Nilai Tukar Rupiah Terus Tertekan, Pengamat: Tekanan Bisa Berlanjut hingga Maret
Pelemahan rupiah merupakan akumulasi tekanan yang terjadi dalam jangka menengah dan mencapai puncaknya di awal tahun ini.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- Kurs rupiah spot melemah ke level Rp16.988 per dolar AS pada Selasa (20/1/2026), dipicu oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik global dan sentimen kebijakan tarif Amerika Serikat.
- Pengamat Ekonomi Unpas, Acuviarta Kartabi, menjelaskan bahwa tekanan domestik seperti defisit APBN yang mendekati 3 persen, penurunan harga komoditas ekspor, serta tingginya permintaan dolar untuk pembayaran utang luar negeri turut memperparah kondisi ini.
- Volatilitas diprediksi akan terus berlangsung hingga Maret 2026.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kurs rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (20/1/2025).
Rupiah spot berada di level Rp16.988 per dolar AS, melemah 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.955 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, mengatakan pelemahan rupiah merupakan akumulasi tekanan yang terjadi dalam jangka menengah dan mencapai puncaknya di awal tahun ini.
“Dalam jangka menengah, fluktuasi nilai tukar rupiah memang terus mengalami tekanan. Saya kira puncaknya terjadi di awal tahun ini karena ada berbagai faktor yang memengaruhi, baik global maupun domestik,” ujar Acuviarta, kepada TribunJabar.id, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, dari sisi global, investor masih dibayangi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Sentimen pasar antara lain dipengaruhi kebijakan pemerintah Amerika Serikat serta konflik yang terjadi di sejumlah kawasan.
“Investor masih melihat banyak ketidakpastian global, mulai dari kebijakan pemerintah Amerika Serikat, isu tarif, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah. Ini jelas memengaruhi pergerakan pasar keuangan,” katanya.
Selain itu, faktor politik dan kebijakan moneter AS juga turut menekan rupiah. Menurut Acuviarta, dinamika di bank sentral AS dan kuatnya pengaruh politik ikut memengaruhi arus modal global.
“Pergantian kepemimpinan di bank sentral Amerika dan kuatnya dominasi kebijakan politik di sana berdampak pada sentimen pasar, khususnya mobilitas dana keluar dan masuk Amerika Serikat,” ujarnya.
Dari dalam negeri, tekanan rupiah dipicu meningkatnya permintaan dolar AS. Kebutuhan tersebut berasal dari pembayaran bunga dan cicilan utang luar negeri, aktivitas impor, serta repatriasi dividen perusahaan asing.
“Permintaan dolar di akhir tahun hingga awal tahun memang meningkat, baik untuk pembayaran utang, impor, maupun pengiriman dividen ke luar negeri,” kata Acuviarta.
Ia juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal nasional, seiring defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang mendekati batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Defisit APBN yang hampir menyentuh 3 persen PDB menimbulkan kekhawatiran karena artinya pemerintah harus menambah utang. Ini berpengaruh terhadap persepsi pasar,” ucapnya.
Di sisi lain, penurunan harga komoditas turut menekan pasokan devisa.
“Harga sawit dan batu bara turun, sehingga penerimaan devisa ikut berkurang,” tambah Acuviarta.
| Rupiah Tembus Rp 17.513, Industri Kosmetik Jabar Waspadai Kenaikan Harga Bahan Baku Impor |
|
|---|
| Bukan Cuma Pelemahan Rupiah, Kenaikan Harga Material Dorong Harga Elektronik Naik |
|
|---|
| Ekonom Unpar: Rupiah Bisa Tembus Rp 18.000 jika Konflik Timur Tengah Berlanjut |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp17.000, Pemilik KPR Komersial Cemas Hadapi Kenaikan Cicilan |
|
|---|
| Dampak Pelemahan Rupiah: Biaya Impor Bahan Baku Meroket, Margin Keuntungan Industri Menipis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ILUSTRASI-UANG-BSU-2025-RUPIAH.jpg)