Warga Cikancung Biasa Dapatkan Air Bersih dengan Cara Membeli dari Tempat Penjualan Air Isi Ulang
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, memprediksi, bencana kekeringan
Penulis: Hakim Baihaqi | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, memprediksi, bencana kekeringan yang terjadi di Kabupaten Bandung, akan mulai terjadi pada Juli 2019.
Salah satu wilayah di Kabupaten Bandung, yang kerap dilanda bencana kekeringan, yakni Kecamatan Cikancung, berjarak 55 kilometer dari Kantor Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bandung.
Bencana kekeringan yang melanda, Kecamatan Cikancung, salah satunya adalah kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
Engkos Koswara (50), Warga Kampung Bojongbadak, Desa Cikasungka, Kecamatan Cikancung, mengatakan, hingga saat ini, pasokan air bersih di rumahnya tersebut masih tersedia, meski mulai mengalami penyusutan.
"Air di sumur masih ada, kalau sudah mulai surut, biasanya sudah berwarna cokelat dan tidak bisa digunakan," kata Engkos di Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, Rabu (19/6/2019).
Ia mengatakan, seperti ditahun-tahun sebelumnya, warga mulai sulit mendapatkan pasokan air bersih, mulai dari Juli hingga November, karena volume air semakin berkurang.
• Buntut Pelesiran Setnov, Satu ASN Kenaikan Pangkatnya Ditunda, Satu Lainnya Ditunda Kenaikan Gajinya
Engkos mengatakan, guna mendapatkan pasokan air bersih, warga biasanya membeli dari tempat penjualan air isi ulang, air tersebut digunakan warga untuk kebutuhan minum, memasak, hingga mandi.
"Satu tangki besar, harganya 250 ribu. Biasanya dikoordinir RT. Patungan setiap kepala keluarga," kata Engkos.
Romdin (36), warga Kampung Ciluluk, Kecamatan Cikancung, mengatakan, keinginan warga tidak banyak, yakni hanya ingin pemerintah membuat saluran air bersih yang bisa digunakan saat bencana kekeringan melanda.
"Saluran air dapat didistribusikan langsung ke rumah warga, jadi tidak susah payah," kata Romdin.
Engkos kembali mengatakan, bila warga di sekitar rumahnya, telah bersedia memberikan lahan mereka, bila pemerintah berniat membuat sumur bor untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga tidak mengalami kesulitan air bersih setiap tahunnya.
"Air buat sehari-hari saat kemarau, kami beli sendiri bukan dikasih pemerintah. Masa setiap tahun harus begini," kata Engkos.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung, Sudrajat , mengatakan, seperti ditahun sebelumnya, bencana kekeringan mulai terjadi pada saat musim kemarau, hingga puncak musim kemarau, yakni Agustus hingga September.
"Sampai saat ini belum ada laporan, karena kami terus berkoordinasi dengan pihak pemerintah tiap wilayah di Kabupaten Bandung," kata Sudrajat, Rabu (19/6/2019).