Rabu, 13 Mei 2026

Mayapada Hospital Bandung Cepat Tanggap Tangani Kasus Serangan Jantung

Serangan jantung berhasil ditangani dengan cepat di layanan Cardiac Emergency Mayapada Hospital Bandung. 

Tayang:
Editor: Siti Fatimah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penyakit jantung koroner saat ini masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Penyakit ini mampu memicu serangan jantung atau dalam medis disebut Sindroma Koroner, sebagian awam menyebutnya ‘angin duduk’.

Kondisi ini sempat dialami oleh pasien wanita berusia 73 tahun dengan gejala angina (nyeri dada) khas serangan jantung.

Namun, pasien tersebut berhasil ditangani dengan cepat di layanan Cardiac Emergency Mayapada Hospital Bandung

Pasien tersebut ditangani langsung oleh Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi di Mayapada Hospital Bandung yakni dr. Dendi Puji Wahyudi, Sp.JP.

Ia menjelaskan bahwa serangan jantung disebabkan oleh tersumbatnya aliran pembuluh darah arteri koroner.

Baca juga: Cara Ampuh Atasi Stroke Sumbatan Ada di Mayapada Hospital Bandung dan Bogor

Pembuluh darah ini mengirim oksigen dan zat-zat makanan ke otot-otot jantung. Tanpa adanya aliran darah, maka otot jantung tidak akan berfungsi sehingga menyebabkan kerusakan otot jantung irreversible (tidak akan kembali normal). 

“Serangan jantung seperti yang dialami oleh pasien ini diawali dengan gejala khas seperti rasa berat atau tertindih, panas, masuk angin, dan sesak di dada kiri atau tengah tidak bisa ditunjuk yang menjalar ke arah bahu/lengan, leher, dagu, belakang dan ulu hati serta disertai basah berkeringat. Keluhan Nyeri dada ini lama kelamaan terasa lebih sakit, sering, dan berlangsung lama sekitar 5-30 menit. Faktor pencetus lain misalnya aktifitas, stres, dan suhu dingin,” kata dr. Dendi.

Menurutnya, serangan jantung dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko seperti usia, gender, dan faktor keturunan.

Faktor pencetus lainnya misalnya, aktivitas, stres, dan suhu dingin.

Oleh karena kondisi tersebut termasuk kondisi gawat darurat jantung, maka harus segera ditangani dengan cepat dan tepat untuk menghindari kerusakan permanen otot jantung bahkan kematian. 

“Penanganan kegawatan jantung ini memerlukan kecepatan dalam melakukan tindakan medis sejak pasien mengalami keluhan hingga ke rumah sakit untuk dilakukan Primary PCI (Percutaneous Coronary Intervention). Tindakan ini harus segera dilakukan dalam rentang periode emas (golden period) yakni 90 menit pertama sejak pasien tiba di IGD. Ini dilakukan untuk menghindari kerusakan otot jantung yang luas,” jelas dr. Dendi. 

Kemudian, pasien menjalani tindakan Primary PCI yang dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah di pergelangan tangan atau lipat paha hingga mencapai pembuluh darah koroner jantung.

Selanjutnya tindakan dilakukan berupaya untuk membuka sumbatan di pembuluh darah koroner tersebut yang umumnya diakhiri dengan pemasangan stent.

Baca juga: Cardiovascular Center Mayapada Hospital Punya Teknologi Canggih Atasi Jantung Koroner Kompleks

“Pada pasien ini, dilakukan pemasangan 2 stent untuk membuka sumbatan pembuluh darah dan mengembalikan aliran darah normal ke jantung,” katanya.

Menurut dr. Dendi, sumbatan pembuluh darah yang ada pasien tidak terjadi begitu saja, melainkan akibat proses penimbunan lemak yang membentuk plak pada dinding pembuluh darah koroner (aterosklerosis) sampai akhirnya menimbulkan gejala.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved