yang mau mengadopsi si Pengkor menjadi anaknya. Siapa pun tidak akan peduli ada di mana si Pengkor hari ini. Di tempat sampah, di sungai kecil yang airnya bercampur limbah pabrik, di trotoar mencari barang bekas, di tong-tong sampah mencari makanan sisa.
**
SELAMA hidupnya si Pengkor tidak pernah menjadi perhatian umum di kota saya. Dia ada tapi seolah tidak ada. Kecuali hari ini saat si Pengkor makan paha ayam di trotoar jalan depan masjid. Semua orang yang memandangnya mencibir. Merasa maklum tapi kadang sambil menggerutu.
"Dasar anak gendeng. Boro-boro tahu ibadah, menghormati bulan puasa saja tidak bisa!" Begitu gerutuan orang-orang bila disimpulkan.
Di kota saya, kota kecil kecamatan, bulan Ramadan selalu disambut dengan gembira. Dua hari menjelang salat Tarawih masjid agung dibersihkan. Dindingnya dicat baru. Halamannya dibersihkan dari rumput dan sampah. Semuanya dilakukan dengan kerja bakti. Pengurus masjid sejak pagi mengumumkan kerja bakti itu melalui speaker.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, yang ingin memakmurkan masjid, mari kita bekerja bakti membersihkan rumah suci, rumah Allah swt. Bagi yang tidak sempat tidak apa, pahalanya akan sama saja, yaitu dengan mengirim makanan bagi yang bekerja bakti. Apalagi dengan menyisihkan dana untuk perbaikan-perbaikan masjid. Kepada dermawan yang sudah memberikan hartanya untuk kemakmuran masjid, semoga Allah swt membalasnya dengan rizki yang melimpah. Mari kita berlomba-lomba mengisi bulan Ramadan ini dengan segala amal baik. Karena nanti semua amal baik itu yang akan menyelamatkan kita di akhirat."
Nyatanya masjid agung tidak pernah kekurangan para dermawan. Di kampung saya memang banyak orang yang kaya. Mereka bekerja di kota-kota besar. Ada yang menjadi pejabat di pemerintahan. Ada yang menjadi pengusaha bakso, pengusaha bajigur, pengusaha nasi kuning, dan banyak lagi.