Cerpen Yus R Ismail

Lukisan

SEPASANG kekasih itu berpisah saat senja begitu indah. Mereka sedang menyusuri pemandangan alam pedesaan dengan berboncengan motor.

Editor: Hermawan Aksan

Lukisan itu kemudian dibawa ke rumah tetangga itu. Dia sangat menyukai lukisan itu. Karenanya, ketika keluarga lelaki itu datang, dia memohon untuk memiliki lukisan itu.

"Apa pun yang ada di rumah saya boleh diambil, Pak, Bu, asal saya memiliki lukisan ini. Saya sangat menyukainya. Perasaan saya menjadi terharu setiap memandangnya," kata si tetangga itu.

"Kalau memang menyukainya, ambil saja, tidak usah dibayar oleh apa pun," kata ayah lelaki itu. Setelah membereskan apa yang ada di dalam rumah, keluarga pelukis itu pun pergi.

Di dalam lukisan itu ada gambar seorang gadis. Seorang gadis yang sedang ditatap kekasihnya. Anehnya, setiap waktu lelaki yang memandang kekasihnya itu berpindah-pindah tempat. Kadang gambar lelaki yang menatap kekasihnya itu ada di sebelah kanan lukisan. Lain waktu sudah ada di sebelah kiri. Lain waktu ada di sebelah atas lukisan. Kadang juga ada di bawah lukisan. Seandainya orang-orang tahu, gambar lelaki yang menatap kekasihnya yang suka berpindah-pindah tempat itu, adalah lelaki yang kehilangan kekasihnya yang melukis lukisan itu yang kemudian menghilang karena ruh dirinya sudah ditiupkan ke dalam lukisan itu....

Bila diperhatikan secara saksama, minimal setahun sekali, gambar lelaki yang menatap kekasihnya yang suka berpindah-pindah tempat itu, semakin menua. Entah tahun keberapa, warna rambutnya pun berubah dari hitam menjadi ada goresan putihnya yang semakin banyak. Dan entah tahun keberapa gambar lelaki yang memandang kekasihnya itu menghilang dari lukisan. Menghilang untuk selamanya. Mungkin meninggal.

Sementara yang memiliki lukisan itu entah sudah berpindah berapa puluh orang. Sekali waktu seorang kenalan datang ke rumah tetangga lelaki itu yang memiliki lukisan. Dia menyukai lukisan itu. Dia tidak mau pulang. Dia rela mengambil semua tabungannya di ATM asal bisa membawa pulang lukisan itu. Tabungannya akhirnya diserahkan kepada panti asuhan dan dia membawa lukisan itu. Kenapa demikian, karena tetangga pemilik lukisan itu juga tidak mau menjual lukisannya.

Begitulah terus terjadi, bertahun-tahun. Siapa yang menyukai lukisan itu tidak akan mau pulang sebelum diizinkan membawa lukisannya.

Dan saya... saya adalah seorang kolektor dan penikmat lukisan. Modal saya lumayan banyak karena saya seorang pengusaha nasional. Tapi sudah bertahun-tahun saya mengejarnya, lukisan itu belum juga saya dapatkan. Barangkali persoalannya sepele, karena di hati saya ada setitik keinginan untuk melelang lukisan itu di Balai Lelang Christie.
***

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved