Digitalisasi Ekonomi Rakyat Melalui QRIS Meningkat Pesat
Berdasarkan data BI Jawa Barat, hingga Agustus 2024 sudah ada sekitar 11 juta pengguna QRIS di Jaw Barat.
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penggunaan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) sebagai salah satu metode pembayaran non tunai, semakin banyak digunakan. Penggunanya pun bukan hanya pengusaha menengah ke atas. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun mulai akrab dengan QRIS.
Kamera ponsel Mira Wantina (30), menyorot lembaran kertas dengan gambar berpola QRIS yang ditempel pada gerobak bakso. Setelah muncul nama pemilik akun di layar ponsel, Mira memasukkan angka pada kolom nominal pembayaran.
Mira membayar satu porsi bakso Malang seharga Rp.15 ribu, menggunakan metode pembayaran QRIS yang disediakan pedagang bakso.
Setelah pembayaran dengan metode QRIS itu berhasil, Mira memperlihatkan layar ponselnya yang dibalas dengan anggukan kepala dari si pedagang.
Transaksi nontunai itu, disediakan pedagang bakso gerobak keliling di perumahan Rajasanagara, Ciwastra, Kabupaten Bandung, Jumat 8 November 2024.
Mira mengaku lebih suka menggunakan QRIS untuk melakukan transaksi, karena lebih praktis.
”Ribet aja kalau bawa uang cash, Kalau QRIS cukup bawa handphone saja,” ujar Mira.
Eki (28) pedagang bakso gerobak keliling,
mengaku sudah setahun lebih, menempelkan QRIS di gerobaknya. Eki merupakan warga asli Singajaya, Kabupaten Garut yang merantau ke Bandung untuk berjualan bakso gerobak keliling.
Diawal-awal jualan, Eki kerap mendapat komplain dari pembelinya karena hanya menyediakan transaksi secara tunai.
“Pada protes, katanya ribet tidak bisa pakai QRIS,” ujar Eki.
Dari situ, Eki mulai mencari tahu penggunaan QRIS sebagai alternatif pembayaran bagi para pelanggannya.
“Di Singajaya (Garut) mah, belum banyak. Jadi, nanya sama teman sesama pedagang di sini, ternyata sudah banyak yang pakai juga,” katanya.
Sepanjang November 2024, pembayaran nontunai yang diterima Eki sudah lebih dari Rp 500 ribu. Dihitung dari harga jual satu mangkuk bakso Rp.15 ribu. Artinya, sudah ada sekitar 30 kali transaksi nontunai. Jumlah ini, termasuk besar untuk ukuran pedagang keliling di wilayah Kabupaten Bandung.
"Yang bayar langsung (cash) juga masih ada," ucapnya.
Bagi Eki, transaksi nontunai menjadi cara baru menabung dari sebagian keuntungannya. Ia ingin menyimpannya selama beberapa bulan, kemudian diambil.
| Pengalaman Belanja Mancanegara Semakin Menyenangkan Dengan Adanya QRIS Luar Negeri |
|
|---|
| Warga Serbu 3 Mobil Kas Keliling BI di Purwakarta, Penukaran Uang Maksimal Rp5,3 Juta |
|
|---|
| Ekonomi Global Melambat 2026, BI Jabar Soroti Tantangan dan Peluang Investasi AI |
|
|---|
| 3 Lokasi dan Jadwal Penukaran Uang Baru 2026 Bank Indonesia Periode 2 di Kota Bandung |
|
|---|
| 9 Lokasi Kas Keliling di Jawa Barat yang Layani Penukaran Uang Baru Bank Indonesia Periode 2 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Mira-Wantina-30-melakukan-pembayaran-satu-mangkuk-bakso-menggunakan-QRIS.jpg)