Selasa, 5 Mei 2026

Santri dan Pelajar di Takokak Cianjur Harus Tempuh Puluhan Kilometer Akibat Jembatan Putus

Puluhan santri dan pelajar di Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa harus menempuh jarak beberapa kilometer.

Tayang:
Penulis: Fauzi Noviandi | Editor: Giri
Dok. Nadir Muharam Abdurahman
Kondisi jembatan gantung di Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, Rabu (8/1/2025). 

Laporan Kontributor Tribunjabar Kabupaten Cianjur, Fauzi Noviandi.

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Puluhan santri dan pelajar di Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa harus menempuh jarak beberapa kilometer, karena jembatan gantung yang biasa digunakan putus.

Sekadar untuk diketahui, Jembatan Gantung Leuwi Taris penghubung antara Desa Waringinsari dan Desa Wargasari, Kecamatan Kadupandak, itu terputus akibat fondasi jembatan tergerus akibat meluapnya aliran sungai pada Kamis (26/12/2024).

Kepala Desa Waringinsari, Nadir Muharam Abdurahman, mengatakan, Jembatan Gantung Leuwi Taris belum bisa digunakan warga untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

"Sebelum terputus, biasa jembatan itu digunakan santri ke pondok pesantren, dan beberapa pelajar bersekolah, serta masyarakat yang hendak menjual hasil bumi," ucap Nadir saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (8/1/2024).

Baca juga: Limbah Medis Berceceran di Jembatan Citarum Penghubung Bekasi-Karawang di Rengasdengklok

Akibatnya, lanjut dia, puluhan santri dari Kecamatan Kadupandak yang hendak ke ponpes di Desa Waringinsari harus menggunakan akses jalan yang lebih jauh.

"Mereka (santri) dan para pelajar tersebut harus menempuh jarak hampir sejauh 20 kilomter, dengan waktu tempuh dua jam lebih," katanya.

Selain itu, Jembatan Gantung Leuwi Taris juga sering digunakan masyarakat Waringinsari untuk berobat ke mantri di Kecamatan Kadupandak yang waktu tempuhnya hampir 15 menit.

"Kalau warga yang memang harus berobat jalan ke mantri tersebut pun terpaksa harus menggunakan akses jalan lain juga dengan jarak tempuh yang lebih jauh. Selain itu jembatan itu suka digunakan masyarakat untuk menjual hasil bumi," katanya.

Nadir mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Cianjur.

Baca juga: Jembatan Putus Diterjang Banjir, Pelajar di Sukabumi Kembali Pertaruhkan Nyawa Terjang Sungai Deras

"Berdasarkan hasil koordinasi dengan Disperkim Kabupaten Cianjur, belum bisa melakukan perbaikan, karena masih fokus untuk merelokasi warga terdampak pergerakan tanah," ucapnya.

Ia mengatakan, belum ada kejelasan dari Disperkim Kabupaten Cianjur terkait perbaikan jembatan gantung tersebut. Namun hanya menyebutan perbaikan pada 2025.

"Disperkim hanya bilang tahunnya saja, karena itu pemerintah desa (pemdes) dengan warga sepakat memperbaiki jembatan secara swadaya. Jadi warga bergotong royong, sedangkan desa menggunakan dana talangan," ucapnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved