Selasa, 2 Juni 2026

Meski Efisiensi Anggaran, Program MBG Dinilai Bangkitkan Ekonomi Pengusaha Katering di Jabar

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai membawa dampak positif bagi pelaku usaha jasa boga di Jawa Barat. 

Tayang:
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Sejumlah relawan menyiapkan paket makanan bergizi yang akan didistribuskan ke salah satu sekolah pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Baleendah Rancamanyar, Jalan Bojongsayang, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (29/9/2025). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai membawa dampak positif bagi pelaku usaha jasa boga di Jawa Barat. 

Di tengah tekanan efisiensi dan tantangan ekonomi, program pemerintah tersebut menjadi penopang bagi banyak pengusaha katering yang sebelumnya terdampak pandemi.

Ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga Indonesia (PPJI) Jawa Barat, Rezha Noviana, menyebut keterlibatan anggota PPJI dalam program MBG membuat roda ekonomi pelaku jasa boga kembali bergerak. 

“Saat ini, lebih dari 100 dapur MBG telah beroperasi di berbagai wilayah Jawa Barat, dikelola oleh anggota PPJI. Bagi teman-teman yang menjadi mitra MBG, ekonominya membaik. Program ini sangat membantu, terutama di bidang jasa boga,” ujar Rezha saat ditemui di Horison Ultima Bandung, Jalan Pelajar Pejuang, Selasa (23/12/2025).

Rezha menjelaskan, program MBG memberi dampak ekonomi berantai bagi sektor jasa boga. Sebab, industri katering menjalankan ekosistem yang melibatkan banyak pihak, mulai dari tenaga kerja lokal hingga pemasok bahan baku dari pasar dan UMKM sekitar.

“Kalau kita merekrut karyawan, pasti dari lingkungan sekitar, suplai bahan baku juga dari pasar dan UMKM lokal. Otomatis ekonomi di sekitar dapur ikut bergerak,” ujarnya.

Ia menyebutkan saat ini, PPJI Jawa Barat memiliki sekitar 700 anggota. Dari jumlah tersebut, lebih dari 100 dapur MBG telah beroperasi di berbagai daerah di Jawa Barat. 

Bahkan, tidak sedikit anggota yang mengelola lebih dari satu dapur MBG. Menurut Rezha, kehadiran program pemerintah ini cukup membantu menjaga keseimbangan pendapatan perusahaan catering di tengah tekanan biaya.

Meski demikian, Rezha tak menampik bahwa tantangan ke depan masih cukup besar, terutama jika kebijakan efisiensi kembali diterapkan pada 2026. 

Namun, ia optimis keterlibatan pelaku jasa boga dalam program MBG dapat menjadi penyeimbang terhadap potensi penurunan pendapatan akibat kenaikan UMK.

Sementara itu Nina, perwakilan Bidang Organisasi PPJI Kota Bandung, mengatakan kehadiran MBG menjadi angin segar bagi sebagian pelaku usaha. 

“Banyak katering industri yang kini beralih atau menambah lini usaha sebagai mitra MBG sehingga perlahan bisa kembali beroperasi,” ucap pengusaha katering wedding ini.

Namun, ia menekankan jika tantangan tetap ada, dimana fluktuasi harga bahan baku dan kelangkaan barang menjadi persoalan harian yang harus dihadapi pengusaha catering. 

“Untuk menyiasatinya, pelaku usaha terpaksa berburu bahan ke berbagai tempat demi mendapatkan harga yang lebih terjangkau, terutama untuk katering industri yang sudah memiliki standar harga tertentu. Kalau sudah ditetapkan misalnya Rp15.000 per porsi, ya mau tidak mau harus disesuaikan. Padahal bahan baku naik,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga bahan baku agar beban pengusaha tidak semakin berat.

 “Kalau harga naik dan petani ikut sejahtera, tidak apa-apa. Tapi yang sering terjadi kan tidak begitu, dampaknya ke kami berat,” ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved