Breaking News:

Cerpen Aris Kurniawan

Bukit Maneungteung

SAMBIL menahan nyeri di bagian perut, Punang bangkit hendak menyibak gorden. Ketika tangannya terangkat hendak meraih gorden...

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Bukit Maneungteung 

"Isaplah, kawan. Jangan jadi banci kamu," ujar Marjo, terkekeh. Punang muak dengan olok-olokan masa remaja itu, bukan karena tersinggung, melainkan ia ingin segera tahu apa yang diinginkan Marjo dengan menangkapnya serupa ini.

"Aku punya dua kotak yang masih utuh kalau kamu mau."

Punang sama sekali tidak tergoda mendengar tawaran itu. Bukan karena tidak suka cerutu, tapi ia tak mau masuk perangkap Marjo. Situasinya sudah berubah. Ia terus menatap Marjo yang begitu nikmat mengisap cerutu. Asap putih mengepul dari mulut dan lubang hidungnya yang mendongak angkuh. Anak kades itu bukan temannya yang dulu. Marjo kini juragan pasir sekaligus pengembang; armada truknya mengeruk pasir dari bukit di selatan desa. Perusahaan Marjo bahkan berencana akan meratakan sebagian bukit untuk dibangun perumahan di sana. Punang tahu bagaimana menghadapi pengusaha rakus semacam Marjo. Dengan uang dan anak buahnya ia bisa melakukan apa saja terhadap dirinya.

"Ayolah, kawan. Minum dan cicipilah cerutu itu," kata Marjo. Ia mengenyakkan pantatnya di kursi.

"Marjo, hentikan basa-basi ini. Cepat katakan apa yang kamu inginkan atau aku keluar sekarang," bentak Punang sembari menggebrak meja dan membuat telapak tangannya terasa panas dan kemerahan.

Marjo tetap tenang. Ia terus memainkan asap cerutu dari mulutnya. Kini matanya menatap Punang lekat-lekat. "Seharusnya aku yang bertanya apa yang kamu inginkan dengan melakukan aksi menghalangi-halangi truk-truk menambang pasir dari bukit."

Pertanyaan Marjo persis dengan perkiraan Punang dan ia tahu Marjo tidak akan mau mendengar penjelasan apa pun dari Punang perihal aksinya menggerakkan teman-temannya menghadang truk dan buldoser yang akan ke bukit itu. Marjo hanya ingin Punang menghentikan semua aksinya, termasuk unjuk rasa di depan kantor bupati menuntut bupati mencabut izin perusahaan penambangan pasir Marjo demi menyelamatkan bukit dari kerusakan yang makin parah.

Dua bukit yang mengapit desanya kini sebagian gundul dan gersang. Bencana longsor mengancam akan menguruk jalan desa saat musim hujan yang sebentar lagi datang. Masa mereka remaja dulu dua bukit itu menjadi tempat yang banyak dikunjungi orang dari desa-desa sebelah, terutama anak-anak sekolah, untuk berwisata di Monumen Perjuangan Maneungteung yang terdapat di puncak bukit. Kerimbunan pohon di atasnya mengalirkan mata air sepanjang tahun. Sungai di bawahnya berair jernih dan digunakan warga desa untuk mandi dan mencuci. Semuanya berubah dratis hanya dalam waktu tujuh tahun! Menurut orang-orang tua, bukit itu dulu tempat para gerilyawan menyergap iring-iringan tentara penjajah. Monumen berupa patung orang memanggul senjata di puncak bukit dibangun warga untuk mengabadikan perjuangan para gerilyawan membunuh penjajah.

"Kamu tahu, Punang. Apa yang kamu lakukan hanya membuat penghasilan warga desa terganggu. Usaha penambangan pasir yang kulakukan telah memberi warga desa pekerjaan. Dari pasir itu mereka memperoleh uang sehingga mereka mampu membeli televisi, menyekolahkan anak-anak. Sekarang kamu tiba-tiba datang merusak harapan mereka. Begini hasil kamu kuliah di kota? Kalau kamu butuh pekerjaan, bicarakan baik-baik."

Sampai tujuh tahun lalu, sebelum Punang meninggalkan desa untuk kuliah di kota, ia masih nongkrong bareng dengan Marjo di warung kopi sambil menggodai gadis-gadis sebaya lewat ke sungai. Waktu itu Marjo masih belum becus merokok. Selulus madrasah aliyah Marjo tetap tinggal di desa dan melanjutkan usaha ayahnya jadi pengepul pasir. Sejak kuliah di kota Punang sangat jarang pulang ke desa dan bertemu dengan Marjo. Punang hanya mendengar kabar soal usaha Marjo yang makin maju dari cerita-cerita orang-orang. Truknya makin banyak. Bersama pemodal dari kota kenalan bapaknya Marjo kemudian mendirikan perusahaan pengembang. Secara iseng Punang berpikir, bagaimana mungkin orang yang belum becus merokok memimpin perusahaan, mengatur anak buah. Pada saat lain Punang juga mendengar perihal jalan yang menghubungkan desa mereka dengan kecamatan rusak berat lantaran dilewati truk-truk yang mengangkut pasir.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved