Cerita Dibalik Keviralan Kafani ''Pocong'' di Bandung, Berangkat dari Keresahan Datangnya Ajal
seringkali kain kafan tidak tersedia di masjid, RT, atau bahkan di rumah masing-masing, apalagi saat malam hari ketika keadaan mendesak.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Yoka, pemilik sekaligus CEO Kafani, menyadari betul bahwa kematian bisa datang kapan saja, dan salah satu kebutuhan yang sering terlupakan dalam proses pengurusan jenazah adalah ketersediaan kain kafan.
Menurutnya, seringkali kain kafan tidak tersedia di masjid, RT, atau bahkan di rumah masing-masing, apalagi saat malam hari ketika keadaan mendesak.
Hal ini menjadi keresahan tersendiri bagi Yoka, yang melihat ketidaktahuan banyak orang tentang cara mendapatkan kain kafan dengan mudah dan cepat.
Keterbatasan toko yang menjual kain kafan serta minimnya informasi tentang ketersediaannya di masyarakat mendorong Yoka untuk menghadirkan solusi lewat Kafani, sebuah perusahaan yang menawarkan kain kafan berkualitas dengan sistem pemasaran yang lebih modern.
Kafani berusaha mengedukasi masyarakat dan menjembatani kebutuhan akan kain kafan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga mudah diakses.
Di pasar, kain kafan sering kali dijual dengan berbagai jenis, harga, dan kualitas yang bervariasi. Pihaknya menawarkan kain kafan dengan harga mulai dari Rp300.000 hingga Rp790.000 ribu.
Baca juga: Kisah Unik Kafani, UMKM Penjual Kain Kafan asal Bandung yang Viral di TikTok
“Yang membedakannya dengan produk serupa di pasaran. Yang menarik, Kafani tidak hanya menawarkan kain kafan dengan bahan yang tebal dan berkualitas, tetapi juga paket lengkap yang memudahkan keluarga dalam menghadapi proses pemakaman,” ucapnya.
Dalam setiap paket yang dijual, Kafani menyediakan kain kafan dalam bentuk yang sudah siap pakai, lengkap dengan perlengkapan lainnya yang diperlukan, sehingga memudahkan siapapun yang memerlukannya.
Selain kualitas produk yang unggul, packaging atau kemasan yang ditawarkan Kafani juga menjadi salah satu daya tarik utama.
“Dengan desain kemasan yang menarik dan praktis, kain kafan Kafani mudah disimpan dan dibawa, bahkan dalam keadaan darurat sekalipun,” imbuhnya.
Menurutnya, packaging yang modern ini juga menjadi pembeda yang jelas dibandingkan dengan produk sejenis di pasaran, yang cenderung tidak memikirkan aspek kemasan dengan matang.
Yoka biasa memasarkan produk yang dijualnya secara digital di garasi rumahnya, di daerah Arcamanik, Kota Bandung.
Melalui sistem pemasaran digital yang mempermudah konsumen dalam mendapatkan informasi dan membeli produk.
Dengan memanfaatkan platform digital, Kafani bisa menjangkau lebih banyak orang, bahkan di daerah yang sulit dijangkau oleh toko fisik.
| Ngulik AI for Leaders, Strategi Pemkot Bandung Perkuat Kepemimpinan Berbasis Data |
|
|---|
| Wakil Ketua DPRD Soroti Banjir Rancabolang yang Terus Berulang Tanpa Solusi |
|
|---|
| Survei Litbang Kompas Pada Kinerja Wali Kota Bandung, 65,9 Persen Puas dan 81,4 Persen Optimistis |
|
|---|
| Banjir Rancabolang yang Terus Berulang Disorot, Kehadiran KCIC dan Whoosh Jadi Salah Satu Penyebab |
|
|---|
| Sulitnya Tangani Banjir di Bandung Timur, Farhan: Di Kabupaten Bandung Arah Tegalluar Juga Banjir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Cerita-Dibalik-Keviralan-Kafani-Berangkat-dari-Keresahan-Datangnya-Ajal.jpg)