Selasa, 2 Juni 2026

Pelemahan Rupiah hingga Daya Beli Lesu, Kadin Beberkan Beban Pengusaha Saat Ini

Agung Suryamal menilai dunia usaha tengah menghadapi tekanan berat akibat pelemahan rupiah, kenaikan biaya produksi, melemahnya daya beli.

Tayang:
Kompas.com
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS. (KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA) 

Ringkasan Berita:
  • Agung Suryamal menilai dunia usaha tengah menghadapi tekanan berat akibat pelemahan rupiah, kenaikan biaya produksi, melemahnya daya beli, tingginya bunga pinjaman, serta ketidakpastian ekonomi global. 
  • Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan lebih fokus menjaga keberlangsungan usaha dibanding melakukan ekspansi. 
  • Untuk bertahan, pelaku usaha didorong memperkuat efisiensi, arus kas, diversifikasi bahan baku, ekspor, dan fleksibilitas strategi bisnis.

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengusaha asal Jawa Barat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia untuk wilayah Jawa Barat, Jakarta, dan Banten, Agung Suryamal, menyampaikan pandangannya mengenai kondisi ekonomi yang belakangan memberikan tekanan besar terhadap dunia usaha.

Menurut Agung, pelaku usaha saat ini dihadapkan pada berbagai persoalan serius, terutama perusahaan yang beroperasi di sektor manufaktur dan perdagangan.

Ia menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah, tingginya ongkos produksi, suku bunga yang masih relatif mahal, melambatnya daya beli masyarakat, serta ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor yang menciptakan tekanan berlapis bagi pelaku usaha di berbagai bidang. Situasi tersebut membuat banyak perusahaan mengalihkan prioritas dari ekspansi agresif menjadi upaya menjaga keberlangsungan bisnis di tengah kondisi yang belum menentu.

Ketua Forum Komunikasi Pengusaha Jabar (Forkompenja) itu menuturkan bahwa salah satu persoalan utama yang kini dihadapi dunia usaha adalah terus meningkatnya biaya produksi. Melemahnya rupiah menyebabkan harga bahan baku impor, mesin produksi, komponen elektronik, hingga bahan kimia industri mengalami kenaikan.

Dampak tersebut paling dirasakan oleh sektor manufaktur, farmasi, otomotif, tekstil, dan elektronik yang hingga kini masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap pasokan impor.

Di sisi lain, tidak semua perusahaan memiliki ruang untuk langsung menaikkan harga jual produknya karena kemampuan belanja konsumen juga sedang mengalami tekanan. Akibatnya, margin keuntungan perusahaan terus menyusut.

Tantangan berikutnya datang dari melemahnya daya beli masyarakat. Pelaku usaha di sektor ritel, makanan dan minuman, properti, serta otomotif menghadapi perlambatan permintaan dari konsumen.

Masyarakat kini cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya dan memilih menunda pembelian barang-barang sekunder maupun tersier. Gejala tersebut tercermin dari sejumlah laporan yang menunjukkan perlambatan penjualan di berbagai sektor, meskipun pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di atas angka 5 persen.

Selain itu, Agung juga menyoroti tekanan terhadap arus kas dan pembiayaan perusahaan. Banyak pelaku usaha masih harus menghadapi biaya pinjaman yang tinggi, sementara kebutuhan modal kerja terus meningkat seiring kenaikan harga bahan baku.

Persaingan global yang semakin ketat juga menjadi tantangan besar lainnya. Perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak hanya berhadapan dengan persoalan domestik, tetapi juga harus bersaing dengan negara lain yang menawarkan biaya produksi lebih rendah, infrastruktur yang lebih efisien, maupun insentif investasi yang lebih menarik.

Strategi Hadapi Tekanan

Berbagai tekanan tersebut membuat sejumlah perusahaan mulai menahan perekrutan tenaga kerja baru dan menunda rencana ekspansi demi menjaga kondisi likuiditas perusahaan.

Jika tekanan biaya berlangsung dalam jangka panjang, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) berpotensi meningkat, khususnya pada sektor-sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, makanan dan minuman, serta elektronik.

"Berdasarkan masukan dari teman-teman pengusaha dan pengalaman saya sendiri sebagai pengusaha selama sekitar 35 tahun, ada beberapa strategi yang tepat untuk menghadapi situasi saat ini," ujar Agung, 1 Juni 2026.

Strategi pertama yang disarankan adalah melakukan diversifikasi sumber bahan baku. Perusahaan dinilai perlu mengurangi ketergantungan terhadap satu negara pemasok maupun satu jenis bahan baku impor. Pemanfaatan bahan baku lokal yang memenuhi standar kualitas juga dapat menjadi solusi jangka panjang guna memperkuat ketahanan usaha.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved