Refleksi: Belajar dari Fenomena SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta
SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, yang daftar tunggunya bahkan mencakup anak-anak yang belum memasuki usia sekolah.
Menjaga kualitas berarti menjaga amanah kepercayaan publik.
Setiap tambahan siswa bukan sekadar angka, tetapi tanggung jawab pendidikan, pembinaan karakter, dan masa depan yang dipertaruhkan.
Fenomena antrean panjang ini juga mengirim pesan penting bagi pemangku kebijakan pendidikan.
Persoalan utamanya bukan hanya akses, melainkan ketimpangan kualitas antar sekolah.
Selama mutu pendidikan belum merata, masyarakat akan terus menumpuk harapan pada sekolah-sekolah tertentu yang dianggap paling dapat dipercaya.
Solusi jangka panjangnya bukan memaksa satu sekolah menanggung beban kepercayaan sendirian, melainkan meningkatkan kualitas sekolah secara kolektif dan sistemik.
Penguatan kompetensi guru, tata kelola sekolah yang profesional, serta konsistensi nilai dan budaya pendidikan harus menjadi prioritas utama.
Pada akhirnya, kepercayaan masyarakat yang luar biasa hanya dapat dijawab dengan kualitas yang dijaga secara konsisten.
Bukan dengan memperbanyak bangku, tetapi dengan memperkuat makna pendidikan.
Karena sekolah yang benar-benar besar bukanlah yang paling banyak muridnya, melainkan yang paling bermutu dampaknya bagi generasi masa depan.
*Dari berbagai sumber
**Gozali (Kandidat Doktor Pendidikan Islam)
| Tribun Jabar Bersilaturahmi ke Diskominfo Indramayu, Sepakat Lanjutkan Kolaborasi |
|
|---|
| Kopjas BLM Kolaborasi dengan BPR Indramayu Jabar Salurkan Kredit bagi Pensiunan ASN dan TNI/Polri |
|
|---|
| bank bjb Dukung Pertumbuhan Pedagang Lewat Program bjb Sambang Pasar |
|
|---|
| Pertamina Patra Niaga Regional JBB Beri Bantuan Warga Terdampak Bencana Longsor di Desa Pasirlangu |
|
|---|
| Pertamina Patra Niaga Regional JBB Perkuat Mitigasi Bencana lewat Penanaman 1.300 Pohon Saninten |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Gozali-Kandidat-Doktor-Pendidikan-Islam.jpg)