Rabu, 29 April 2026

Anak Tidak Sekolah di Jabar

10 Ribu Anak di Sumedang Tidak Sekolah, Dinas Pendidikan Genjot Program Akselerasi

Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang berhasil menurunkan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) dari 14 ribu menjadi 10 ribu jiwa melalui kolaborasi.

Canva
ILUSTRASI SISWA SD - Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang mencatat sekitar 10 ribu anak masih berstatus Anak Tidak Sekolah (ATS). 

Ringkasan Berita:
  • Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang berhasil menurunkan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) dari 14 ribu menjadi 10 ribu jiwa melalui kolaborasi lintas sektor. 
  • Capaian ini menempatkan Sumedang di peringkat pertama penanganan ATS se-Jawa Barat. 
  • Pemerintah fokus pada pendataan ulang dan optimalisasi PKBM lewat program kesetaraan untuk mengatasi faktor ekonomi serta rendahnya kesadaran pendidikan.

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang mencatat sekitar 10 ribu anak masih berstatus Anak Tidak Sekolah (ATS). Jumlah tersebut menurun dari sebelumnya sekitar 14 ribu anak berusia 7-18 tahun setelah dilakukan berbagai upaya penanganan sejak 2025.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sekitar 4 juta anak di Indonesia tidak bersekolah. Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah tertinggi, mencapai 106.196 anak.

Kepala Dinas Pendidikan Sumedang Eka Ganjar Kurniawan mengatakan, penurunan angka tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, kecamatan, hingga desa dalam melakukan pendataan dan penanganan ATS secara terstruktur.

“Awalnya sekitar 14 ribu, sekarang sudah turun menjadi 10 ribu anak. Ini hasil dari akselerasi yang kami lakukan bersama kecamatan dan desa,” ujarnya kepada TribunJabar.id melalui sambungan telepon, Senin (27/4/2026). 

Ia menjelaskan, langkah awal yang dilakukan adalah pendataan ulang secara menyeluruh terhadap anak tidak sekolah di seluruh wilayah Kabupaten Sumedang. Data tersebut kemudian menjadi dasar intervensi melalui program pendidikan nonformal.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melibatkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) agar anak-anak yang tidak sekolah dapat mengikuti program kesetaraan Paket A, B, dan C.

Menurut Eka, upaya tersebut menunjukkan hasil positif. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Sumedang disebut meraih peringkat pertama di Jawa Barat dalam penanganan ATS.

“Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menuntaskan persoalan ATS,” katanya.

Ke depan, Dinas Pendidikan akan melanjutkan program akselerasi pada 2026 dengan target menekan angka ATS sekaligus meningkatkan rata-rata lama sekolah di Sumedang.

Eka menjelaskan, ATS terbagi dalam tiga kategori, yakni anak yang tidak pernah sekolah, tidak melanjutkan pendidikan, serta putus sekolah. Adapun faktor penyebabnya beragam, mulai dari keterbatasan ekonomi hingga rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Jabar Tertinggi Nasional

Jumlah anak yang belum mengenyam pendidikan formal di Indonesia masih berada pada angka yang mencolok. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat totalnya mencapai sekitar 4 juta anak yang tersebar di berbagai wilayah.

Dari keseluruhan angka tersebut, Jawa Barat muncul sebagai provinsi dengan jumlah anak tidak sekolah paling besar. Tercatat sebanyak 106.196 anak berada dalam kondisi tersebut, menjadikannya wilayah dengan angka tertinggi secara nasional.

"Terkait dengan sebaran anak tidak sekolah, ini hampir semua provinsi ada anak tidak sekolah, angka tertinggi itu di Jawa Barat, secara sebaran jumlahnya itu ada 106.196," kata Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, dilansir kompas.com, 27 April 2026.

Setelah Jawa Barat, posisi berikutnya ditempati Jawa Tengah dengan sekitar 59.000 anak, disusul Jawa Timur yang mencatatkan 53.000 anak tidak sekolah. Angka tersebut memperlihatkan konsentrasi tinggi di wilayah-wilayah dengan populasi besar.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved