Rupiah Masih Tembus Rp 17 Ribu per Dolar, Pengamat: Masih Didominasi Faktor Global
Nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda penguatan. Hingga Minggu (3/5/2026) rupiah tembus Rp17.334 per dolar.
Penulis: Nappisah | Editor: Seli Andina Miranti
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah per 3 Mei 2026 berada di Rp17.334 per dolar, masih dalam fase rebound teknis setelah tekanan sebelumnya.
- Praktisi keuangan Rizaldy menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi faktor global seperti kebijakan suku bunga AS, geopolitik, dan arus modal internasional.
- Penguatan rupiah saat ini dinilai terbatas dan belum mencerminkan perubahan fundamental, dengan pergerakan yang masih volatil.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda penguatan. Hingga Minggu (3/5/2026) rupiah tembus Rp17.334 per dolar.
Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, Praktisi Keuangan sekaligus Dosen Universitas Islam Nusantara mengatakan, rupiah saat ini tengah rebound atau pemulihan teknis setelah sebelumnya mengalami tekanan.
“Jadi, bukan berarti rupiah tiba-tiba menjadi sangat kuat, tetapi lebih kepada respon pasar setelah mencapai titik pelemahan yang cukup tinggi,” ujarnya, kepada TribunJabar.id, Minggu (3/5/2026).
Rizaldy menuturkan, dalam dinamika pasar keuangan, kondisi seperti ini sangat wajar terjadi, terutama ketika sebelumnya terjadi tekanan eksternal yang besar.
Dia menjelaskan, faktor utama melemahnya rupiah hingga tembus Rp17 ribu dipengaruhi oleh dominasi faktor global.
Baca juga: NiIai Tukar Rupiah Melemah Jadi Rp17.334, Momentum Dongkrak Inbound Tourisme
“Pergerakan rupiah saat ini masih didominasi oleh faktor global, seperti kebijakan suku bunga di Amerika Serikat, ketidakpastian geopolitik, serta pergerakan arus modal internasional,” ucapnya.
Dikatakannya, ketika tekanan global sedikit mereda atau pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi, rupiah bisa terlihat menguat.
Kendati demikian, penguatan ini masih bersifat terbatas dan belum mencerminkan perubahan fundamental yang signifikan.
Rizaldy memprediksi pergerakan rupiah masih akan cenderung volatil.
“Artinya bisa menguat, tetapi juga masih berpotensi melemah kembali tergantung kondisi global,” tuturnya.
Oleh karena itu, kata dia, yang paling penting bukan hanya melihat pergerakan jangka pendek. Namun, bagaimana pemerintah dan otoritas mampu menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel.
“Dari sisi kebijakan, pemerintah pusat perlu terus menjaga stabilitas makroekonomi, termasuk pengendalian inflasi dan defisit fiskal, serta memperkuat daya tarik investasi di dalam negeri,” imbuhnya.
Sementara di tingkat daerah seperti Jawa Barat, Rizaldy menyebutkan fokus pemda bisa diarahkan pada penguatan sektor riil.
Dia mencontohkan, beberapa sektor yang bisa didorong sepert ekspor UMKM, meningkatkan daya saing produk lokal, dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Baca juga: Redenominasi Rupiah Dinilai Tak Mendesak, Pengamat: Stabilisasi Nilai Tukar Lebih Penting
nilai tukar rupiah
Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy
Universitas Islam Nusantara
pasar keuangan
dolar
| Rupiah Tembus Rp17.002, IHSG Ikut Loto, Pengamat: Pasar Butuh Bukti Nyata Pemerintah |
|
|---|
| Jangan hanya untuk Belanja, Ini Tips Kelola THR ala Pengamat Ekonomi Uninus agar Tak 'Cuma Lewat' |
|
|---|
| Konflik Geopolitik Diprediksi Picu Kenaikan Harga Emas, Jadi Target Investor Pindahkan Dana |
|
|---|
| Buntut Selat Hormuz Ditutup: Minyak Naik, Dolar Menguat, Pengamat Sebut Indonesia Bisa Rugi 2 Kali |
|
|---|
| Rem Darurat BEI Aktif, Pengamat: Trading Halt Bukan Tanda Krisis, Pasar Sedang Bereaksi Berlebihan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Ilustrasi-Uang-19102023.jpg)