Senin, 8 Juni 2026

Waspada, Siklus Tahunan Megathrust-Tsunami Bisa Terjadi Lagi di Selatan Jawa, Jeremy: Ini Alarm

Budayawan Tionghoa, Jeremy Huang Wijaya, melihat bahwa potensi bencana megathrust ada di Indonesia yaitu di selatan Jawa.

Tayang: | Diperbarui:
Artificial intelligence
MEGATHRUST - Ilustrasi Artificial intelligence (AI) bangunan dari Benua Atlantis yang hilang atau tenggelam karena gempa besar. Budayawan Tionghoa, Jeremy Huang Wijaya, melihat bahwa potensi bencana itu pun ada di Indonesia, bahkan sangat dekat yaitu di selatan Jawa. 

TRIBUNJABAR.ID - Isu megathrust dan potensi tsunami besar masih terus menjadi bahan penelitian sekaligus perbincangan.

Budayawan Tionghoa, Jeremy Huang Wijaya, melihat bahwa potensi bencana itu pun ada di Indonesia, bahkan sangat dekat yaitu di selatan Jawa.

Jeremy mengutip temuan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahwa di pesisir selatan Jawa pernah berulang kali dihantam tsunami raksasa yang dipicu oleh gempa megathrust dengan kekuatan magnitudo 9,0 ribuan tahun silam.

Menurutnya hal itu harus menjadi alarm bagi masyarakat dan pemerintah untuk selalu waspada karena bencana ini berulang setiap 600-800 tahun.

Dalam sejarah, tercatat beberapa kejadian gempa besar (major earthquake) dengan magnitudo antara 7,0 dan 7,9 yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa yaitu pada tahun 1903 (M7,9), 1921 (M7,5), 1937 (M7,2), 1981 (M7,0), 1994 (M7,6), 2006 (M7,8) dan 2009 (M7,3).

Selanjutnya, gempa dahsyat (great earthquake) dengan magnitudo 8,0 atau lebih besar yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa tercatat pernah terjadi pada 1780 (M8,5), 1859 (M8,5), dan 1943 (M8,1).

Baca juga: Megathrust Benamkan Atlantis, Budayawan Tionghoa Gugah Kesiagaan Melalui Literasi Plato dan Joyoboyo

Jeremy mengatakan bahwa BRIN menjelaskan menggunakan bukti-bukti ilmiah bahwa pesisir selatan Jawa pernah berulang kali dihantam tsunami raksasa yang dipicu gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9,0 atau ribuan tahun silam.

"Bencana itu bukan peristiwa tunggal, melainkan berulang setiap 600-800 tahun," ujar Jeremy, Senin (11/8/2025).

Suhu sekaligus pemerhati budaya Tionghoa, Jeremy Huang Wijaya.
Suhu sekaligus pemerhati budaya Tionghoa, Jeremy Huang Wijaya. (Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama)

Menurut Jeremy, temuan ini berasal dari riset paleotsunami yang dilakukan Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN. 

Hasilnya menjadi peringatan serius bahwa ancaman gempa dan megatsunami serupa masih membayangi wilayah tersebut.

Salah satu temuan kunci riset ini adalah lapisan sedimen tsunami purba berusia sekitar 1.800 tahun, yang ditemukan di berbagai titik seperti Lebak, Pangandaran, dan Kulon Progo.

Tuah Jay Idzes Bawa Keberuntungan Bagi Sassuolo, Klub Tak Rugi Bayar Mahal ke Venezia

"Dikarenakan penyebarannya yang meluas di banyak lokasi di selatan Jawa, jejak ini diperkirakan merupakan hasil dari tsunami raksasa yang disebabkan gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9,0 atau lebih,"

"Pemerintah daerah sebaiknya mulai memanfaatkan data ini untuk menyusun rencana pembangunan yang berwawasan risiko, serta melakukan sosialisasi rutin ke masyarakat,"

"Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono pada tahun lalu mengungkap bahwa gempa di dua segmen megathrust di RI tinggal menunggu waktu," katanya.

Adapun dua segmen megathrust yang dimaksud adalah Zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai Siberut.

Menurut Daryono, kata Jeremy, pernyataan itu untuk mengingat kembali bahwa dua megathrust ini masuk dalam zona seismic gap, yakni zona sumber gempa potensial tapi belum terjadi gempa besar dalam masa puluhan hingga ratusan tahun terakhir. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved