Sabtu, 25 April 2026

Manfaatkan Lahan Tidur, Petani Muda di Pangandaran Dapat Berkah, Panen Tomat hingga 3 Ton

Saat petani padi gagal tanam, mereka yang mayoritas petani muda ini berhasil berkebun tomat hingga bisa menghasilkan 1 kwintal dalam sekali petik.

Penulis: Padna | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/ Padna
Suasana saat sejumlah petani muda di Desa Ciganjeng Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran memanen buah tomat 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Petani di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mendapat rezeki dengan memanfaatkan lahan tidur.

Mereka menyulap lahan tidur dengan luas sekitar 1 hektar menjadi kebun tomat yang kondisinya terlihat tumbuh subur dan segar.

Saat petani padi gagal tanam, mereka yang mayoritas petani muda ini berhasil berkebun tomat hingga bisa menghasilkan 1 kwintal dalam sekali petik.

Tomat yang dipanen, mereka jual ke rumah Makan, Pasar, ke jongko-jongko tempat menjual sayuran di wilayah setempat.

Baca juga: Petani Kapulaga di Pangandaran Senang karena Panen, Tapi Sayang Harganya Turun

 Penggagas Petani Muda di Ciganjeng, Ade Kusnandar mengatakan, sebelum musim penghujan pihaknya memanfaatan lahan tidur dengan ditanami tomat.

"Alhamdulillah, sudah 4 hari kita bisa memanen buah tomat. Sekali petik, rata-rata kita dapat 1 kwintal," ujar Ade kepada Tribun Jabar di Ciganjeng, Minggu (3/11/2024) siang.

Memilih menanam tomat karena dari mulai tanam hingga petik tidak memerlukan waktu yang cukup lama.

"Kita hanya butuh waktu cuman 65 hari dari tanam hingga petik. Sedangkan masa panen itu bisa hingga 20 kali petikan," katanya.

Kalau selama 20 kali dipanen, artinya bisa mendapat tomat sebanyak 3 sampai 5 ton.

Lumayan dan pemasarannya pun tidak begitu kesulitan.

"Harganya per kilogram hanya Rp 5 ribu untuk kondisi tomat yang masih segar-segar," ucap Ade.

Kordinator POPT Kabupaten Pangandaran, Nanang nurdiansyah mengatakan, terkait pengendalian hama penyakit pada tanaman tomat saat ini tidak terlalu rumit.

Baca juga: Pasangan Syakur-Putri Dapat Dukungan dari Petani Kapulaga pada Pilkada Garut 2024

Karena, kondisi iklim tidak mendukung untuk perkembangan hama penyakit. 

"Budidaya toman saat ini, memang terbilang bagus. Namun harganya masih murah karena mungkin produksinya sedang banyak," ujarnya. *

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved