Rabu, 20 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp17.500 dan Diklaim Tak Berdampak ke Desa, Pengamat Beri Warning Keras: Ada Apa?

Pandangan bahwa dampaknya tidak terlalu terasa bagi masyarakat desa memang memiliki dasar kebenaran dalam konteks tertentu. 

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Kompas.com
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS. (KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA) 
Ringkasan Berita:
  • Melemahnya rupiah terhadap dolar AS hingga mendekati Rp17.600 dinilai Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto tidak memberikan dampak langsung kepada masyarakat desa
  • Dosen sekaligus pengamat ekonomi dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, mengatakan pandangan bahwa dampaknya tidak terlalu terasa bagi masyarakat desa memang memiliki dasar kebenaran dalam konteks tertentu. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Melemahnya rupiah terhadap dolar AS hingga mendekati Rp17.600 dinilai Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto tidak memberikan dampak langsung kepada masyarakat desa, yang aktivitas ekonominya dinilai lebih bertumpu pada sektor lokal. 

Padahal, nilai tukar rupiah tersebut tertinggi sepanjang sejarah. 

Menanggapi hal tersebut, Dosen sekaligus pengamat ekonomi dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, mengatakan pandangan bahwa dampaknya tidak terlalu terasa bagi masyarakat desa memang memiliki dasar kebenaran dalam konteks tertentu. 

Kendati demikian, Riza menegaskan pernyataan tersebut tidak sepenuhnya tepat jika diproyeksikan dalam jangka lebih panjang. 

“Secara langsung, masyarakat desa mungkin tidak terlalu merasakan dampaknya karena transaksi sehari-hari menggunakan rupiah dan tidak berhubungan langsung dengan dolar AS. Namun secara tidak langsung, pelemahan rupiah tetap dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat hingga ke daerah,” jelasnya, kepada TribunJabar.id, Minggu (17/5/2026). 

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17 Ribu, Farhan Sebut Biaya BBM untuk Angkut Sampah Tambah Berat

Riza menuturkan, pengaruh dari anjloknya rupiah yang saat ini stagnan dinilai Rp17 ribu, mestinya menjadi lonceng pengingat bagi pemerintah. 

Pasalnya, pengaruhnya bukan isapan jempol. Tak hanya menyasar segmentasi wilayah, dampak kenaikan harga barang yang memiliki ketergantungan impor atau bahan baku impor akan turut dirasakan masyarakat desa. 

“Seperti BBM, pupuk, pakan ternak, obat-obatan, hingga beberapa kebutuhan elektronik,” imbuhnya. 

Riza mencontohkan, jika rupiah terus melemah, biaya distribusi dan produksi juga bisa meningkat, sehingga akhirnya berdampak pada harga barang di pasar tradisional maupun kebutuhan masyarakat desa.

Selain itu, kata dia, pelemahan rupiah juga dapat mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. 

“Ketika harga kebutuhan naik tetapi pendapatan masyarakat tidak ikut meningkat, maka tekanan ekonomi akan mulai terasa secara bertahap,” imbuhnya. 

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat inflasi di Jabar secara year on year (yoy) April 2026 berada di level 2,49 persen, sedangkan secara year to date (ytd) April 2026 sebesar 1,17 persen.

Adapun komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi year on year April 2026 yaitu emas perhiasan sebesar 0,81 persen, daging ayam ras sebesar 0,21 persen, beras sebesar 0,17 persen, minyak goreng sebesar 0,09 persen, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,08 persen.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Apindo Jabar: Dunia Usaha Mulai Tertekan

Dikatakan Riza, semestinya pemerintah perlu diwaspadai pemerintah jika rupiah terus melemah adalah meningkatnya biaya impor, tekanan terhadap inflasi. 

Sedangkan nilai ekspor dan impor Jawa Barat sama-sama mengalami penurunan pada Maret 2026. 

Ekspor Jawa Barat Maret 2026 mencapai USD 2,68 miliar, angka ini turun dibandingkan Februari 2026 yang mencapai USD 3,32 miliar. 

Secara year on year angka ekspor Maret 2026 juga alami penurunan sebesar 13,46 persen dibandingkan Maret 2025. 

Diketahui, nilai ekspor Jawa Barat pada Januari-Maret 2026 tercatat sebesar 9,13 miliar dollar AS atau turun 2,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Adapun penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya ekspor sektor nonmigas.

Di sisi impor, BPS mencatat nilai impor Jawa Barat pada Maret 2026 sebesar 0,70 miliar dollar AS atau turun 19 persen dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 0,86 miliar dollar AS.

Riza menyoroti potensi kenaikan suku bunga buntut dari rupiah melemah bisa berujung  menurunnya kepercayaan investor. 

Baru-baru ini, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pencoretan 18 saham Indonesia. 

Hal tersebut memicu tekanan di pasar saham domestik dan membebani laju IHSG pada perdagangan.

Berdasarkan data RTI Business, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) senilai Rp1,53 triliun di seluruh pasar pada perdagangan Rabu (13/5/2026).

Riza menjelaskan, bila kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu panjang, dunia usaha dipastikan tertekan di tengah depresiasi. 

“Jika kondisi berlangsung lama, dunia usaha juga bisa menahan ekspansi karena biaya operasional meningkat,” kata dia. 

Namun di sisi lain, tambah Riza, pelemahan rupiah sebenarnya bisa memberikan peluang bagi sektor ekspor dan pariwisata. 

Hal tersebut bukan tanpa alasan, produk Indonesia menjadi negara lebih murah di pasar internasional. 

Menurutnya, di tengah situasi tersebut mestinya mampu mendongkrak kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. 

Di Jabar, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) melalui pintu masuk Bandara Kertajati  mengalami kebaikan signifikan sepanjang Maret 2026 sebesar 69,14 persen. 

Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.483, Kadin Kabupaten Bandung Minta Penguatan Produk Lokal untuk Jaga UMKM

Tercatat sebanyak 274 wisman masuk ke Jawa Barat dengan didominasi oleh penduduk luar negeri sebanyak 67,88 persen. 

Penduduk luar negeri merupakan WNI yang tinggal di luar negeri yang memanfaatkan libur lebaran untuk mudik ke Jawa Barat melalui Bandara Kertajati.

Sedangkan WNA yang masuk melalui Stasiun Whoosh pada Maret 2026 mencapai 7.245 kunjungan, turun 46,19 persen secara month to month, namun secara  yoy naik 12,80 persen. 

Selama periode Januari – Maret 2026 tercatat 38.588 kujungan WNA ke Jawa Barat menggunakan Whoosh. 

Angka ini turun 10,80 persen dibandingkan periode Januari – Maret 2025, namun baik 76,58 persen dibandingkan periode yang sama 2024.

Riza menambahkan, pemerintah harus cermat menjawab tantangan saat ini, terlebih geopolitik di timur tengah turut berimbas ke sektor domestik. 

“Jadi tantangannya adalah bagaimana pemerintah menjaga stabilitas ekonomi agar pelemahan rupiah tidak berubah menjadi tekanan berkepanjangan terhadap daya beli masyarakat,” kata Riza.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved