Selasa, 28 April 2026

Meta Akan Stop Cek Fakta, Bagaimana Nasib Media Massa Arus Utama?

Harian Kompas (14/1/25) juga menurunkan tulisan tentang  Rencana Meta Hentikan Cek Fakta Picu Kekhawatiran.  

Editor: Siti Fatimah
(WhatsApp Blog)
Ilustrasi Meta Ai 

Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika berpendapat bahwa penghapusan cek fakta merupakan langkah mundur, karena selama ini cek fakta yang dilakukan telah membantu masyarakat memilah konten keliru yang menyesatkan.  Wahyu menambahkan bahwa hal tersebut juga  tidak terlepas dari kepentingan bisnis dan politik pendirinya, yaitu Mark Zuckerberg.

https://www.kompas.com/cekfakta/read/2025/01/10/111115182/penghapusan-program-cek-fakta-langkah-mundur-meta-lawan-disinformasi?page=all 

Perihal polemik penghapusan cek fakta oleh meta, KOMPAS sudah berupaya menghadirkan informasinya secara komprehensif.

Kolom Cek Fakta di laman Kompas.com juga tetap ada.

Lantas bagaimana dengan media massa arus utama ke depan?

Mari kita lihat dari sisi lainnya, yaitu sisi bisnis arus pendapatan dari media massa mainstream. 

Sekilas memang tidak ada korelasi langsung antara upaya meta tersebut dengan langkah bisnis media massa arus utama.

Tetapi, dikhawatirkan, cara Meta tersebut akan cepat merembet ke bisnis dan pendapatan media arus utama.

Bagi media massa arus utama, dengan adanya catatan komunitas, konten konten jurnalistik yang baik, faktual, mengedepankan independensi dan selalu melakukan kroscek akan bisa ditinggalkan penonton dan pembaca.  

Publik akan lebih percaya kepada para pemengaruh/konten kreator bahkan pendengung terhadap sebuah isu/ fakta/informasi. 

Jumlah klik, views, engagemnet dan subsriber akan menjadikan arena perang para konten kreator dan media massa terhadp suatu isu/fakta/informasi. 

Mereka akan berupaya menghasilkan dan menghadirkan konten konten sendiri yang seolah sahih.  

Bahkan, di sisi lain, para konten kreator berpotensi “menciptakan” para “user generated content” baru yang sebenarnya berafiliasi dengan konten kreator tersebut.  

Langkah Meta ini juga bisa semakin menyuburkan habitat para pendengung yang selama ini menjadi bagian dari penyebaran propaganda melalui konten media sosial yang sebenarnya keliru, tetapi dikemas seolah-olah sahih.

Motif ekonomi, bisnis dan politik, lah yang mendasari penyebaran propaganda ini. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved