Cerpen Aris Kurniawan

Bukit Maneungteung

SAMBIL menahan nyeri di bagian perut, Punang bangkit hendak menyibak gorden. Ketika tangannya terangkat hendak meraih gorden...

Bukit Maneungteung
Ilustrasi Cerpen Bukit Maneungteung 

SAMBIL menahan nyeri di bagian perut, Punang bangkit hendak menyibak gorden. Ketika tangannya terangkat hendak meraih gorden, pintu ruangan terdengar dibuka orang dari luar.

"Sudah bangun kamu, Punang." Seorang lelaki sepantaran dirinya muncul membawa dua botol minuman kaleng. Meletakkannya di atas meja kayu jati dengan suara entakan yang sengaja dibuat nyaring, "Minumlah, saya tahu kamu pasti haus." Terdengar desis soda ketika cincin pada kaleng minuman ditarik.

Punang menoleh dan menatap lelaki itu. Lelaki yang sangat dikenalnya ketika mereka sama-sama remaja yang duduk di bangku madrasah tsanawiyah. Rasa nyeri makin merajam sekujur tubuhnya ketika ia hendak turun dari ranjang. Lampu yang menempel di dinding menyala terang. Baling-baling kipas angin berputar pelan di langit-langit. Ia merabai pakaiannya yang lecek dan penuh noda tanah merah memanjang bekas seretan di lantai. Beberapa kancing bajunya lepas. Matanya menyapu seisi ruangan dan mulai menyadari ruang dan waktu. Punang merasa haus, tenggorokannya kering. Ia memaksakan diri bangkit perlahan-lahan. Diliriknya minuman kaleng yang dibawa lelaki itu.

"Maafkan kalau teman-teman sudah berlaku kasar," ujar lelaki itu dengan nada yang tidak selaras dengan kata-kata yang diucapkan.

"Kamu menangkapku, Marjo? Di mana kawan-kawan yang lain?"

"Tenanglah, Punang. Minumlah. Semua aman-aman saja."

"Satu saja mereka kau lukai, kuseret kamu ke pengadilan," tukas Punang.

Punang menatap penuh kebencian sekaligus waspada kepada Marjo yang duduk tenang dan mulai menyalakan rokok. Cara Marjo merokok sudah jauh berubah dengan saat mereka baru sama-sama belajar merokok secara mencuri-curi pada jam istirahat sekolah. Marjo terlihat sudah sangat lihai. Bahkan yang diisapnya sekarang bukan rokok biasa, melainkan cerutu. Punang ingat, dialah yang pertama kali mengajak anak kades itu mencoba-coba mengisap rokok. Punang yang sudah mahir menghisap asap tembakau terbahak-bahak puas seolah mendapat kemenangan melihat Marjo terbatuk-batuk bahkan sampai muntah setelah isapan ketiga.

"Isaplah, kawan. Kita lihat sekarang siapa yang lebih lihai memainkan asap tembakau," ujar Marjo dengan mata melirik ke jendela. Punang mengamati kotak cerutu di atas meja yang memisahkan tubuh mereka. Ia tahu itu merek terkenal. Masa remajanya kini melintas-lintas lagi di kepalanya.

Sejak pengalaman pertama mengisap rokok, Marjo seperti kapok menyentuh rajangan tembakau yang digulung daun jagung, dan hal itu membuatnya diolok-olok banci. Tapi Punang tak turut mengolok-olok karena ia tak ingin kehilangan teman yang uang sakunya selalu penuh dan royal mentraktir makan bakso dan es cincau, nonton bioskop, serta tentu saja menyuplai rokok. Ayahnya yang juga pengepul pasir tampaknya selalu memberikan berapa pun uang yang diminta Marjo. Uang itu sering digunakan Marjo untuk meminta jawaban soal ulangan kepada Punang atau siapa pun yang mau menjual jawaban.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved