Kamis, 9 April 2026

Apa Itu Aneurisma Otak? Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

Aneurisma Otak adalah  pelebaran atau penggelembungan  sebagian pembuluh darah otak akibat melemahnya dinding pembuluh darah.

Editor: Siti Fatimah
Dok RS Santo Boromeus
Ahli Bidang Saraf yang juga Direktur Utama Rumah Sakit Santo Borromeus dr. Chandra Mulyono, SpS pada acara seminar bertema Act Now, Don’t Wait for a Rupture! yang digelar Rumah Sakit Santo Borromeus dalam rangka memperingati bulan kesadaran aneurisma otak di Four Points Hotel, Bandung, Minggu (12/10/2025). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Otak merupakan bagian dari sistem saraf pusat dan merupakan organ yang kompleks dan vital di dalam tubuh manusia. Untuk itu, sangat penting menjaga kesehatan otak. Selain untuk menjaga fungsi kognitif seperti berpikir, belajar, dan mengingat, menjaga kesehatan otak juga  meningkatkan kualitas hidup, dan mencegah penyakit seperti stroke sera mencegah terjadinya aneurisma otak.

Ahli Bidang Saraf yang juga Direktur Utama Rumah Sakit Santo Borromeus dr. Chandra Mulyono, SpS, mengatakan Aneurisma Otak adalah  pelebaran atau penggelembungan  sebagian pembuluh darah otak akibat melemahnya dinding pembuluh darah.

"Bila pembuluh darah yang mengelembung tersebut pecah atau robek maka terjadi perdarahan ke ruang selaput otak(ruang subarachnoid), gejala yang timbul dapat berupa sakit kepala satu sisi berdenyut terberat dirasakan setelah aktivitas dapat diikuti muntah muntah dan penurunan kesadaran," kata dr Chandra disela acara seminar bertema Act Now, Don’t Wait for a Rupture! yang digelar Rumah Sakit Santo Borromeus dalam rangka memperingati bulan kesadaran aneurisma otak di Four Points Hotel, Bandung, Minggu (12/10/2025).

Dijelaskan, aneurisma otak yang membesar dan pecah merupakan kondisi gawat darurat, karena bisa menyebabkan perdarahan otak, kerusakan jaringan otak, hingga kematian sebelum sampai ke rumah sakit atau selama penanganan di rumah sakit.

Walaupun bisa diderita oleh siapa saja, aneurisma otak mempunyai faktor risiko wanita berusia di atas 40 tahun, penyakit darah tinggi, merokok, penyakit jaringan ikat atau kolagen, riwayat keluarga aneurisma dan lain lain.

Untuk itulah, perlu literasi lebih luas untuk mengenal tentang aneurisma otak untuk pencegahan sedini mungkin.

"Melalui seminar ini, para pakar akan menjelaskan mengenai aneurisma otak, mulai dari gejala hingga penanganan yang harus dilakukan sejak dari rumah hingga ke rumah sakit dan selamat perawatan di rumah sakit sampai persiapan pendamping ke rumah. Informasi dan edukasi harus terus digaungkan kepada masyarakat. Lebih baik kita mencegah dari pada mengobati," katanya.

Pencegahan sedini mungkin karena sebagian besar pasien baru datang ke rumah sakit setelah aneurismanya pecah.

Kondisi ini akan mempersulit penanganan dan memperburuk prognosa atau outcome pasien.

"Oleh karena itu, seminar ini juga bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat apa yang harus mereka lakukan jika mengalami gejala yang mencurigakan aneurisma,” katanya.

Pada kesempatan yang sama,  pakar bedah saraf, dr Pieter MJ Likliwatil, SpBS, M.Kes mengatakan untuk kesehatan otak, kuncinya ialah pembuluh darah harus mendapat suplai nutrisi dan oksigen yang cukup. 

"Untuk itu, orang disarankan untuk pola hidup sehat dengan makan makanan yang baik, olahraga, menghindari rokok dan vape. Pola hidup yang tidak sehat akan membuat kesehatan pembuluh darah menjadi tidak baik," katanya.

Dia juga menjelaskan soal manajemen perdarahan otak akibat ruptur aneurisma dan prosedur bedah kliping yang dapat dilakukan untuk menangani kondisi tersebut. 

Sementara itu, dr Gamaliel Wibowo, Spesialis Neurologi Intervensi menegaskan pentingnya skrining aneurisma otak, khususnya bagi individu dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga, hipertensi, atau kebiasaan merokok.

"Deteksi dini dapat mencegah ruptur aneurisma, sehingga mengurangi dan dapat mencegah risiko risiko dari ruptur aneurisma. Juga akan mengurangi risiko kecacatan dan kematian melalui pendekatan pengobatan mutakhir berbasis teknik minimally invansive," kata dr Gamaliel.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved