Cerpen Aris Kurniawan

Bukit Maneungteung

SAMBIL menahan nyeri di bagian perut, Punang bangkit hendak menyibak gorden. Ketika tangannya terangkat hendak meraih gorden...

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Bukit Maneungteung 

"Marjo, hentikan basa-basi ini. Cepat katakan apa yang kamu inginkan atau aku keluar sekarang," bentak Punang sembari menggebrak meja dan membuat telapak tangannya terasa panas dan kemerahan.

Marjo tetap tenang. Ia terus memainkan asap cerutu dari mulutnya. Kini matanya menatap Punang lekat-lekat. "Seharusnya aku yang bertanya apa yang kamu inginkan dengan melakukan aksi menghalangi-halangi truk-truk menambang pasir dari bukit."

Pertanyaan Marjo persis dengan perkiraan Punang dan ia tahu Marjo tidak akan mau mendengar penjelasan apa pun dari Punang perihal aksinya menggerakkan teman-temannya menghadang truk dan buldoser yang akan ke bukit itu. Marjo hanya ingin Punang menghentikan semua aksinya, termasuk unjuk rasa di depan kantor bupati menuntut bupati mencabut izin perusahaan penambangan pasir Marjo demi menyelamatkan bukit dari kerusakan yang makin parah.

Dua bukit yang mengapit desanya kini sebagian gundul dan gersang. Bencana longsor mengancam akan menguruk jalan desa saat musim hujan yang sebentar lagi datang. Masa mereka remaja dulu dua bukit itu menjadi tempat yang banyak dikunjungi orang dari desa-desa sebelah, terutama anak-anak sekolah, untuk berwisata di Monumen Perjuangan Maneungteung yang terdapat di puncak bukit. Kerimbunan pohon di atasnya mengalirkan mata air sepanjang tahun. Sungai di bawahnya berair jernih dan digunakan warga desa untuk mandi dan mencuci. Semuanya berubah dratis hanya dalam waktu tujuh tahun! Menurut orang-orang tua, bukit itu dulu tempat para gerilyawan menyergap iring-iringan tentara penjajah. Monumen berupa patung orang memanggul senjata di puncak bukit dibangun warga untuk mengabadikan perjuangan para gerilyawan membunuh penjajah.

"Kamu tahu, Punang. Apa yang kamu lakukan hanya membuat penghasilan warga desa terganggu. Usaha penambangan pasir yang kulakukan telah memberi warga desa pekerjaan. Dari pasir itu mereka memperoleh uang sehingga mereka mampu membeli televisi, menyekolahkan anak-anak. Sekarang kamu tiba-tiba datang merusak harapan mereka. Begini hasil kamu kuliah di kota? Kalau kamu butuh pekerjaan, bicarakan baik-baik."

Sampai tujuh tahun lalu, sebelum Punang meninggalkan desa untuk kuliah di kota, ia masih nongkrong bareng dengan Marjo di warung kopi sambil menggodai gadis-gadis sebaya lewat ke sungai. Waktu itu Marjo masih belum becus merokok. Selulus madrasah aliyah Marjo tetap tinggal di desa dan melanjutkan usaha ayahnya jadi pengepul pasir. Sejak kuliah di kota Punang sangat jarang pulang ke desa dan bertemu dengan Marjo. Punang hanya mendengar kabar soal usaha Marjo yang makin maju dari cerita-cerita orang-orang. Truknya makin banyak. Bersama pemodal dari kota kenalan bapaknya Marjo kemudian mendirikan perusahaan pengembang. Secara iseng Punang berpikir, bagaimana mungkin orang yang belum becus merokok memimpin perusahaan, mengatur anak buah. Pada saat lain Punang juga mendengar perihal jalan yang menghubungkan desa mereka dengan kecamatan rusak berat lantaran dilewati truk-truk yang mengangkut pasir.

"Mencari pekerjaan memang susah, Punang. Tapi kita bisa bekerja sama kalau kamu mau."

Tiga tahun sejak lulus kuliah dan kembali pulang ke desa Punang memang tidak punya pekerjaan yang jelas dan membuat orang tuanya cemas. Bukannya tidak pernah ia mendapat tawaran pekerjaan dari Marjo. Namun Punang lebih memilih mengisi waktunya dengan ngobrol bersama anak-anak muda yang dikumpulkan di rumahnya, meminjami mereka buku-buku, mengajari mereka menulis, main drama, dan membuat apotek hidup di pekarangan rumah, menanami kembali pohon di bukit yang gundul. Satu kesempatan Marjo mengunjunginya sambil menyumbang sejumlah dus kopi, gula, dan makanan ringan. Kepada Punang, Marjo membicarakan rencananya membangun vila-vila di sekitar Monumen Maneungteung. Namun pembicaraan itu berakhir tegang. Tanpa pamit Marjo meninggalkan Punang yang terlihat cemas.

Beberapa hari setelah kunjungan Marjo, Punang bersama anak-anak muda desa mendatangi Marjo untuk membatalkan atau paling tidak merancang ulang rencana pembangunan vila-vila itu karena pembangunan vila-vila itu akan menggeser monumen dan mengancam kelestarian bukit. Namun, Marjo menyuruh anak buahnya menutup pintu gerbang rumahnya dan menolak bertemu mereka. Paginya Punang membawa anak-anak muda berunjuk rasa di depan kantor bupati.

"Kamu pikir Bupati akan menghiraukan kalian? Jangan harap. Mereka tak mau kehilangan kiriman cerutu!"

Malam kemarin sepulang dari unjuk rasa di depan kantor bupati, Punang bersama likuran anak-anak muda desa mendatangi lokasi penambangan dan membuat lubang-lubang untuk menanam separuh tubuh mereka demi melindungi bukit dari cengkeraman buldoser.

"Pikirkan baik-baik. Sebelum aku berubah pikiran." Marjo bangkit meninggalkan Punang.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved