Cerpen Yus R Ismail

Lukisan

SEPASANG kekasih itu berpisah saat senja begitu indah. Mereka sedang menyusuri pemandangan alam pedesaan dengan berboncengan motor.

Editor: Hermawan Aksan

SEPASANG kekasih itu berpisah saat senja begitu indah. Mereka sedang menyusuri pemandangan alam pedesaan dengan berboncengan motor. Melihat warna jingga matahari menjadi warna latar persawahan dan kelak-kelok sungai. Di sebuah bukit, mereka berhenti. Gadis berambut panjang bergaya di ujung tanah, siap untuk difoto. Di bawah jurang menganga sangat dalam. Tapi di seberang tanah itu pemandangan mahaindah.

"Ayo, ambil gambarnya, buat kenang-kenangan," kata sang gadis.

Lelaki itu membetulkan lensa dan diafragma kameranya. Belum juga kamera diarahkan, sang gadis terkejut karena di dekat kakinya ternyata ada ular kecil. Dia menjerit dan meloncat ke belakang. Saat itulah dia terantuk batu dan melayang ke dalam jurang.

Peristiwa itulah yang bertahun-tahun tidak bisa diterima lelaki itu. Dia mengutuk dirinya sendiri, mengapa membiarkan peristiwa itu terjadi. Dia tidak sadar, sebagai manusia tidak ada yang bisa diketahui apa yang akan terjadi semenit, bahkan sedetik, kemudian. Karena masa depan adalah rahasia.

Setiap hari lelaki itu menatap langit. Gumpalan awan selalu bergerak terbawa angin. Di gumpalan awan itu dia selalu melihat kekasihnya. Kekasihnya yang sedang tersenyum. Kadang seperti yang ingin memeluknya karena kangen. Kadang melambai-lambaikan tangan dengan wajah sedih dan air mata mengalir.

Lelaki itu tidak pernah kuat memandang gumpalan awan itu lama-lama. Karena perasaan dia sendiri akan berantakan. Kadang ikut bersedih, menangis yang ditahan, kadang ikut tersenyum. Bagaimana rasa rindu ini bisa dituntaskan bila tanpa ada tubuh untuk melampiaskannya? Karenanya kalau sudah diharu-biru seperti itu dia tidak pernah kuat lama memandang gumpalan awan.

Orang tuanya, saudara-saudaranya, sahabat-sahabatnya, dan kenalan lainnya sudah sering mengajaknya pergi atau melakukan kegiatan apa saja agar lelaki itu melupakan peristiwa sedih itu. Tapi lelaki itu tidak juga bisa melupakan kekasihnya. Setiap hari dia kangen untuk menatap gumpalan awan, sendirian.

Suatu hari lelaki itu membeli kanvas besar dengan ukuran pigura 3 x 2 meter. Sejak kecil dia sudah diajari melukis oleh bapaknya yang memang seorang pelukis. Kanvas itu disimpannya di tengah rumah. Rumah kecil tipe 22 miliknya sendiri di perumahan pinggir kota. Dia tinggal sendiri di rumah itu sejak bertahun-tahun yang lalu.

Mulailah dia melukis. Sejak bangun tidur sampai tidur kembali, yang dia kerjakan hanya melukis. Kadang ditatapnya lukisannya lama sekali. Kemudian kuasnya bekerja lagi. Setiap sapuan kuasnya selalu dibarengi dengan perasaan. Seolah yang menyapukan kuas itu bukan tangannya, melainkan hatinya.

Sehari dua hari, seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, sampai entah berapa lama, begitu terus yang dia kerjakan. Selama itu dia tidak pernah melihat langit, gumpalan awan, matahari, rembulan, bintang-bintang, dan pemandangan yang biasa dilihatnya. Tapi hati lelaki itu senang. Dia mengerjakan sesuatu yang disukainya, dicintainya.

Suatu hari lukisan itu selesai. Lelaki itu sangat senang. Dia menatapnya dari berbagai sudut. Akhirnya dia memandang lukisan itu tepat di depan wajah kekasihnya. Sejak bangun sampai tidur kembali yang dikerjakannya hanya memandang lukisan itu. Makan-minum, mandi, pergi, hanyalah selingan. Kadang senyumnya mengembang, kadang merintih, suara tangis dan tertawanya kadang terdengar ke rumah tetangga. Tapi siapa pun sudah memakluminya.

Entah kapan mulainya, lelaki itu merasakan nikmat yang luar biasa ketika dia bersila di hadapan lukisan kekasihnya, memejamkan mata, dan menghirup perlahan selama paru-parunya bisa menampung. Dengan begitu, dia seperti bisa menghirup apa yang ada di dalam lukisan itu, ruh dari lukisan itu.

Dan akhirnya lelaki itu mengeluarkan napasnya perlahan dengan mata terpejam, seolah apa yang ada di dalam dirinya ingin masuk ke dalam lukisan kekasihnya. Setiap hari begitu saja kerja lelaki itu. Menghirupnya semakin sebentar. Dan melepaskan napasnya semakin lama dan semakin bertenaga. Hingga wajahnya sering menjadi kemerahan karena dialiri banyak darah.

Suatu hari, wajah yang sudah merah itu berubah menjadi pias, semakin pias, semakin pias, kemudian memutih, semakin memutih, kemudian bening, semakin bening, semakin bening. Dan akhirnya lelaki itu menghilang. Tubuhnya seperti menjadi angin yang tertiup ke dalam lukisan kekasihnya. Peninggalannya hanya setumpuk pakaian yang teronggok di depan lukisan.

Sebulan kemudian tetangganya mendobrak rumahnya. Karena katanya mereka menjadi curiga, kenapa di rumah lelaki itu tidak terdengar lagi orang tertawa atau menangis atau sedang mengerjakan sesuatu. Nyatanya, di rumah itu hanya ada sebuah lukisan besar dan seonggok pakaian di depannya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved