Kamis, 14 Mei 2026

Pentingnya Endoskopi Pada Gangguan Lambung Karena Pola Makan

Pola makan yang tidak teratur menjadi salah satu faktor yang kian sering memicu gangguan lambung. Kebiasaan melewatkan waktu makan

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Jabar
Dokter spesialis penyakit dalam Santosa Hospital Bandung Central, dr. Imelda Adrianti Widjojo, Sp.PD-FINASIM, AGAF, mengatakan beberapa jenis gangguan lambung yang sering dialami masyarakat antara lain gastritis atau maag, gastroesophageal reflux disease (GERD), dan tukak lambung. 

Ringkasan Berita:
  • Pola makan tidak teratur, konsumsi makanan pedas, serta diet ekstrem dapat memicu gangguan lambung seperti gastritis, GERD, dan tukak lambung.
  • dr. Imelda Adrianti Widjojo dari Santosa Hospital Bandung Central menyebut lambung kosong terlalu lama dapat meningkatkan produksi asam dan menyebabkan iritasi.
  • Menjaga pola makan teratur dan menghindari makanan pemicu penting untuk mencegah gangguan lambung.

TRIBUNJABAR.ID - Pola makan yang tidak teratur menjadi salah satu faktor yang kian sering memicu gangguan lambung. Kebiasaan melewatkan waktu makan, konsumsi makanan pedas, hingga tren diet ekstrem dapat memicu berbagai keluhan pencernaan, mulai dari maag hingga asam lambung naik.

Gaskripzx2
Gastritis merupakan peradangan pada dinding lambung yang bisa terjadi secara tiba-tiba (akut) maupun berlangsung lama (kronis). Kondisi ini umumnya dipicu infeksi bakteri Helicobacter pylori, penggunaan obat pereda nyeri dalam jangka panjang, stres, hingga konsumsi alkohol.

Dokter spesialis penyakit dalam Santosa Hospital Bandung Central, dr. Imelda Adrianti Widjojo, Sp.PD-FINASIM, AGAF, mengatakan beberapa jenis gangguan lambung yang sering dialami masyarakat antara lain gastritis atau maag, gastroesophageal reflux disease (GERD), dan tukak lambung.

Gastritis merupakan peradangan pada dinding lambung yang bisa terjadi secara tiba-tiba (akut) maupun berlangsung lama (kronis). Kondisi ini umumnya dipicu infeksi bakteri Helicobacter pylori, penggunaan obat pereda nyeri dalam jangka panjang, stres, hingga konsumsi alkohol.

Sementara itu, GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup esofagus bagian bawah. Kondisi ini dapat menimbulkan sensasi panas di dada atau heartburn, rasa sesak, hingga tenggorokan terasa sakit.

Selain itu, tukak lambung juga menjadi masalah yang cukup sering terjadi. Tukak lambung merupakan luka terbuka pada lapisan lambung atau usus dua belas jari akibat terkikisnya dinding lambung oleh asam.

“Pada beberapa kasus juga ditemukan gastroparesis, yaitu kondisi ketika otot lambung melemah sehingga proses pengosongan lambung menjadi lambat. Akibatnya makanan tertahan lebih lama di lambung dan menimbulkan keluhan seperti mual atau cepat kenyang,” ujar Imelda, Kamis (5/3/2026). 

Ia menjelaskan, pola makan yang tidak teratur berperan besar dalam meningkatkan risiko gangguan lambung. Kebiasaan melewatkan waktu makan atau makan pada jam yang tidak konsisten dapat memicu produksi asam lambung berlebih.

“Ketika lambung kosong terlalu lama, asam lambung tetap diproduksi. Tanpa adanya makanan yang dicerna, asam tersebut dapat mengiritasi dinding lambung dan memicu peradangan.” 

Selain itu, kebiasaan telat makan yang kemudian diikuti makan dalam porsi besar juga dapat memicu GERD. Kondisi ini dapat melemahkan katup kerongkongan sehingga asam lambung lebih mudah naik.

“Lambung bekerja mengikuti ritme. Jika pola makan tidak teratur, produksi enzim pencernaan dan asam lambung menjadi tidak seimbang sehingga proses pencernaan tidak optimal,” katanya.

Faktor lain yang juga berperan adalah jenis makanan yang dikonsumsi. Menurut dr. Imelda, makanan pedas, asam, kopi, serta minuman bersoda sering menjadi pemicu keluhan lambung, terutama pada orang yang memiliki lambung sensitif atau riwayat maag dan GERD.

“Konsumsi berlebihan makanan tersebut dapat mengiritasi dinding lambung dan meningkatkan produksi asam. Minuman bersoda juga dapat menimbulkan gas berlebih di lambung sehingga meningkatkan tekanan di perut dan mendorong asam lambung naik,” jelasnya. 

Selain pola makan, tren diet tertentu juga dapat mempengaruhi kesehatan lambung jika dilakukan secara ekstrem. Diet seperti intermittent fasting, diet keto, hingga diet rendah kalori yang terlalu ketat berpotensi memicu gangguan pencernaan bila tidak dilakukan dengan tepat.

Dikatakannya, pada intermittent fasting, misalnya, jeda makan yang terlalu lama dapat meningkatkan risiko asam lambung naik. Di sisi lain, ketika waktu makan tiba, sebagian orang cenderung makan berlebihan sehingga memicu lonjakan asam lambung.

“Diet keto yang tinggi lemak dan rendah karbohidrat juga dapat menimbulkan keluhan di awal masa adaptasi, seperti sembelit, nyeri perut, dan mual,” imbuhnya. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved