Fenomena Fatherless di Indonesia Tinggi, Psikolog Ungkap Dampak Serius bagi Ibu dan Anak
Bahkan, Indonesia disebut berada di peringkat ketiga dunia dengan angka minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Fenomena fatherless di Indonesia tergolong tinggi dan menjadi isu serius dalam tumbuh kembang anak.
Fenomena fatherless adalah kondisi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran atau peran ayah yang memadai, baik secara fisik maupun emosional. Artinya, ayah bisa saja ada secara biologis atau tinggal serumah, tetapi tidak hadir dalam pengasuhan, perhatian, maupun dukungan emosional
Bahkan, Indonesia disebut berada di peringkat ketiga dunia dengan angka minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
Psikolog Miryam A Sigarlaki, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa fatherless bukan sekadar ketiadaan ayah secara biologis. Istilah ini merujuk pada kondisi tidak hadirnya peran ayah, baik secara fisik maupun emosional, dalam kehidupan anak.
Baca juga: Siti Muntamah Oded Bicara Soal Fatherless, Sosok Ayah Penting dan Tak Tergantikan
“Fatherless itu tidak selalu berarti ayahnya tidak ada sama sekali. Bisa jadi ayah masih ada secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional yang dialami oleh anak,” ujar Miryam saat dihubungi, Sabtu (29/11/2025).
Ia menambahkan, kondisi fatherless sering muncul akibat perceraian, kematian, atau faktor lain yang membuat ayah tidak terlibat dalam kehidupan anak.
Dalam beberapa kasus, ayah hadir di rumah, tetapi abai terhadap peran pengasuhan dan kedekatan emosional.
Dosen Fakultas Psikologi Unjani ini pun menyebutkan fenomena perempuan sebagai kepala keluarga tidak serta-merta berarti anak pasti mengalami fatherless, namun kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya fatherless jika tidak diimbangi dengan sistem dukungan yang memadai.
Menurut Miryam, perempuan yang menjadi kepala keluarga umumnya menghadapi beban peran ganda atau role strain dan role overload.
Selain sebagai pencari nafkah, ibu juga memegang penuh peran pengasuhan dan manajer rumah tangga, sering kali tanpa dukungan pasangan.
“Situasi ini meningkatkan risiko stres, kelelahan emosional, bahkan gejala depresi pada sebagian ibu,” tutur Miryam.
Meski demikian, ia menekankan bahwa banyak ibu kepala keluarga juga menunjukkan tingkat resiliensi yang tinggi. Mereka mengembangkan sense of agency dan sense of competence, menemukan makna hidup dari perannya sebagai penopang utama keluarga.
Baca juga: Sedih Indonesia Menjadi 3 Fatherless Country, Pulanglah Para Ayah
Namun dalam konteks budaya patriarki yang masih kuat di Indonesia, ibu kepala keluarga kerap menghadapi stigma sosial.
Penilaian negatif, keraguan terhadap kapasitas ibu, hingga rasa malu dan bersalah bisa muncul dan memengaruhi kesehatan mental.
| Menilik Keunggulan FKG Unjani, Fakultas Kedokteran Gigi Terjangkau dengan Fasilitas Unggulan. |
|
|---|
| Unjani Perkuat Sektor Farmasi Indonesia, Bekali 199 Apoteker dengan Etika dan Empati Pelayanan |
|
|---|
| Bipi Consulting, Mitra Strategis Konsultan HR dan Psikologi: Penilaian Hingga Pengembangan Karyawan |
|
|---|
| Selain Beckham Putra, Jeje Govinda Juga Resmi Sandang Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan di Unjani |
|
|---|
| Cerita Beckham Putra Bagi Waktu Persib dan Kuliah: Manfaatkan Kelas Online Hingga Lulus Sarjana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ayah-dan-anak_20160716_103657.jpg)