Jumat, 22 Mei 2026

Dokter Ingatkan Risiko Lomba Lari dan Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan

Olahraga lari memiliki risiko tersendiri bagi sebagian peserta, terutama mereka yang memiliki kondisi medis tertentu.

Tayang:
putri puspita n
Booth Mayapada Hospital Bandung dalam acara Pocari Sweat Run 2025 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG  -Ajang lari tahunan Pocari Run 2025 kembali digelar di Kota Bandung pada Sabtu dan Minggu, 19–20 Juli 2025. 

Ribuan pelari dari berbagai daerah turut ambil bagian dalam event besar ini. Di balik semangat kompetisi dan gaya hidup sehat yang diusung, ada hal penting yang tak boleh luput dari perhatian peserta, yaitu kesehatan tubuh sebelum dan sesudah berlari.

Direktur Mayapada Hospital Bandung, dr. Irwan Susanto Hermawan, MM, menegaskan bahwa olahraga lari terutama dalam konteks lomba seperti ini memiliki risiko tersendiri bagi sebagian peserta, terutama mereka yang memiliki kondisi medis tertentu.

Dalam kegiatan seperti half marathon, 5K, dan 10K, kata dr. Irwan, ada berbagai faktor risiko yang mungkin terjadi. 

Mulai dari cedera otot, kelelahan karena dehidrasi, kepanasan, hingga kemungkinan serangan jantung akibat kelelahan yang berlebihan.

Baca juga: Mayapada Hospital Bandung Tawarkan Layanan “Chest Pain Unit” Gratis di Ajang Pocari Sweat Run 2025

“Hal-hal yang memang berisiko tersebut, dengan adanya medical check-up atau pemeriksaan berkala dari kesehatan sebelumnya, itu dapat mencegah. Dan terutama dapat memastikan bahwa peserta mengikuti acara lari ini dengan aman dan baik bagi kesehatan dia setelah dia selesai perlombaan, misalkan half marathon, itu cukup jauh 21 kilometer,” kata dr Irwan di Kiara Artha Park, Kamis (17/7/2025).

Oleh karena itu, peserta perlu mengetahui batas kemampuannya serta menjaga kondisi fisik selama menjalani lomba, agar setelah kegiatan selesai, tubuh tetap dalam kondisi sehat dan tidak terganggu akibat beban berat selama berlari.

Masalah seperti cedera otot, seperti kram atau terkilir di tengah perlombaan, harus segera ditangani agar tidak menimbulkan gangguan lanjutan.

“Pastinya segala sesuatu yang terjadi akan memiliki gejala sisa. Jadi misalkan dia kram otot yang berlebihan yang tidak kita atasi segera, maka akan menyebabkan gangguan aktivitas fisik,” ujar dr. Irwan.

Bahkan, risiko terparah seperti serangan jantung pun harus diantisipasi secara serius.

“Kalau terjadi suatu serangan jantung, di mana jika tidak diatasi segera pada saat itu, maka kondisi peserta tersebut mungkin akan mengalami gangguan yang cukup parah untuk dapat melakukan aktivitas normal sebelum dia mengalami serangan jantung tersebut,” lanjutnya.

Menurut dr. Irwan, kegiatan lari seperti ini memengaruhi detak jantung secara signifikan. 

Ketika seseorang ingin berlari lebih cepat, secara otomatis detak jantung meningkat dan bisa memperberat kerja jantung.

Lari itu berarti akan mempengaruhi satu, detak jantung, dan  yang kedua, namanya orang lari maunya ingin cepat. Akhirnya apa yang terjadi? Detak jantung dia meningkat dengan kecepatan yang dia naikin, sehingga akan memperberat beban jantung,” jelasnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved