Cerpen Sungging Raga
Melankolia Laba-Laba
AKU telah mencintaimu sebelum aku menyadari bahwa diriku tetaplah hanya seekor laba-laba.
"Ha? Nalea?" Aku tentu sangat terkejut, itu adalah namamu.
"Ya. Kau Sarelgaz, kan? Laba-laba paling senior di kamar ini."
"Bagaimana kau bisa tahu namaku? Apakah penulis cerita ini yang memberitahumu?"
"Tidak, semua juga sudah tahu."
Aku tertegun, siapa laba-laba asing yang baru kukenal ini, perutnya tak begitu besar tapi ia tampak rapi, kaki-kakinya yang jenjang itu berwarna kebiruan dengan bintik-bintik cerah di seluruh tubuhnya. Dari cara berjalannya, ia seperti laba-laba betina yang bekerja sebagai model majalah laba-laba dewasa.
Namun rasa heranku akan kehadiran laba-laba betina ini dikalahkan oleh suara-suara lain yang lebih mengejutkan. Di luar kamarmu pagi ini, aku mendengar suara tangis, bukan satu orang, melainkan banyak orang menangis. Ada juga suara meraung-raung. Aku belum pernah mendengar rumahmu ribut seperti ini.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, pagi ini aku tak melihatmu yang biasanya baru bangun tidur dan membuka jendela. Aku menunggu beberapa jam ternyata kau tak muncul juga, justru orang-orang—yang entah siapa—masuk lalu menabur bunga di kamar ini. Siang harinya aku masih bersabar, tapi kau tak muncul juga. Sampai berhari-hari kemudian aku tetap tak melihatmu di kamar ini, seakan kau raib begitu saja.
Ruangan ini pun berangsur dipenuhi debu dan menjadi pengap, pintunya selalu tertutup dan lampu tak pernah dinyalakan. Suasana yang sebenarnya seperti surga bagi kami para laba-laba. Maka seiring berjalannya waktu, mulailah bermunculan keluarga laba-laba baru. Mereka membuat jutaan jaring dari sudut ke sudut.
Laba-laba betina asing itu juga telah membuat jaring tak jauh dariku. Setiap hari ia memandangiku dan tersenyum, seolah aku adalah pajangan. Aku sudah cukup membencinya sejak pertama ia berani memakai namamu. Aku semakin membencinya saat ia bercerita bahwa dirinya adalah dirimu yang sengaja meninggalkan jasad manusia untuk menjelma laba-laba agar bisa bertemu denganku. "Bertemu dengan cinta yang sesungguhnya." Begitu ia berkata. Sungguh bodoh yang diucapkannya. Yang seperti itu hanya ada dalam dongeng. Namun ia tidak jera juga.
Akhirnya, karena kesabaranku sudah habis, laba-laba itu kuusir jauh. Malam ini, kuseret ia keluar dari kamar ini lewat salah satu lubang angin, kusuruh ia tinggal di pohon-pohon di luar sana, biar ia bertarung dengan hujan dan angin. Kuancam dia untuk jangan pernah kembali lagi. Wajahnya tampak sedih sekali, seperti menampakkan kekecewaan yang besar, tapi aku tak bisa ditipu. Sebab tak seekor laba-laba pun bisa menggantikan dirimu, Nalea, seorang gadis manusia yang akan selalu kucintai....
Seorang gadis yang hingga kini tak pernah kulihat lagi.
***