Rabu, 22 April 2026

Demo Pekerja Pariwisata di Gedung Sate

Momen Pejabat Gedung Sate Nonton Staf Biro Kesra Hadapi Sopir Bus yang Ngotot Bertemu Dedi Mulyadi

Perdebatan masa aksi dengan staf Biro Kesra itu pun sempat berlangsung beberapa menit. Sebelum akhirnya masa aksi kembali ke luar area Gedung Sate.

tribunjabar.id / Nazmi Abdurrahman
Staf Biro Kesra Provinsi Jabar dikerumuni massa aksi yang ngotot ingin bertemu dengan Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi saat aksi menuntut mencabut SE tentang larangan menggelar studi tour, Senin (21/7/2025). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Momen miris terjadi saat sejumlah masa aksi dari sopir bus dan kernet Pariwisata ngotot dipertemukan dengan Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi saat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/7/2025). 

Saat itu, masa aksi yang sudah menduduki halaman Gedung Sate sejak pukul 10.00 WIB, tak kunjung ditemui pejabat Gedung Sate hingga siang hari. 

Sekitar pukul 13.00 WIB, datang salah satu staf dari Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) bernama Juan menemui massa aksi. 

Juan datang seorang diri menemui massa aksi yang sudah mulai panas. Juan meminta agar massa aksi bersabar. Semua aspirasi mereka pun, akan disampaikan kepada Gubernur Jabar.

Namun, massa aksi yang sudah emosi, mendesak Juan agar menghubungi Dedi Mulyadi melalui assisten pribadinya.

Juan kemudian mengajak massa aksi ke area dalam Gedung Sate, untuk beraudiensi. Namun, ajakan itu ditolak mentah-mentah. 

Juan pun sempat dikerumuni massa aksi. Di tengah-tengah situasi tersebut, terlihat sejumlah pejabat Pemprov Jabar seperti Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Ahmad Taufiqurrahman dan Asisten Daerah (Asda) bidang Administrasi Umum, Kusmana Hartadji serta sejumlah stafnya yang menonton Juan dikerumuni massa aksi. 

Sopir bus melakukan aksi blokade jalan usai demo di Gedung Sate, 21 Juli 2025.
Sopir bus melakukan aksi blokade jalan usai demo di Gedung Sate, 21 Juli 2025. (tribunjabar.id / Hilman Kamaludin)

Padahal, saat Juan berjalan bersama masa aksi menuju area taman samping kiri Gedung Sate, sempat berpapasan dengan sejumlah pejabat Gedung Sate. Bahkan, jarak antara para pejabat Pemprov Jabar dengan Juan yang tengah dikerumuni massa itu, hanya sekitar sekitar dua meter saja.

Perdebatan antara masa aksi dengan staf Biro Kesra itu pun sempat berlangsung beberapa menit. Sebelum akhirnya masa aksi kembali ke luar area Gedung Sate dan membubarkan diri. 

Biro Kesra sendiri merupakan lembaga yang mengeluarkan surat edaran larangan studi tour untuk sekolah di Jabar. 

Sebelumnya, sejumlah sopir kernet Bus dan pelaku usaha pariwisata di Jawa Barat, mendesak Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi mencabut Surat Edaran (SE), nomor 45/PK.03.03.KESRA tentang larangan menggelar studi tour.

Desakan itu disampaikan dalam aksi unjuk rasa yang digelar, di halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/7/2025). 

Menurut pantauan, aksi itu dimulai dengan iring-iringan bus sambil membunyikan klakson telolet yang diparkiran di kiri dan kanan halaman Gedung Sate.

DEMO PENGUSAHA PARIWISATA - Sejumlah sopir, kernet bus dan pelaku usaha pariwisata di Jawa Barat, melakukan aksi unjuk rasa di halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/7/2025).
DEMO PENGUSAHA PARIWISATA - Sejumlah sopir, kernet bus dan pelaku usaha pariwisata di Jawa Barat, melakukan aksi unjuk rasa di halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/7/2025). (Tribun Jabar/ Nazmi Abdurrahman)

Setelah itu, masa ke kemudian berkumpul di halaman Gedung Sate untuk menyampaikan orasi di atas mobil komando. 

Koordinator aksi solidaritas para pekerja pariwisata Jawa Barat, Herdi Sudardja mengatakan, aksi itu dilakukan karena dampak dari SE yang dikeluarkan pada Mei 2025 telah menyengsarakan para sopir, kernet dan pelaku usaha pariwisata.

"Tuntutan kita itu hanya satu, cabut larangan Gubernur kegiatan studi tur sekolah. Dari sekolah di Jawa Barat ke luar Jawa Barat," ujar Herdi, di Gedung Sate, Senin (21/7/2025).

Pihaknya berharap dapat bertemu langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. 

"Kami sudah melakukan beberapa upaya, termasuk audensi, termasuk para pengusaha dari sektor transformasi pariwisata Jabar, sudah melayangkan surat yang saya dapat info ke Gubernur pada bulan Mei 2025. Saat itu tidak direspon oleh yang bersangkutan oleh Gubernur," katanya.

Herdi pun menilai jika Gubernur Jabar, tebang pilih dalam menemui masyarakat. Sebab, selama ini, Dedi Mulyadi belum pernah bertemu dengan pelaku maupun pekerja usaha pariwisata.

"Gubernur Jabar ini sepertinya ingin bertemu dan selalu memilih oligarki. Dengan si a, si b, katakanlah mau bertemu, tapi dengan pengusaha dari sektor pariwisata tidak mau bertemu," ucapnya.

Herdi pun mengancam akan menggelar aksi lebih besar, jika hari ini Dedi Mulyadi tak menemui masa aksi. 

"Kalau total yang bekerja di sektor ini di Jawa Barat sekitar 8.000. Itu yang formal. Yang informal itu sekitar 5.000. Yang berarti ada 13.000. Yang informal itu saya katakan, karena bekerja di sektor transportasi itu rata-rata informal," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved