Cerpen Sungging Raga

Melankolia Laba-Laba

AKU telah mencintaimu sebelum aku menyadari bahwa diriku tetaplah hanya seekor laba-laba.

AKU telah mencintaimu sebelum aku menyadari bahwa diriku tetaplah hanya seekor laba-laba. Sudah lama aku memendam perasaanku dengan cara berdiam di celah lemari dan meja riasmu, menciptakan jaring untuk memanjangkan kesepian, menangkap apa saja yang datang seperti sebuah kerinduan, dan selalu siap untuk disingkirkan.

Apakah ini kutukan menyedihkan? Aku tahu, mungkin ini hanya episode lain dari kisah cinta binatang dengan manusia. Aku laba-laba rumah, nama latinku Achaeranea tepidariorum, kau gadis beraroma Lavender, namamu Nalea Mendieta. Di kamar ini kita berada dalam satu semesta, tapi dengan dunia yang berbeda.

Kamarmu adalah tempat di mana aku hidup sampai kelak menjemput kematian, sementara kau tidak selalu berada di sini. Apakah duniamu begitu luasnya? Aku mengenal kegelapan saat kaupadamkan lampu. Aku mengenal kerinduan saat kaututup pintu untuk pergi entah ke mana.

Selain diriku, di ruangan ini ada beberapa ekor laba-laba lain, sudut dan celah kamarmu selalu menjadi surga bagi makhluk kecil seperti kami. Kadang kulihat laba-laba betina yang bergembira karena anak-anaknya terlahir, seekor laba-laba jantan menjaga mereka. Sementara aku memilih sudut dekat meja riasmu, jadi aku bisa diam-diam mengintip wajahmu saat sedang becermin, berdandan, mengoleskan lipstik. Aku juga hafal aroma parfummu setiap kali kau hendak pergi dan nantinya kembali dengan rambut kusut dan wajah yang lelah.

Kadang aku berharap kita bisa saling menyapa atau setidaknya saling menyadari keberadaan satu sama lain, tapi aku tak bermimpi kau menciumku seperti kisah pangeran kodok. Aku tak akan menjelma manusia, ini bukan dunia surealis. Aku hanya tahu bahwa aku sudah belajar mencintaimu beberapa saat setelah terlahir ke dunia.

"Ibu, siapa itu?" tanyaku pada Ibu.

"Dia gadis penghuni tempat ini. Namanya Nalea. Kau akan melihatnya setiap hari."

"Dan kau harus waspada terhadapnya," ayahku menambahkan.

Pada akhirnya, kedua orang tuaku yang tidak waspada. Mereka mati terbawa sapu saat ada seorang lelaki membersihkan kamar ini, kebetulan aku sedang bersembunyi di sudut paling dalam, paling gelap, dan paling tak terjangkau. Lelaki itu, kau memanggilnya ayah. Aku tentu dendam padanya, tapi cintaku tetap tumbuh mengalahkan kemarahanku pada ayahmu.

Sejak saat itu, aku telah belajar bahwa mencintaimu adalah sumber bahaya. Namun tentu saja aku bertahan. Aku terus tumbuh. Semakin besar tubuhku, maka aku semakin mencintaimu. Semakin lebar dan tebal jaring yang kubentangkan, aku semakin merasa kuat dengan perasaan ini. Aku tentu tidak sedang merasa bahwa kau mencintaiku juga. Aku tak mengidap erotomania. Tapi tentu, sebuah perasaan cinta memiliki saat-saat depresif, ingin rasanya aku muncul untuk melakukan hal entah apa agar setidaknya kita bisa berinteraksi lebih dekat—atau bahkan mengutarakan perasaanku. Namun aku ragu, bisa jadi kau justru takut jika melihatku, bahkan mungkin alergi melihat kakiku yang sangat banyak ini.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved