Minggu, 10 Mei 2026

Bukan Cuma Pelemahan Rupiah, Kenaikan Harga Material Dorong Harga Elektronik Naik

Kenaikan harga elektronik saat ini bukan semata-mata dipicu pelemahan rupiah, lonjakan harga material global juga ikut membebani biaya produksi.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/Fauzi Noviandi
ILUSTRASI TOKO ELEKTRONIK - Pelemahan nilai tukar rupiah yang masih bertahan di level Rp17.361 per USD mulai memberi tekanan pada industri elektronik. 

Ringkasan Berita:
  • Pelemahan nilai tukar rupiah di level Rp17.361 per USD mulai menekan industri elektronik, memicu penyesuaian harga produk.
  • Menurut Andry Adi Utomo, kenaikan harga bukan hanya karena kurs rupiah, tetapi juga lonjakan harga material global seperti minyak bumi, tembaga, dan memory chip.
  • Sharp melakukan penyesuaian harga bertahap agar tidak membebani konsumen, sekaligus memastikan pasokan tetap aman tanpa kelangkaan stok.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelemahan nilai tukar rupiah yang masih bertahan di level Rp17.361 per USD mulai memberi tekanan pada industri elektronik

Kondisi ini berdampak pada penyesuaian harga sejumlah produk, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor dan komponen global.

National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, mengatakan kenaikan harga elektronik saat ini bukan semata-mata dipicu pelemahan rupiah

Menurutnya, lonjakan harga material global juga ikut membebani biaya produksi.

Baca juga: Bisnis Elektronik saat Konflik Global, Log In Megastore Optimis Piala Dunia Dongkrak Penjualan TV

“Memang ada penyesuaian harga, tapi bukan hanya karena kurs rupiah. Kenaikan harga material seperti minyak bumi, tembaga, dan memory chip juga berpengaruh,” ujar Andry, kepada Tribunjabar.id, Jumat (8/5/2026).

Dikatakan Andry, penyesuaian harga dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi pasar agar tidak terlalu membebani konsumen.

"Meski tekanan kurs meningkat, Sharp memastikan belum ada gangguan pasokan maupun kelangkaan stok barang," imbuhnya. 

 Meski demikian, pihaknya juga mengantisipasi potensi keterbatasan komponen dengan mengevaluasi vendor yang ada dan menambah pemasok baru.

“Untuk komponen kami evaluasi vendor existing sekaligus mencari vendor baru. Sementara untuk barang jadi, kami melakukan negosiasi agar mendapat harga terbaik,” katanya.

Andry tak menampik bila perekonomian saat ini memamng  belum sepenuhnya stabil. 

Meski demikian, dia menilai daya beli masyarakat masih cukup terjaga. Hal tersebut bukan tanpa alasan,  penjualan produk elektronik yang masih berada dalam batas normal.

Andry menyebut, hingga saat ini penjualan sell out atau penjualan langsung ke konsumen masih berjalan baik dan belum menunjukkan penurunan signifikan.

“Daya beli masih dalam batas yang belum kami khawatirkan. Penjualan Sharp sejauh ini masih cukup oke dan masih normal,” ujarnya.

Dia menuturkan, guna menghadapi kenaikan kurs dan biaya impor, Sharp menerapkan sejumlah strategi, mulai dari penyesuaian harga, efisiensi operasional, hingga pengurangan margin keuntungan sementara.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved