Potret Wajah Baru Cicadas yang Dirindukan: Kala Trotoar Bandung Kembali Bernapas
Kawasan Cicadas kini tampil lebih tertib dan terang melalui proses penataan berbasis komunikasi yang didukung penuh oleh warga.
Ringkasan Berita:
- Kawasan Cicadas kini tampil lebih tertib dan terang melalui proses penataan berbasis komunikasi yang didukung penuh oleh warga serta pedagang setempat.
- Di sisi lain, Wali Kota Muhammad Farhan menargetkan sterilisasi trotoar dari lapak permanen di seluruh sudut Kota Bandung wajib tuntas menjelang akhir tahun 2026.
- Pemerintah menawarkan solusi berupa relokasi pedagang ke pasar resmi dan pemanfaatan platform digital.
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sudut-sudut Kota Bandung kini tengah bersolek demi mengembalikan hak estetika ruang publiknya. Salah satu titik yang paling terasa denyut perubahannya adalah kawasan Cicadas.
Lautan aktivitas yang selama puluhan tahun identik dengan kepadatan, kini perlahan bertransformasi menjadi ruang yang jauh lebih tertib, benderang, sekaligus bersahabat bagi siapa saja yang melintas.
Sinergi apik antara pemerintah, masyarakat setempat, hingga para pelaku usaha mandiri yang menggantungkan hidup di sepanjang trotoar Cicadas menjadi kunci di balik proses penataan yang berjalan sejuk tanpa gejolak ini.
Bagi Abang Jahit, seorang penjahit yang telah 35 tahun mengadu nasib di trotoar Cicadas, embusan angin perubahan ini membawa secercah kenyamanan baru yang nyata.
“Saya terus terang senang dengan keadaan saat ini, rapi dan terang. Terima kasih untuk Pak Gubernur dan Pak Wali Kota. Cuma ya diusahakan tetap perhatikan para pedagang supaya tetap bisa mencari rezeki,” ujarnya dilansir bandung.go.id.
Kegembiraan yang menyisakan sedikit kecemasan tersebut rupanya diamini oleh Suherman. Selaku Ketua PKL Cicadas, ia menaruh harapan besar agar langkah estetika kota ini tidak sampai memutus urat nadi perekonomian warga yang sudah berakar di sana.
“Pedagang di sini sudah puluhan tahun. Semoga segera ada solusi, entah itu berupa lapangan pekerjaan baru atau relokasi tempat jualan, agar tetap enak untuk kami para pedagang dan pemerintah juga,” katanya.
Meski diliputi rasa khawatir akan masa depan lapak mereka, Suherman angkat topi terhadap jalannya proses sterilisasi yang berlangsung sangat damai dan penuh kekeluargaan.
“Awalnya pemilik toko di sini juga was-was takut terjadi kerusuhan, tapi alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Tapi dari sudut pandang sebagai warga Bandung saya sangat setuju, karena saya ingin Bandung lebih baik, rapi, dan nyaman,” katanya.
Rasa haru yang mendalam bahkan tak mampu disembunyikan oleh Abah Ajat, seorang warga yang menyaksikan langsung pasang surut kehidupan Cicadas sejak dirinya lahir. Bagi Abah Ajat, atmosfer baru ini seolah membawanya melintasi lorong waktu.
“Saya sebagai orang asli sini sangat senang, seperti melihat Cicadas zaman dulu, namun lebih rapi. Ada pohon juga jadi teduh,” katanya.
Estetika sebuah kota sejatinya memang tidak melulu soal menyingkirkan apa yang dianggap kumuh, melainkan bagaimana memanusiakan para pencari nafkah di dalamnya.
Oleh karena itu, harmoni penataan ini akan terus digulirkan lewat dialog interaktif, pendampingan berkala, hingga perumusan jalan keluar bersama agar tidak ada pihak yang dikorbankan.
Di sisi lain, target besar sudah dipasang di meja pemerintah daerah. Agenda pembersihan area sabuk hijau dan trotoar dari kepungan lapak kaki lima di seantero Kota Kembang dipatok wajib rampung sepenuhnya sebelum kalender 2026 berakhir.
Demi mengejar target tersebut, penyisiran terhadap bangunan-bangunan semipermanen yang menyalahi fungsi jalur pedestrian akan terus digenjot secara konsisten dan terukur.
| Bulan Belanja Bandung 2026 Kembali Digelar, Disdagin Optimistis Kejar Capaian Rp101,07 Miliar |
|
|---|
| Kronologi Begal iPhone di Gedebage Bandung: Siram Wajah Korban Pakai Minyak Angin Aromaterapi |
|
|---|
| Dongkrak Ekonomi Lokal, Pasar Kreatif Bandung 2026 Kejar Target Rp10 M |
|
|---|
| Fortusis Ungkap Awal Mula Kesalahpahaman SPMB Sekolah Maung, Jadi Rumit Karena Respons Lambat |
|
|---|
| SPMB Sekolah Maung, Fortusis: Sosialisasi Minim, Guru Banyak yang Bingung, Apalagi Orangtua |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Kawasan-Cicadas-kini-tampil-lebih-tertib-dan-terang-melalu.jpg)