Dualisme Kebun Binatang Bandung, Pengamat : Verifikasi Ulang Dokumen Pengelolaan

Pemkot Bandung didorong segera berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan dan melakukan verifikasi ulang atas dokumen-dokumen pengelolaan Bandung Zoo.

Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Giri
Tribun Jabar/ Muhamad Nandri Prilatama
LIHAT SATWA - Kebun Binatang Pengunjung melihat satwa di Kebun Binatang Bandung yang dibuka lagi pada Jumat (4/7/2025) setelah pada Kamis (3/7/2025) tutup lantaran ada kisruh internal. 

"Intinya, hari ini kami tak menutup, tapi yang menutup itu manajemen lama. Kalau bisa sih buka ya, karena kami tak ingin pengunjung kecewa. Apalagi ini kan musimnya libur sekolah," katanya.

Terkait satwa-satwa yang diinformasikan beberapa mati, Ully mengaku penyebabnya sebagian besar karena usia dan cuaca, serta sebab lainnya.

"Tapi, itu sudah kami sampaikan ke BKSDA Jabar. Dan sudah diperiksa juga satwanya oleh mereka," katanya.

Humas manajemen lama, Sulhan Syafii, mengatakan, pihaknya datang ke Kebun Binatang Bandung kemarin dan manajemen baru banyak memberdayakan red guard yang membuat pengunjung tak nyaman.

"Kami juga mendatangkan vendor sekuriti Pasopati untuk penebalan. Kalau ada pengunjung dampaknya lebih jelek, maka kami tutup saja dalam rangka jangan sampai pengunjung stres. Kami tutup mungkin hari ini. Semoga hari ini saja, karena kami akan bereskan hari ini," katanya.

Sulhan pun menekankan, bila manajemen baru merasakan legal, maka silakan perlihatkan aktanya sebagai karyawan sehingga berbicara dengan berdasarkan bukti.

Baca juga: Konflik Terjadi di Kebun Binatang Bandung, Para Pekerja Curhat Hanya Ingin Bekerja Nyaman dan Tenang

Mengenai hewan mati, kata Sulhan, ada tujuh sejak 20 Maret 2025, seperti unggas (burung) dan binturong.

Respons Farhan

Mengenai masalah yang membelit Kebun Binatang Bandung, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, seakan sudah angkat tangan. 

Saat ini, pengelolaan Kebun Bintang Bandung terjadi dualisme antara Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) dan Taman Safari Indonesia (TMI), sehingga kondisi ini menyebabkan miskoordinasi dalam perawatan satwa dan berujung penutupan.

Pengelola pun diminta tidak terus berseteru karena Kebun Binatang Bandung merupakan aset Pemkot Bandung, tetapi di sisi lain pemerintah tidak bisa melakukan pengelolaan karena sudah dikelola swasta.

"Iya, makanya saya mengimbau pada manajemen jangan berantem terus. APH sudah turun, pemerintah sudah turun, kurang apa? Ini lama-lama kita capek ngurusnya, karena berantem internal terus," ujar Farhan di Kantor DPRD Kota Bandung, Kamis (3/7/2025).

Farhan mengatakan, pemerintah sudah turun tangan untuk menyelesaikan masalah internal tersebut, namun setelah ada kesepakatan, mereka berseteru lagi.

Baca juga: Satwa di Kebun Binatang Bandung Banyak yang Mati Imbas Dualisme Pengelolaan, Termasuk Beruang

"Tiap kali kita turun, berembuk, ada kesepakatan, kita pulang, terus berantem lagi, berembuk lagi, berantem lagi. Terus masing-masing pihak membawa nama-nama besar. Enggak usah bawa nama-nama besar lah, ini Kota Bandung, sok selesaikan," katanya.

Jika konflik ini tidak selesai, kata Farhan, maka semua orang akan rugi. Bahkan sejauh ini sudah berdampak buruk pada satwa hingga ada beberapa yang mati. Menurutnya, kondisi ini menjadi momen yang paling pas untuk para pengelola menunjukkan tanggung jawab.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved