Universitas Sangga Buana YPKP Bandung Targetkan Hilirisasi Riset Jadi Kekuatan Ekonomi
USB YPKP Bandung mulai mengarahkan riset dosen ke arah hilirisasi dan komersialisasi agar bernilai ekonomi.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- USB YPKP Bandung mulai mengarahkan riset dosen ke arah hilirisasi dan komersialisasi agar bernilai ekonomi.
- Untuk mendukung target perlindungan 16 karya HKI tahun ini, pihak kampus resmi membentuk Sentra HKI.
- Meski total dana hibah naik menjadi Rp800 juta, tantangan terbesar kini ada pada pergeseran budaya akademik dosen yang selama ini dinilai masih terlalu fokus pada aktivitas mengajar.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung mulai membidik orientasi riset kampus, tak lagi sekadar berhenti pada laporan dan publikasi ilmiah.
Rektor Universitas Sangga Buana YPKP Bandung, Didin Saepudin, mengatakan pihaknya tengah membangun ekosistem riset yang lebih berdampak.
Menurut dia, luaran penelitian tidak cukup hanya berhenti dalam bentuk tulisan atau publikasi.
“Ke depan kami ingin output riset tidak hanya tulisan, tetapi menjadi outcome yang nyata. Arahan pemerintah juga jelas, bagaimana riset ini bisa berubah menjadi aset dan dikomersialisasikan,” kata Didin, saat ditemui, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, penguatan kelembagaan riset dilakukan melalui pengembangan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) sekaligus pembentukan pusat studi dan Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Langkah ini dipersiapkan untuk menopang target pembentukan Pusat Unggulan Inovasi (PUI).
Menurut Didin, arah kebijakan tersebut sejalan dengan dorongan pemerintah agar hasil penelitian kampus memiliki nilai ekonomi.
“Dari riset menjadi aset, lalu bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi. Jadi kampus tidak hanya bergantung pada tuition fee atau uang kuliah mahasiswa, tetapi juga generating income dari komersialisasi riset,” ujarnya.
USB YPKP, kata dia, juga mulai menjajaki kerja sama dengan sejumlah lembaga daerah untuk mengomersialisasikan gagasan akademik dosen.
Salah satunya melalui penyusunan naskah akademik dan rancangan peraturan daerah.
“Selama ini teman-teman sudah terlibat menyusun naskah akademik untuk peraturan daerah. Itu juga bisa dianggap sebagai bentuk komersialisasi pemikiran akademik,” katanya.
Didin menilai peluang hilirisasi riset cukup besar karena pihaknya memiliki tiga rumpun keilmuan utama, yakni ekonomi, politik, dan teknik.
Menurut dia, bidang teknik menjadi salah satu sektor yang paling potensial karena menghasilkan produk yang lebih nyata dan dapat dipakai masyarakat.
“Kalau teknik, hasilnya lebih real karena bisa sampai prototype yang dapat digunakan end user. Tapi kekuatannya justru saat tiga bidang ilmu ini berkolaborasi,” ujarnya.
| Gubernur Dedi Mulyadi Turun Tangan Gusur PKL Cicadas, Siapkan Solusi Pekerjaan Baru buat Pedagang |
|
|---|
| Pedagang Sapi Mogok Massal, Walkot Bandung Farhan Langsung Intervensi Importir Guna Tekan Inflasi |
|
|---|
| Daging Sapi di Pasar Kosambi Tembus Rp160 Ribu, Wali Kota Bandung Bongkar Pemicunya: Pakan Naik |
|
|---|
| Lomba Lari di Bandung Bikin Emosi Warga, Wali Kota Farhan Minta Maaf dan Janji Evaluasi |
|
|---|
| Jadi Tempat Favorit, Mahasiswa Unisba Manfaatkan Serambi Uzma untuk Kulineran Hingga Nugas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Foto-bersama-penerima-hibah-penelitian-di-Universitas-Sangga-Buana.jpg)