Sabtu, 13 Juni 2026

Ekspor Jabar ke AS Tembus USD 6,35 Miliar, Pengamat Soroti Dampak Kesepakatan Dagang

Amerika Serikat masih menjadi pasar utama ekspor Jawa Barat dengan nilai transaksi mencapai USD 6,35 miliar. 

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Kemal Setia Permana
Istimewa/DOKUMENTASI BPMI
KESEPAKATAN - Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington, D.C, pada Jumat (20/2/2026). Amerika Serikat masih menjadi pasar utama ekspor Jawa Barat dengan nilai transaksi mencapai USD 6,35 miliar.  

Ringkasan Berita:
  • Amerika Serikat masih menjadi pasar utama ekspor Jawa Barat dengan nilai transaksi mencapai USD 6,35 miliar
  • Kesepakatan dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat dinilai akan berdampak langsung pada kinerja ekspor daerah
  • Kesepakatan itu memberikan kepastian pengenaan tarif dan aturan turunannya antara kedua negara
  • Kepastian tersebut penting bagi pelaku usaha dalam menghitung biaya dan proyeksi ekspor-impor 
  • Dalam kesepakatan tersebut, ditetapkan tarif resiprokal sebesar 19 persen

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Amerika Serikat masih menjadi pasar utama ekspor Jawa Barat dengan nilai transaksi mencapai USD 6,35 miliar. 

Di tengah posisi strategis tersebut, kesepakatan dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat dinilai akan berdampak langsung pada kinerja ekspor daerah.

Pengamat ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan, mengatakan kesepakatan itu pada akhirnya memberikan kepastian resmi terkait pengenaan tarif dan aturan turunannya antara kedua negara. 

Kepastian tersebut, menurutnya, penting bagi pelaku usaha dalam menghitung biaya dan proyeksi ekspor-impor karena memberikan kejelasan bagi pelaku usaha dalam menghitung biaya, pajak, serta proyeksi ekspor-impor ke depan.

Baca juga: Resna Raniadi Pimpin Era Baru Upbit Indonesia, Fokus Ekspansi Lokal dan Edukasi Publik

“Tentu hal ini memberikan kepastian akan besaran pajak dan aktivitas ekspor impor di antara kedua negara,” ujarnya, saat dihubungi Tribunjabar.id, Sabtu (21/2/2026). 

Dalam kesepakatan tersebut, ditetapkan tarif resiprokal sebesar 19 persen. Menurutnya, angka tersebut masih cukup kompetitif untuk menjaga daya saing produk Indonesia di pasar Amerika Serikat.

Selain itu, kata Aknlot, terdapat penghapusan tarif resiprokal untuk sejumlah komoditas unggulan Indonesia seperti kopi, minyak kelapa sawit, rempah-rempah, dan kakao. 

Produk tekstil dan apparel juga memperoleh skema khusus.

"Di sisi lain, hampir seluruh produk Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia turut mendapatkan keuntungan dari pengaturan baru ini." 

Karena itu, Aknolt menilai situasi tersebut tidak sepenuhnya bisa disebut sebagai win-win solution, meski Indonesia tetap memperoleh manfaat dari sisi kepastian tarif dan peluang ekspor.

“Tidak sepenuhnya win-win solution, akan tetapi Indonesia mendapatkan manfaat dari kesepakatan dagang ini,” katanya.

Baca juga: Perumda BPR Bank Cirebon Sudah Ditutup OJK, Kejaksaan: Calon Tersangka Sudah Ada

Bagi Jawa Barat, dampaknya dinilai signifikan. Aknolt menjelaskan, Amerika Serikat masih menjadi negara tujuan utama ekspor.

Perubahan kebijakan tarif akan langsung berpengaruh terhadap kinerja ekspor daerah, terutama untuk komoditas unggulan seperti kopi dan tekstil.

Aknolt melihat adanya potensi peningkatan ekspor dari Jawa Barat, khususnya pada dua sektor tersebut.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
VS
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved