Sabtu, 9 Mei 2026

Pasar Edtech Indonesia Diprediksi Tembus USD 8,8 Miliar, Sekolah Daerah Masih Terkendala Akses

Industri teknologi pendidikan di Indonesia menunjukkan pertumbuhan pesat dengan proyeksi nilai pasar mencapai USD 8,8 miliar pada 2033.

Tayang:
Istimewa
Founder Arfadia Tessar Napitupulu (kiri) mempresentasikan sistem informasi kepada jajaran kementerian. 

Ringkasan Berita:
  • Industri teknologi pendidikan di Indonesia menunjukkan pertumbuhan pesat dengan proyeksi nilai pasar mencapai USD 8,8 miliar pada 2033. 
  • Namun, penerapan digitalisasi pendidikan masih menghadapi kesenjangan akses teknologi dan infrastruktur antara sekolah di kota dan daerah. 
  • Penguatan jaringan, perangkat, serta kapasitas guru dinilai menjadi kunci agar transformasi digital pendidikan dapat berjalan merata.

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Transformasi pendidikan berbasis teknologi di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin cepat seiring pertumbuhan industri teknologi pendidikan atau edtech.

Meski demikian, penerapannya di lapangan belum sepenuhnya berjalan mulus karena masih dihadapkan pada persoalan infrastruktur serta kesenjangan akses antara sekolah yang berada di kawasan perkotaan dan wilayah daerah.

Berdasarkan laporan IMARC Group, nilai pasar industri teknologi pendidikan di Indonesia diperkirakan mencapai USD 3,2 miliar pada 2024. Angka tersebut bahkan diproyeksikan terus meningkat hingga menyentuh USD 8,8 miliar pada 2033.

Lonjakan nilai pasar tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap solusi pembelajaran berbasis teknologi semakin besar. Walaupun begitu, kemajuan tersebut belum sepenuhnya dapat dinikmati secara merata oleh seluruh sekolah.

Di berbagai kota besar, penggunaan platform pembelajaran digital telah cukup akrab di kalangan pelajar dan mulai menjadi bagian dari aktivitas belajar. Sebaliknya, sejumlah sekolah di wilayah daerah masih menghadapi keterbatasan dalam memperoleh akses terhadap teknologi pendidikan.

Masih terdapat sekolah dasar di tingkat kabupaten yang baru memperoleh sambungan internet dalam beberapa tahun terakhir. Selain persoalan jaringan, keterbatasan perangkat komputer maupun laptop untuk menunjang proses pembelajaran digital juga masih menjadi hambatan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya mendorong penyediaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi melalui program Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan.

Ketentuan yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 7 Tahun 2018 menyebutkan bahwa sekolah penerima alokasi DAK untuk teknologi informasi wajib menyediakan software e-content media pembelajaran yang selaras dengan kurikulum nasional.

Kebutuhan tersebut kemudian membuka peluang bagi pengembang teknologi pendidikan untuk menyediakan perangkat lunak pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah, termasuk yang berada di daerah.

Berbeda dengan sebagian platform edtech yang mengandalkan model langganan individu, perangkat lunak yang disediakan melalui pengadaan pemerintah biasanya berupa paket pembelajaran yang dipasang di laboratorium komputer sekolah.

Konten pembelajaran dalam perangkat tersebut umumnya berisi beragam materi digital. Di antaranya multimedia interaktif, video pembelajaran, buku elektronik, hingga kuis evaluasi yang disusun mengikuti kurikulum nasional.

Sejumlah perusahaan teknologi lokal mulai melihat kebutuhan ini sebagai ruang pengembangan. Mereka mengembangkan perangkat lunak pendidikan untuk mendukung proses belajar di sekolah. Salah satu contohnya adalah sistem pembelajaran digital SIDIA yang dikembangkan Arfadia Digital Indonesia.

Founder Arfadia, Tessar Napitupulu, menjelaskan latar belakang perusahaannya mengembangkan sistem pembelajaran tersebut. Ia mengatakan bahwa gagasan pengembangan perangkat lunak pendidikan SIDIA muncul setelah melihat kebutuhan yang ditemui di sejumlah daerah.

"Ketika kami pertama kali mengembangkan sistem ini, motivasinya sederhana. Banyak sekolah di daerah yang sudah memiliki laboratorium komputer dari pengadaan DAK, tetapi software-nya tidak relevan atau bahkan tidak ada," tutur Tessar, Rabu (11/3/2026).

Seiring waktu, sejumlah pemerintah daerah juga mulai mencoba memanfaatkan teknologi pendidikan sebagai bagian dari upaya digitalisasi sekolah. Salah satu penerapan pernah dilakukan di Barito Selatan dengan memanfaatkan platform digital sebagai sarana komunikasi antara pemerintah daerah, dinas pendidikan, sekolah, hingga orangtua siswa.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved