Perjalanan Bell Living Lab Olah Limbah Kopi Jadi Material Multifungsi
Bell Living Lab mengoptimalkan pengelolaan limbah kopi menjadi material dan produk furnitur ramah lingkungan dengan nilai jual tinggi.
Penulis: Fransisca Andeska | Editor: Content Writer
TRIBUNJABAR.ID - Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Namun, dari hasil produksi kopi, yang dimanfaatkan secara optimal umumnya hanya bijinya. Kulit dan ampas kopi masih banyak yang terbuang tanpa pengolahan lanjutan yang bisa memberi nilai ekonomi.
Padahal, jika dikelola dengan tepat, limbah kulit kopi bisa diolah menjadi material ramah lingkungan dengan nilai jual tinggi. Kondisi inilah yang mendorong Arka Irfani mendirikan Bell Living Lab.
Latar belakangnya sebagai lulusan biologi dengan fokus ekologi membuat Arka melihat limbah bukan sekadar sisa produksi, melainkan potensi material baru. Arka memulai riset sejak 2018 sebagai proyek kampus, hingga resmi mendirikan Bell Living Lab sebagai perusahaan pada 2020.
Awalnya, Arka dan tim sempat mengeksplorasi limbah buah dan sayur. Namun mereka melihat potensi lebih besar pada limbah kopi, khususnya kulit kopi di wilayah Cilengkrang, Kabupaten Bandung.
“Waktu riset di lapangan, saya melihat sendiri bagaimana limbah menumpuk dan tidak dianggap bernilai, padahal volumenya besar. Saya berpikir, kenapa kita hanya fokus pada biji kopinya saja? Bagaimana kalau kulit dan ampasnya juga bisa kita naikkan nilainya?” ujar Arka saat sesi wawancara dengan Tribunnews, Kamis (12/02/2026).
Mengolah Limbah Kopi jadi Material Bernilai Ekonomi

Bell Living Lab mengembangkan material berbasis limbah kulit kopi dan ampas kopi. Limbah tersebut difermentasi dan diproses menjadi berbagai bentuk material, mulai dari leather alternatif untuk produk fesyen hingga papan dan panel untuk kebutuhan interior.
Salah satu inovasi unggulan Bell Living Lab adalah C-foam. Material ini dikembangkan lebih lanjut dengan dukungan Program Community Link #JadiNyata 2024 dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) yang membantu percepatan kapasitas produksi.
“C-foam itu material berbasis limbah kopi yang bisa kami atur tingkat kepadatannya. Jadi bisa dipakai untuk panel akustik, furnitur, sampai aplikasi interior lain,” ucap Arka.
Di Indonesia, material C-foam dan papan kopi telah digunakan di sejumlah coffee shop, salah satunya terdapat di kawasan Bintaro dan beberapa proyek interior lainnya.
Berkat material yang dikembangkan, Bell Living Lab pun mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan studio Banda dari Bali untuk pembuatan produk Espresso Chair.
Bell Living Lab juga telah memiliki distributor di Singapura dan meraih penghargaan di program Good Design Indonesia untuk mempresentasikan produk di Osaka World Expo.
Menurut Arka, kolaborasi lintas bidang dibutuhkan agar inovasi bisa tumbuh lebih cepat dan memiliki nilai desain yang kuat. Terlebih, pengembangan biomaterial tidak bisa dilakukan sendiri.
Kolaborasi dengan Studio Banda jadi contoh nyata bahwa pendekatan kolaboratif dapat menghasilkan produk dengan identitas kuat dan diterima di panggung internasional.
Baca juga: Sun Life Indonesia Kolaborasi dengan CIMB Niaga Luncuran Produk Asuransi X-Tra Plan Protection
Pemberdayaan 100 Petani Kopi
Tidak hanya fokus pada inovasi material, Bell Living Lab juga bekerja sama dengan satu kelompok petani kopi di Cilengkrang dengan anggota sekitar 100 orang.
| Hari Bumi Jadi Momen Edukasi, Pelajar Diajak Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan |
|
|---|
| Gubernur Jabar dan Kepala Daerah Sepakati Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik Ramah Lingkungan |
|
|---|
| RUPS Tahun Buku 2025 CIMB Niaga Finance, Kinerja Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Ekonomi |
|
|---|
| New Veloz Hybrid EV Resmi Mengaspal, Padukan Kenyamanan MPV dengan Teknologi Ramah Lingkungan |
|
|---|
| Sumedang Perkuat Posisi di Rebana, Dony Dorong Investasi Ramah Lingkungan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Bell-Living-Lab-CIMB-Niaga.jpg)