Minggu, 12 April 2026

Digitalisasi Ekonomi Rakyat Melalui QRIS Meningkat Pesat

Berdasarkan data BI Jawa Barat, hingga Agustus 2024 sudah ada sekitar 11 juta pengguna QRIS di Jaw Barat.

tribunjabar.id / Nazmi Abdurrahman
Mira Wantina (30) melakukan pembayaran satu mangkuk bakso menggunakan QRIS  

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penggunaan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) sebagai salah satu metode pembayaran non tunai, semakin banyak digunakan. Penggunanya pun bukan hanya pengusaha menengah ke atas. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun mulai akrab dengan QRIS.

Kamera ponsel Mira Wantina (30), menyorot lembaran kertas dengan gambar berpola QRIS yang ditempel pada gerobak bakso. Setelah muncul nama pemilik akun di layar ponsel, Mira memasukkan angka pada kolom nominal pembayaran.

Mira membayar satu porsi bakso Malang seharga Rp.15 ribu, menggunakan metode pembayaran QRIS yang disediakan pedagang bakso. 

Setelah pembayaran dengan metode QRIS itu berhasil, Mira memperlihatkan layar ponselnya yang dibalas dengan anggukan kepala dari si pedagang. 

Transaksi nontunai itu, disediakan pedagang bakso gerobak keliling di perumahan Rajasanagara, Ciwastra, Kabupaten Bandung, Jumat 8 November 2024.

Mira mengaku lebih suka menggunakan QRIS untuk melakukan transaksi, karena lebih praktis. 

”Ribet aja kalau bawa uang cash, Kalau QRIS cukup bawa handphone saja,” ujar Mira.

Eki (28) pedagang bakso gerobak keliling,
mengaku sudah setahun lebih, menempelkan QRIS di gerobaknya. Eki merupakan warga asli Singajaya, Kabupaten Garut yang merantau ke Bandung untuk berjualan bakso gerobak keliling. 

Diawal-awal jualan, Eki kerap mendapat komplain dari pembelinya karena hanya menyediakan transaksi secara tunai. 

“Pada protes, katanya ribet tidak bisa pakai QRIS,” ujar Eki. 

Dari situ, Eki mulai mencari tahu penggunaan QRIS sebagai alternatif pembayaran bagi para pelanggannya.

“Di Singajaya (Garut) mah, belum banyak. Jadi, nanya sama teman sesama pedagang di sini, ternyata sudah banyak yang pakai juga,” katanya.

Sepanjang November 2024, pembayaran nontunai yang diterima Eki sudah lebih dari Rp 500 ribu. Dihitung dari harga jual satu mangkuk bakso Rp.15 ribu. Artinya, sudah ada sekitar 30 kali transaksi nontunai. Jumlah ini, termasuk besar untuk ukuran pedagang keliling di wilayah Kabupaten Bandung.

"Yang bayar langsung (cash) juga masih ada," ucapnya.

Bagi Eki, transaksi nontunai menjadi cara baru menabung dari sebagian keuntungannya. Ia ingin menyimpannya selama beberapa bulan, kemudian diambil.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved