Minggu, 26 April 2026

Pilkada Jabar 2024

Kunjungi Museum Kebudayaan Tionghoa, Dedi Mulyadi Sarankan Digitalisasi Museum

Dedi pun menceritakan bahwa saat dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta, konsep museum digital sudah pernah diterapkan.

tribunjabar.id / Nazmi Abdurrahman
Calon Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi saat berkunjung ke Museum Tionghoa, di Jalan Nana Rohana, kota Bandung  

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bakal calon Gubernur Jabar nomor urut empat, Dedi Mulyadi berkunjung ke Museum Kebudayaan Tionghoa, di Jalan Nana Rohana, Kota Bandung, Sabtu (28/9/2024). 

Dedi datang ke Museum menggunakan pakaian khasnya, kemeja dan celana putih. Lengkap dengan iket kepala sunda. 

Di sana, Dedi diajak berkeliling oleh pengurus Museum. Melihat sejarah dan perjuangan masyarakat Tionghoa di Kota Bandung

Selesai keliling, Dedi menyebut jika konsep museum yang ada di Yayasan Dana Sosial Priangan ini harus di digitalisasi agar menarik minat generasi muda.

"Kalau manual seperti ini anak muda gak begitu tertarik, sehingga ke depan di 2025 museum ini harus berubah menjadi museum digital, termasuk semua museum yang ada di Jawa Barat," ujar Dedi Mulyadi, Sabtu (28/9/2024).

Baca juga: Hasil Survei Terkini Pilkada Jabar 2024 Dua Hari Kampanye Dedi Mulyadi Masih Unggul

Dedi pun menceritakan bahwa saat dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta, konsep museum digital sudah pernah diterapkan. Museum digital, kata dia, membuat pengunjung bisa lebih mudah mendapatkan informasi dan tidak membosankan.

"Jadi, nanti setiap ruangan bisa menggambarkan peristiwanya sendiri, dan pengunjung bisa interaktif dengan bahan media yang disiapkan di dalam museum," katanya.

Selain keliling museum, Dedi pun sempat melihat klinik kesehatan YSDP yang berada di samping museum. 

Di sana, Dedi mengajak komunitas Tionghoa untuk berkolaborasi mewujudkan gagasannya dalam menggabungkan pengobatan tradisional dengan modern.

Hal tersebut, kata dia, sudah banyak dilakukan di sejumlah rumah sakit luar negeri termasuk China. Di sana, kata dia, orang bisa bebas memilih untuk berobat secara tradisional atau modern.

"Sehingga masyarakat mendapatkan dua pilihan, dan dua metode pengobatan itu bisa saling menyempurnakan antara pengobatan dengan unsur kimiawi dan tradisional yang biasanya herbal," ucapnya.

Selama ini, kata dia, teknik pengobatan modern dan tradisional kerap dianggap bersebrangan. Ke depan, Dedi ingin keduanya bisa berkolaborasi untuk kesehatan masyarakat.

"Sekarang saatnya diramu dan disatukan demi kebaikan semua," katanya.

Sementara itu, Koordinator kegiatan Masyarakat Tionghoa Peduli (MTP) Herman Widjaja mengaku mendapat banyak masukan, terkait apa yang harus dilakukan oleh etnis Tionghoa di Indonesia.

"Kang Dedi juga tadi cerita terkait pengembangan 'tourism' dan pendidikan. Selain juga masukan tentang perekonomian ke depan di Indonesia," ujar Herman.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved