Pakar ITB: Karakter Gempa Bumi Sulawesi Utara Berbeda dengan Megathrust Selatan Jawa
Secara geologi, karakteristik sumber gempa di Sulawesi Utara berbeda dengan yang berada di selatan Jawa.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Seli Andina Miranti
Ringkasan Berita:
- Aktivitas gempa di Sulawesi Utara berbeda karakteristiknya dengan potensi megathrust di selatan Jawa, karena konfigurasi tektonik di Sulawesi Utara–Halmahera lebih kompleks dengan aktivitas vulkanik di dua sisi.
- Kawasan Indonesia Timur memiliki potensi gempa tinggi, terutama di laut, yang bisa memicu tsunami jika magnitudonya besar.
- Dampak tsunami dipengaruhi kondisi geografis pesisir: pantai landai membuat gelombang masuk lebih jauh, sedangkan pantai curam membatasi jangkauan gelombang.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Aktivitas gempa bumi di wilayah Indonesia kembali menjadi perhatian setelah kejadian gempa bumi di Sulawesi Utara yang sempat memicu peringatan tsunami.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat, terutama terkait kesamaan karakteristik gempa di wilayah tersebut dengan potensi megathrust di selatan Pulau Jawa.
Dosen Kelompok Keahlian Geologi Terapan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, Dr. Astyka Pamumpuni, S.T., M.T., menjelaskan bahwa secara geologi, karakteristik sumber gempa di Sulawesi Utara berbeda dengan yang berada di selatan Jawa.
Baca juga: Tsunami Guncang Bitung, Warga Pesisir Pangandaran Diminta Waspada Gempa Megathrust
“Kalau di selatan Jawa itu megathrust-nya panjang dan jarak dari pantai ke palung cukup jauh. Sementara di antara Halmahera dan Sulawesi Utara, itu bukan megathrust dalam pengertian yang sama, tapi sistemnya lebih unik,” ujar Astyka saat dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Menurut Astyka, wilayah antara Sulawesi Utara dan Halmahera memiliki konfigurasi tektonik yang tidak umum.
Di kawasan ini, terdapat aktivitas vulkanik di kedua sisi, yang membuat dinamika lempeng menjadi lebih kompleks.
“Gunung api ada di dua sisi, di Sulawesi Utara dan di Halmahera. Dulu ada dua sistem megathrust, tapi sekarang seperti menyatu di tengah. Jadi palungnya sudah tidak terlihat jelas seperti sebelumnya,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pergerakan lempeng di kawasan ini tetap aktif, meskipun tidak lagi membentuk palung laut yang jelas seperti pada zona megathrust klasik.
“Sekarang dua lempeng itu masih saling mendekat. Itu yang kemudian bisa memicu gempa cukup besar,” tambahnya.
Astyka menegaskan bahwa kawasan Indonesia Timur, termasuk Sulawesi Utara dan Halmahera, memang memiliki potensi gempa yang relatif tinggi.
“Kalau potensi, iya. Indonesia Timur itu memang banyak sekali sumber gempa, terutama yang berada di laut,” katanya.
Gempa yang terjadi di laut menjadi perhatian khusus karena berpotensi memicu tsunami, terutama jika magnitudonya besar.
“Kalau tsunami, yang berbahaya itu gempa besar dan terjadi di laut. Itu dua faktor utama,” jelasnya.
Selain kekuatan gempa, dampak tsunami juga sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis wilayah pesisir.
gempa bumi
Sulawesi Utara
tsunami
Institut Teknologi Bandung
Astyka Pamumpuni
selatan Jawa
megathrust
| Gaduh Lagu 'Erika' Mahasiswa Tambang ITB Diduga Lecehkan Perempuan, JPPI: Ini Bukan Sekadar Candaan! |
|
|---|
| 'Human Error' Jadi Celah, Akademisi ITB Soroti Lemahnya Kesadaran Keamanan Siber di Indonesia |
|
|---|
| Pakar ITB Ungkap Penyebab Dugaan Pembobolan Data Warga Bandung, Sarankan Sejumlah Langkah |
|
|---|
| Soroti Mitigasi Reklame Roboh hingga Pohon Tumbang di Bandung, Pengamat: Ada Masalah Tata Kelola |
|
|---|
| Waspada Cuaca Ekstrem April 2026: BMKG Catat 2 Juta Sambaran Petir dan 111 Gempa di Jawa Barat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Ilustrasi-gempa-1.jpg)