Senin, 20 April 2026

Waspada Predatory Rankings, Jebakan Peringkat Kampus Terbaik yang Menyesatkan

Waspada Predatory rankings membuat universitas tergoda oleh kebanggaan peringkat tinggi tanpa verifikasi.

|
Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/dok. Inspirasi Indonesia
PERINGKAT PERGURUAN TINGGI - Tangkapan layar situs resmi Webometrics menampilkan data peringkat perguruan tinggi Indonesia edisi Januari 2024. (Sumber: dok. Inspirasi Indonesia) 
Ringkasan Berita:
  • Kini, ada fenomena baru lagi, yakni “predatory rankings” alias pemeringkatan predator
  • Lembaga resmi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pun menggunakan sistem pemeringkatan terhadap perguruan tinggi di Indonesia, dengan peringkat Baik, Baik Sekali, dan yang tertinggi adalah peringkat Unggul
  • Masyarakat jangan mudah terbuai oleh data peringkat yang tidak kredibel

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG

Oleh:

Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR

Praktisi media dan kehumasan perguruan tinggi, anggota Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas)

ISTILAH jurnal predator atau predatory journal mungkin sudah sangat dikenal terutama oleh kalangan akademik.

Kini, ada fenomena baru lagi, yakni “predatory rankings” alias pemeringkatan predator.

Fenomena ini berhubungan erat dengan sistem pemeringkatan perguruan tinggi.

Sudah umum bagi perguruan tinggi membanggakan dirinya ketika mendapatkan pengakuan menduduki peringkat papan atas, diakui sebagai jajaran perguruan tinggi terbaik. 

Sudah umum juga media massa memuat artikel semacam “10 Perguruan Tinggi Terbaik Indonesia”, “Top 100 Univeritas Terbaik Nasional”, dan semacamnya.

Masuk peringkat atas memang penting bagi reputasi institusi pendidikan tinggi.

Lembaga resmi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pun menggunakan sistem pemeringkatan terhadap perguruan tinggi di Indonesia, dengan peringkat Baik, Baik Sekali, dan yang tertinggi adalah peringkat Unggul.

Lembaga Pemeringkat Kelas Dunia

Dalam tataran global, ada juga lembaga pemeringkat yang memberikan penilaian dan pemeringkatan pada skala dunia.

Beberapa yang sudah dikenal sejak lama antara lain adalah Scimago Institutions Rankings (SIR), QS (Quacquarelli Symonds), dan Times Higher Education (THE). Ketiganya mengadopsi sistem penilaian yang sejauh ini diakui valid dan kredibel.

Masuk era digital tahun 2000-an, muncul pemeringkatan baru yang berfokus pada paradigma digital khususnya keterbukaan akses dan visibilitas institusi.

Pemeringkatan ini bernama Webometrics Ranking Web of Universities atau singkatnya Webometrics, diluncurkan oleh Cybermetrics Lab, bagian dari lembaga penelitian di Spanyol, Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC). Pencetusnya adalah Dr. (H.C.) Isidro F. Aguillo.

Selama 20 tahun lebih Webometrics perlahan diakui sebagai pemeringkat terpercaya dan terkemuka di dunia, yang memiliki database mencakup puluhan ribu perguruan tinggi dari berbagai negara. 

Aguillo sang inisiator Webometrics pun pernah diundang oleh beberapa perguruan tinggi ternama Indonesia untuk memberikan paparan mengenai sistem pemeringkatan perguruan tinggi kelas dunia.

Webometrics Asli Versus Palsu

Webometrics rutin merilis daftar peringkat perguruan tinggi melalui laman resmi webometrics.info.

Sayangnya, sejak 2025 hingga tulisan ini dibuat, situs webometrics.info tidak lagi bisa diakses. 

Aguillo mengumumkan bahwa per Januari 2025, data resmi Webometrics dirilis melalui platform Figshare.

Platform ini sudah cukup dikenal di kalangan akademisi, khususnya sebagai sarana publikasi ilmiah dan repositori data riset open access.

Tidak dapat diaksesnya situs resmi bernama domain webometrics.info rupanya menimbulkan masalah. Hal ini berdampak mulai dikenalnya situs-situs lain yang bernama domain mirip dan memublikasikan informasi yang mereka klaim sebagai peringkat “Webometrics”.

Dikutip dari tulisan “Puluhan Negara Terjebak Predatory Rankings Tiruan Webometrics” (2026), setidaknya ada tiga situs yang sama-sama menerbitkan daftar peringkat “Webometrics” dengan nama menyerupai webometrics.info.

Ketiganya adalah webometrics.org, webometricsranking.com, dan webometrics.online. 

Ketiganya menampilkan data pemeringkatan yang berbeda-beda.

Dari ketiganya, ada yang secara eksplisit menyatakan bahwa situs tersebut tidak berafiliasi dengan Cybermetrics Lab, CSIC, atau Webometrics yang resmi.

Aguillo melalui akun media sosial secara tegas menyebut situs-situs tersebut sebagai “fake websites with fabricated data” alias situs palsu dengan data fiktif hasil rekayasa.

Penyesatan Integritas Akademik

Masalah berikutnya, situs-situs palsu tiruan Webometrics itu mulai dirujuk sebagai sumber data peringkat Webometrics.

Bahkan, media-media besar Indonesia juga ikut menerbitkan artikel kampus terbaik dengan merujuk pada data dari situs-situs tiruan tersebut. 

Hal ini sungguh berbahaya karena informasi yang menyesatkan dan melukai integritas akademik.

Vladimir M. Moskovkin dalam tulisannya “Predatory University Rankings Jeopardise the Value of Webometrics” (2026) mengemukakan ancaman pemeringkat palsu ini, yang ia sebut sebagai “predatory rankings”.

Ia membandingkan fenomena ini dengan jurnal predator.

Predatory rankings membuat universitas tergoda oleh kebanggaan peringkat tinggi tanpa verifikasi. 

Bahkan, ada situs yang ujung-ujungnya menawarkan jasa perbaikan peringkat, agar peringkat kampus dalam daftar “Webometrics” tersebut bisa naik. 

Bukankah itu artinya celaka dua kali?

Sudah membayar jasa untuk menaikkan peringkat, tapi peringkatnya palsu dan tidak kredibel. Sungguh absurd!

Masih berdampak celaka tiga kali, karena perbuatan itu secara tidak langsung ikut meruntuhkan integritas akademik.

Sungguh-sungguh absurd berlipat kali!

Di sinilah literasi digital dan literasi informasi sangat berperan.

Masyarakat jangan mudah terbuai oleh data peringkat yang tidak kredibel. 

Kalangan kampus jangan mudah tenggelam oleh euforia kampusnya masuk peringkat papan atas tanpa data yang jelas dan valid.

Media massa jangan hanya mengedepankan kecepatan berita tanpa verifikasi yang seksama.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved