Kamis, 16 April 2026

Berkaca dari Konser Sheila On 7, Event Organizer Curhat Sulitnya Bikin Event di Kota Bandung

para pelaku ekonomi kreatif mengungkapkan berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam menyelenggarakan acara di Kota Bandung

istimewa
diskusi antara para penggiat event dan calon Wali Kota Bandung, Arfi Rafnialdi, di Kopi Tera Burangrang, Minggu (29/9/2024). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Rencana konser band legendaris Sheila On 7 yang awalnya dijadwalkan berlangsung di Kota Bandung harus pindah lokasi ke Kabupaten Bandung, beberapa hari lalu. Kejadian ini menjadi sinyal bahwa Kota Bandung mungkin belum sepenuhnya siap menjadi tuan rumah untuk acara besar seperti itu.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi antara para penggiat event dan calon Wali Kota Bandung, Arfi Rafnialdi, di Kopi Tera Burangrang, Minggu (29/9/2024).

Dalam kesempatan tersebut, para pelaku ekonomi kreatif mengungkapkan berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam menyelenggarakan acara di Kota Bandung, terutama dibandingkan dengan kota-kota lain yang dianggap lebih mudah dalam hal perizinan dan dukungan.

Gio Atap, Humas Backstagers – sebuah gabungan Event Organizer (EO) dengan Nomor Induk Berusaha di Jawa Barat, mengungkapkan bahwa banyak penggiat event merasa frustrasi dengan kesulitan yang terus mereka hadapi di Kota Bandung.

“Penggiat mengeluhkan hal itu sejak lama. Namun, kami memandang, terus terjadi pembiaran dari pemerintah atas keluhan tersebut. Andai kata Bandung memang sebagai kota kreatif, pemerintah mesti melakukan penajaman, misal dengan memasukkan dukungan konkret dalam visi, misi, maupun implementasinya," kata Gio setelah diskusi.

Menurut Gio, pemerintah daerah harus berperan layaknya seorang "bapak" yang mampu mengoordinasikan berbagai pihak untuk mendukung penyelenggaraan acara. Ia menyoroti kurangnya visi dan keseriusan dari pemerintah sebelumnya dalam mendukung sektor ekonomi kreatif, yang merupakan tulang punggung perekonomian Kota Bandung.

"Masih sebatas sampingan, bukan yang utama. Padahal, ekonomi kreatif yang menghidupi Kota Bandung," tegasnya.

Gio menambahkan, selama kepala daerah tidak serius menangani masalah ini, para pemangku kepentingan lainnya juga akan cenderung mengabaikan sektor ekonomi kreatif. Namun, jika kepala daerah memiliki visi yang jelas, ia yakin seluruh pihak terkait akan lebih memperhatikan kebutuhan para pelaku kreatif.

"Sejauh ini, branding kota tak jelas, mencla-mencle. Selaku pelaku ekonomi kreatif, kami terombang-ambing," lanjutnya.

Gio juga menyinggung soal kajian yang pernah dilakukan tentang citra atau branding Kota Bandung. Hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pandangan beragam mengenai citra Bandung, mulai dari kota fesyen, kota kreatif, hingga kota angklung.

Kajian tersebut mengidentifikasi ekspektasi pemangku kepentingan untuk branding kota yang umum, familier, mencerminkan kreativitas masyarakat, serta mendukung UMKM secara berkelanjutan.

Dalam menutup diskusi, Gio menyampaikan harapannya kepada Arfi Rafnialdi untuk dapat merealisasikan visi Bandung sebagai kota kreatif melalui regulasi yang jelas. “Kami menyerahkan amanah itu ke Kang Arfi. Mangga (silakan), menerjemahkan itu menjadi regulasi nanti,” ucapnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Arfi Rafnialdi setuju bahwa sinergi antarpemangku kepentingan sangat penting untuk menciptakan kenyamanan dalam penyelenggaraan event di Kota Bandung.

Dia menyebutkan, prakarsa dalam mendukung event bisa menjadi salah satu program prioritas dalam 100 hari pertama pemerintahannya jika terpilih bersama pasangannya, Yena.

“Kegelisahan itu terpicu lagi, kembali naik ke permukaan setelah konser Sheila On 7 pindah ke luar Kota Bandung. Sayang, padahal secara infrastruktur, semestinya Kota Bandung lebih siap. Dan kita kehilangan potensi ekonomi," ujar Kang Arfi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved