Sabtu, 9 Mei 2026

Konveksi Bandung Berupaya Bangkit, Hadapi Tantangan Komoditas Global dan Pasar E-Commerce

Industri konveksi di Bandung menghadapi tekanan ganda akibat kenaikan harga bahan baku hingga 20% menyusul konflik di Timur Tengah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
lutfi ahmad mauludin/tribun jabar
Usaha konveksi di Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Minggu (24/9/2023). Industri konveksi di Bandung masih berupaya bertahan di tengah tekanan ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga sejumlah komoditas. 
Ringkasan Berita:
  • Industri konveksi di Bandung menghadapi tekanan ganda akibat kenaikan harga bahan baku hingga 20 persen menyusul konflik di Timur Tengah serta maraknya produk impor ilegal di platform e-commerce. 
  • Ketua IPKB, Nandi Herdiaman, menyatakan pengusaha kini terpaksa menekan margin keuntungan demi mempertahankan operasional dan tenaga kerja. 
  • Pihaknya mendesak pemerintah memperketat pengawasan barang impor tanpa pajak agar industri lokal tetap memiliki ruang bersaing.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Industri konfeksi di Bandung masih berupaya bertahan di tengah tekanan ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga sejumlah komoditas.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konfeksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman, mengatakan dampak paling terasa berasal dari lonjakan harga bahan baku seperti benang dan kain, serta biaya logistik yang ikut terkerek. 

“Kenaikan mencapai sekitar 20 persen sejak konflik pecah bulan lalu,” kata dia, Jumat (8/5/2026). 

Menurut Nandi, kondisi ini membuat pengusaha harus memutar strategi agar produksi tetap berjalan.

Menurutnya, para pelaku usaha memilih menekan margin keuntungan demi menjaga arus produksi sekaligus mempertahankan tenaga kerja yang masih bergantung pada industri konveksi.

"Yang berat itu bukan cuma bahan baku. Pasar dalam negeri juga tergerus barang murah ilegal dari e-commerce. Kita kalah harga, padahal kualitas beda jauh," kata Nandi.

Selain kenaikan biaya produksi, industri konfeksi juga menghadapi tekanan dari masuknya produk pakaian jadi impor murah yang dijual melalui platform e-commerce.

Produk-produk tersebut dinilai merugikan pelaku usaha lokal karena masuk dengan harga sangat rendah, bahkan di bawah biaya produksi dalam negeri.

“Barang masuk tanpa pajak dan SNI, dijual di bawah harga pokok produksi lokal,” jelasnya. 

Kondisi ini, kata dia, membuat pasar domestik semakin tertekan, terutama bagi konveksi yang selama ini mengandalkan pesanan dari UMKM lokal dan pasar retail.

Nandi meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap arus barang impor, khususnya yang dijual melalui platform digital.

Ia menilai kebijakan perlindungan terhadap industri lokal perlu diperkuat agar sektor konfeksi nasional tidak semakin terpuruk di tengah situasi global yang belum stabil.

"Kami berharap ada kebijakan afirmatif supaya produk lokal tetap punya ruang bersaing," ujarnya. (*) 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved