Ludah di Meja Kasir: Etika Pendidik di Ruang Publik
Peristiwa seorang dosen yang meludahi petugas kasir jadi “cermin retak” yang memantulkan wajah buram pendidikan saat ini
Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam berbagai evaluasi Profil Pelajar Pancasila juga menunjukkan bahwa dimensi berakhlak mulia, mandiri, dan bernalar kritis belum merata implementasinya.
Banyak satuan pendidikan kuat pada aktivitas, namun lemah pada internalisasi nilai. Anak-anak mungkin tampak “aktif” dan “happy”, tetapi gagap bersikap ketika berhadapan dengan aturan, kesabaran, dan rasa hormat.
Laporan UNESCO (Global Education Monitoring Report) menegaskan bahwa sistem pendidikan yang menomorduakan character education cenderung melahirkan generasi yang riuh secara ekspresi, tetapi rapuh secara esensi. Media sosial dapat menjadi alat pedagogis, namun tanpa bingkai nilai dan keteladanan, ia berubah menjadi distraksi massal.
Pembalikan Peran Moral
Ironisnya, dalam peristiwa di swalayan itu, justru petugas kasir yang tanpa gelar akademik menunjukkan keteguhan sikap dan kepatuhan pada aturan. Ia tidak membalas keburukan dengan keburukan. Terjadi pembalikan peran yang menyakitkan: “yang bergelar gagal menjadi teladan, yang tak bergelar justru mengajarkan teladan martabat manusia”.
Di sini relevan gagasan Aristoteles tentang phronesis, kebijaksanaan praktis, yakni kemampuan bertindak benar dalam situasi nyata. Pendidikan tinggi kehilangan makna ketika gagal melatih kebijaksanaan paling dasar dalam kehidupan bersama.
Ketegasan Institusi dan Peringatan Kolektif
Keputusan institusi untuk menjatuhkan sanksi tegas patut diapresiasi. Ia menegaskan bahwa kampus bukan sekadar pabrik gelar, melainkan benteng nilai. Namun sanksi administratif saja tidak cukup. Kasus ini harus dibaca sebagai peringatan kolektif bahwa orientasi pendidikan kita perlu dikoreksi.
Di Meja Kasir, Peradaban Diuji
Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia, bukan semata apa yang diketahui, melainkan bagaimana seseorang bersikap ketika pengetahuan dan otoritas berada di tangannya. Peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu banyak orang pintar yang kehilangan kerendahan hati.
Dalam lanskap ini, dosen dan guru adalah chef (juru masak) pendidikan. Dari tangan merekalah nilai diracik, karakter dimatangkan, dan selera moral generasi dibentuk. Jika juru masaknya abai pada etika, ceroboh pada adab, kotor dalam emosi, dan tergesa mengejar sensasi, maka “masakan” pendidikan yang tersaji boleh jadi tampak lezat di etalase, tetapi hambar makna, bahkan beracun bagi watak. Ilmu pun berubah menjadi hiasan, bukan nutrisi.
Jika dalam antrean saja kita gagal menjadi manusia yang utuh, maka ilmu setinggi apa pun hanya akan menjadi gema kosong. Dan ketika meja kasir tak lagi mampu menahan kesombongan, di situlah kita tahu bahwa pendidikan bukan soal kurikulum, melainkan soal membangun karakter.
| Dedi Mulyadi Kritik Sistem Pendidikan, Ingin Ubah Kurikulum Sekolah Jadi Produk Praktis |
|
|---|
| Seribu Santri Ikuti Siliwangi Santri Camp, Pangdam Kosasih: Santri Harus Punya Cita-cita Tinggi |
|
|---|
| WJSLS 4.0 Perkuat Kepemimpinan Pelajar Peduli Lingkungan di Jawa Barat |
|
|---|
| Data JPPI: 71 Persen Kekerasan Terjadi di Lingkungan Sekolah, Pelaku Internal Dominan |
|
|---|
| Kemenkum Jabar Pastikan Penyaluran Bantuan Sosial Pendidikan di Kota Bandung Tepat Sasaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Marsma-TNI-Dr-Ir-Hikmat-Zakky-Almubaroq-SPd.jpg)