Cerita Syamsun Ramli, Mahasiswa Doktor ITB yang Menembus Batas Keterbatasan Fisik
Syamsun Ramli (48) membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi pendidikan.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- Syamsun Ramli (48) membuktikan bahwa kelumpuhan akibat jatuh dari ketinggian 17 meter saat menjadi mahasiswa pada 1998 bukanlah penghalang untuk meraih mimpi pendidikan.
- Didukung penuh oleh keluarga dan bantuan biaya dari dokter ortopedinya, ia berhasil menyelesaikan studi hingga kini menempuh program Doktor Arsitektur di ITB melalui beasiswa LPDP.
- Baginya, menerima keterbatasan adalah langkah awal untuk terus melangkah dan menjadikan pendidikan sebagai ikhtiar utama dalam hidup.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Syamsun Ramli tak pernah menyangka, latihan panjat tebing yang dijalaninya saat masih mahasiswa akan membuatnya terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter.
Buntut dari kecelakaan tersebut, dia mengalami cedera di tulang belakang membuatnya harus menggunakan kursi roda.
Namun dari titik itulah, spirit untuk melanjutkan pendidikan justru tumbuh semakin kuat.
Kini, di usia 48 tahun, Ramli tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Doktor Arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Ramli mengatakan, peristiwa itu terjadi pada 1998. Saat itu, dia masih mahasiswa semester dua Teknik Sipil dan aktif dalam kegiatan mahasiswa pencinta alam.
Dalam latihan panjat tebing untuk persiapan ekspedisi, ia terjatuh dan mengalami kerusakan pada empat ruas tulang belakang bagian torakal (T5–T8), yang menyebabkan paraplegia atau kelumpuhan pada tubuh bagian bawah.
“Awalnya saya benar-benar tidak mau menggunakan kursi roda. Karena berkursi roda waktu itu terasa seperti akhir dari segalanya," ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Dia tak menampik, butuh waktu panjang untuk menerima keadaan. Pergulatan batin yang berat turut dirasakannya.
“Setelah dipikirkan lama, ini adalah anugerah Tuhan. Saya diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki diri,” ujarnya.
Masa pemulihan bukan hanya soal luka fisik. Selama hampir sepuluh tahun, Ramli tidak dapat duduk, berpindah tempat, atau melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan.
Ia menggambarkan dirinya kala itu seperti “boneka” yang sepenuhnya bergantung pada orang lain.
Dia menuturkan, pada tiga tahun pertama, peran orang tua sangat besar. Sang ibu setiap hari melatihnya berjalan menggunakan alat bantu, dengan harapan suatu hari anaknya dapat kembali berdiri.
Dukungan tanpa lelah itu membuat Ramli perlahan berani membayangkan masa depan.
Dalam perjalanan hidupnya, sosok pendamping hidupnya, Sri Nursiani, juga menjadi bagian penting dari kekuatan itu.
| Pertamina Patra Niaga Terima Kunjungan Mahasiswa FEB UGM |
|
|---|
| Southwest Jiaotong University dan ITB Resmikan Tianyou–Djuanda Excellent Engineers College |
|
|---|
| Mahasiswa Unpad Jatinangor Waswas Usai Penodongan: Cerita Ketakutan Hadapi Gang Gelap |
|
|---|
| Pasca-Mahasiswa ITB Hilang, Jalur Pendakian Pasir Kuda di Gunung Puntang Bandung Ditutup Sementara |
|
|---|
| Kisah Ujang Cari Mahasiswa ITB Hilang hingga Tengah Malam, Pulang Pergi Gunung Puntang-Pasir Kuda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Syamsun-Ramli-mahasiswa-Program-Studi-Dokt.jpg)