Waspada Flu H3N2 Mengancam Indonesia, Lama Rawat Inap Bisa 10 Hari: Awalnya Menyerang Babi
Virus influenza tipe A H3N2 merupakan varian non-manusia yang umumnya beredar di populasi babi, namun memiliki kemampuan untuk berpindah.
TRIBUNJABAR.ID - Gelombang flu tengah melanda sejumlah negara Asia, mulai dari Malaysia, Thailand, Jepang, hingga Indonesia yang kini turut mencatat peningkatan signifikan kasus pada tahun 2025.
Laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa lonjakan penyakit pernapasan ini sebagian besar disebabkan oleh virus Influenza A, terutama subtipe H3N2 yang dominan menyerang populasi dalam beberapa bulan terakhir.
Ahli Epidemiologi sekaligus Peneliti Kebijakan Kesehatan, Dicky Budiman, menegaskan tren peningkatan kasus tersebut.
“Secara regional Asia Tenggara bahkan global, tahun ini influenza A khususnya subtipe A H3N2 itu dilaporkan dominan di beberapa zona dan berkontribusi besar pada kenaikan kasus,” ujarnya kepada Tribunnews, Minggu (19/10/2025).
Virus influenza tipe A H3N2 sendiri merupakan varian non-manusia yang umumnya beredar di populasi babi, namun memiliki kemampuan untuk berpindah dan menginfeksi manusia.
Catatan ilmiah menunjukkan bahwa virus ini pertama kali muncul pada babi pada tahun 2010 dan teridentifikasi menginfeksi manusia setahun kemudian, tepatnya pada 2011.
Sejak saat itu, infeksi H3N2 terus terjadi setiap tahun di berbagai wilayah dunia, termasuk di Amerika Serikat.
Meskipun tingkat keparahannya tidak setinggi H1N1, H3N2 tetap dianggap lebih ganas dibandingkan sejumlah tipe flu lainnya.
Rentang waktu 2003 hingga 2013 bahkan mencatat tiga musim flu yang didominasi H3N2 sebagai periode dengan angka kematian tertinggi, menimbulkan jumlah korban jiwa rata-rata yang lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya.
WHO juga melaporkan bahwa Thailand mengalami peningkatan besar kasus flu, menembus lebih dari 700 ribu kasus dengan 61 kematian hingga awal Oktober 2025.
Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, yang kini turut mencatat lonjakan pasien dengan gejala batuk, pilek, dan demam yang tak kunjung mereda.
Menurut Dicky Budiman, karakteristik virus H3N2 dikenal mudah bermutasi dan sering memicu gejala yang lebih berat dibanding varian lain.
“Influenza A itu menjadi penyebab dominan orang dirawat karena infeksi pernapasan dan memiliki rata-rata lama rawat inap terpanjang, rata-rata 9 sampai 10 hari,” jelasnya.
Situasi ini menyebabkan banyak fasilitas kesehatan di sejumlah negara menghadapi tekanan tinggi, serupa dengan kondisi yang mulai terlihat di berbagai kota besar di Indonesia.
Peningkatan pasien dengan gejala flu yang sulit sembuh turut diperburuk oleh menurunnya imunitas masyarakat pasca pandemi serta beredarnya virus lain seperti RSV dan COVID-19 secara bersamaan.
| IDI Jabar: Kasus "Super Flu" Terdeteksi pada 10 Pasien di Jawa Barat |
|
|---|
| Kasus Flu di Wilayah Jawa Barat Meningkat, ID Sebut H3N2 Bukan Virus Baru |
|
|---|
| Waspada Super Flu Subclade K Masuk Jawa Barat, Kenali Gejala Demam Tinggi dan Kelelahan Ekstrem |
|
|---|
| Gelombang Flu Landa Asia, WHO Soroti Dominasi Influenza A H3N2 Penyebab Lonjakan Kasus di Indonesia |
|
|---|
| Tiga Anak di Jakarta Terpapar Pneumonia Misterius: Pakar Epidemiologi Khawatir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ILUSTRASI-FLU-sa.jpg)